Hari Ibu... Kemanusiaan Perempuan

Ditetapkannya hari ibu pada tanggal 22 Desember yang tanggalnya diambil dari hari pembukaan Kongres Perempuan Indonesia pertama, 22–25 Desember 1928 di Yogyakarta pertama kali diusulkan adalah Hari Perempuan. Sebab tidak semua perempuan menjadi ibu, walaupun semua ibu adalah perempuan. Tapi pemerintah menetapkannya sebagai Hari Ibu, domestifikasi terhadap perempuan yang kadang bikin deg-deg an~

Kongres tersebut menekankan pentingnya perempuan menjadi subjek penuh sistem kehidupan agar tidak mengalami aneka bentuk ketidakadilan gender, seperti perkawinan anak, rendahnya pendidikan, poligami, dll.

Perempuan sebagai subjek penuh sistem kehidupan ini sejalan dengan ajaran Islam. Inilah konsekuensi dari Tauhid dan Amanah Kekhalifahan manusia di muka bumi sebagai ajaran terinti dari Islam. Dalam masyarakat al-abawi (patriarkhi), Tauhid dan amanah kekhalifahan manusia berarti perintah untuk memanusiakan perempuan, memuliakan ibu adalah salah satunya.

Rasulullah SAW mengingatkan, "Laa thaa'ata limakhluqin fi ma'shiatil Khaliq, innamath thaa'atu fil ma'rufi."

Bahwa ketaatan pada makhluk itu bukan taat pada figur, melainkan pada nilai, yaitu kebaikan. Pagar pembatas ketaatan pada sesama makhluk adalah kebaikan, tidak menerjang maksiat atau hal yang dilarang Allah.

Dalam kajian gender Islam, sistem sosial al-abawi (patriarkhi), tauhid memiliki kekuatan pembebas yang revolusioner bahwa perempuan tidak boleh menghamba pada laki-laki. Sebaliknya, laki-laki dilarang keras memperlakukan perempuan sebagai hambanya. Keduanya, dilarang keras membangun relasi penghambaan. Kita (perempuan-laki2) hanya menghamba pada Allah! Begitulah cara kita saling menolong dalam kebaikan dengan menolak menghamba pada Dzat selain Tuhan.

Manusia sebagai Khalifah

Sebagai manusia, laki-laki dan perempuan sama-sama mengemban amanah sebagai khalifah fil ardl. Misinya adalah mewujudkan kemaslahatan seluasnya di muka bumi. Ajaran ini juga mengandung konsekuensi revolusioner pada sistem al-abawi (patriarkhi). Jadi ingat bahwa perempuan juga khalifah bukan sumber fitnah!

Amanah kekhalifahan menghendaki laki-laki dan perempuan sama-sama aktif bekerjasama wujudkan kemaslahatan mencegah mafsadat dalam sistem kehidupan. Keduanya wajib ikhtiar wujudkan kemaslahatan sekaligus sama-sama berhak menikmatinya, baik dalam perkawinan, keluarga, masyarakat, negara, dunia bahkan surga.

Perempuan; ibu bumi ibu kehidupan

Perempuan adalah ibu kehidupan. Perintah berbakti pada kedua orangtua pada surat Luqman ayat 14, menerangkan:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ“

"Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada orang tuanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kalian kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku lah kalian kembali”

Jangan menyempitkan Hari Ibu hanya dengan menghormati ibu mu. Hormati setiap perempuan sebagai ibu kehidupan, pengasuh peradaban tanpa pengecualian. Kakak mu, Bibi mu, adik mu, nenek mu, sepupu mu, juga kawan perempuan mu. Sama halnya dengan laki-laki adalah bapak kehidupan.

Khusus untuk Mamah di rumah, sejeli apapun saya mencari tak pernah ada patah hati yang kau beri untuk kami. ❤️

Selamat Hari Perempuan, kemanusiaan bagi perempuan! Perempuan ditekan, perempuan Melawan!

Tasikmalaya, 22 December 2020

Another Day of Pain


Berulang kali aku menghindar. Atmosfir ini berasa kompetisi debat yang apa saja bisa jadi bahan persoalan. Berebut menang dalam setiap pembahasan. Membekukan segala apa yang pernah membara. Tanpa pendakian, tanpa jalan-jalan liar yang justru paling aku butuhkan.

Saat waktu menjatuhkanku pada cinta, waktu juga menarik paksa diriku pada pisah yang tak pernah kuminta. Ratusan malam kuhabiskan hanya untuk bersiap menghadapi perpisahan, dan kesiapan pun tak pernah tampak.

Kita berdua tahu, terus bersama tak akan membawa langkah kita kemana-mana.

Disinilah kita. Menunggu selesai sebelum sampai.

Sebelum mimpi mengambil alih dan bulan termakan pagi, harus kuucapkan satu kalimat yang begitu membebani lidah.

"Pergilah. Bekal semua yang pernah menjadi bahagia."

Barangkali itu yang kau butuhkan, legalitas untuk segera lepas bebas.
Sayang... berbahagia lah kau tak lagi punya 'batas'.

Tasikmalaya, 19 December 2020

Selamat bertambah usia juga, tumbuh mendewasa.

Filosofi Perempuan (10)


Perempuan itu jatuh cinta dengan pelan tapi dalam. Semoga manisnya pria tidak cepat hilang.
Bagi perempuan, pelukan itu prosesi. Jangan cuma peluk lalu lepas tanpa meninggalkan arti.
Tapi sebab budaya patriarki, banyak perempuan yang merasa kalo bersuara itu sangsi.

Tasikmalaya, 16 Desember 2020

Why Compatibility is More Important Than Chemistry

One of the biggest mistakes we have is that we completely confuse compatibility and chemistry. See we struggle to find out whether we have compatibility, connection, chemistry, or a spark with someone because most of our visions of those things are brought by media; book, music, movies, etc we consume.

One of the biggest pressures we make in our relationships is that we expect the one to be only one.
We want our partner to be the most philosophical discussion we have.
We want them to be the most fun person in the world.
We want them to be the most active, energetic and caring person in the world.
We want them to be everything.

BUT GUESS WHAT?

They can't be everything and neither can you.

The first, principle of compatibility is communication style and approach figure out early, even if you have a different communication style, how you want to communicate about your problems. How you want to communicate about your challenges. And how you want to communicate about the good things.

The second, principle of compatibility is personal goals.

Having similar personal interests is important, but it's not just about liking the same things. It's about being in a similar place in life. Meaning that you're looking forward and if you've chosen to be with someone who isn't at the same stage in life, whether they're ahead and behind you have to recognize what that takes.

The third, the principle of compatibility is honest and comfort in expressing one self.

If you're with someone where you can't be honest or expressing yourself, you've packing that all in you're congesting it and suppressing it, internally.
That's going to explode one day, at the point. And sometimes we made it seems like our partner can't deal with it, when actually when we take that step and do it in the right way, things change.

Sometimes it's just in our heads that we can't share it with them. When we actually do it makes a big difference. So, don't get caught up in just wanting chemistry. Don't just get caught up in wanting the spark and the joy.

Listen! I'm not saying it shouldn't be there, I'm not saying it doesn't exist. I'm saying that there is more to it. Chemistry is such powerful force that many us confuse it with compatibility and we think that if doesn't have chemistry it's not going to work.

Tasikmalaya, 13 December 2020

Menjadi Tempat Pengungsian Dari Setiap Kesepian

 
Hidup antara memiliki dan menjadi. Kadang kita bisa menjadi tempat pengungsian bagi kesepian orang lain namun lebih sering juga kita mencari tempat pengungsian kepada orang lain. Lari daripada kesepian masing-masing.

Setiap dari yang bernyawa pasti pernah memiliki pengalaman keterasingan diri (merasa asing terhadap diri sendiri). Anehnya, tak sedikit orang yang lebih (seolah) mengenal orang lain ketimbang dirinya sendiri. Itu lebih bahaya, karena orang demikian bisa menjadi pemicu hingga menjadi Hakim untuk manusia lain~ Hey! siapa kita?

Sebenarnya apa yang menjadi kebutuhan paling mendasar dari umat manusia? Sudah banyak pemikir-pemikir besar sebelumnya yang mencoba merefleksikan jawaban yang beragam sesuai perubahan zaman masing-masing. Marx mengistilahkan sepi dengan "alienasi", Fromm menyebutnya dengan istilah "dilema eksistensial" pula Rumi memaknai kesepian dengan "pelenyapan diri" dan masih banyak lagi istilahnya dari Al-Ghazali, Ali Syariati, Nietzsche juga om-om filsuf yang lain.

Betul, kita memang lahir dan mati sendiri tapi ndak bisa manusia hidup seorang diri. Misalnya saya juga, tidak mau mati dalam kesepian.~ Tapi, sama seperti cinta yang tak bisa kita pilih: apakah kita yang akan jatuh cinta? Atau justru membiarkan cinta memilih kita?. Kesepian pun begitu, orang tak bisa memilih kapan ia akan sepi, pada waktu keberapa ia akan terasa asing. Beda sama pergantian siang dan malam yang kita ketahui persis catatan jamnya. Selain di keramaian, sepi juga bisa selamanya.

Kesepian berbeda dengan kesendirian, jadi dari keduanya sebenarnya apa yang menjadi kebutuhan dasar kita sebagai manusia?

Bagi saya, kebutuhan yang paling mendasar dari umat manusia adalah penyatuan agar kita terbebas dari penjara kesunyian. Penyatuan secara relasi vertikal (habluminallah) dan horizontal (habluminannas). Pengalaman keterasingan diri, bisa menjadi penyebab utama kecemasan dan keputus-asaan serta hilangnya suatu harapan. Selain sandang-pangan sebagai kebutuhan materiil dan kebutuhan spiritual (imateriil)

Pula dalam konteks ke-indonesiaan, negeri ini masih sangat membutuhkan effort yang keras untuk mewujudkan sila ke-3 (Persatuan). Saya ucapkan juga selamat Hari Peringatan HAM Internasional 10 Desember kemarin. Pesan saya satu, jangan merenggut, mengurangi, mencederai hak orang lain, jika kita juga tidak mau haknya dilanggar. Baik personal maupun kelompok (negara sekalipun). Udah, ini bukan catatan webinar Refleksi 72 Tahun HAM kemarin 😆

Setiap orang tentu punya cara yang berbeda untuk memenuhi kebutuhan akan penyatuan ini. Akan tetapi, dari sekian banyak penelitian satu-satunya cara yang benar-benar berhasil adalah melalui tindakan mencintai. Cinta adalah hasrat yang paling hakiki. Ia merupakan kekuatan yang menjaga ras manusia tetap dalam kebersamaan…

Tanpa cinta kemanusiaan tidak akan pernah ada. Pikirkan dengan sungguh-sungguh!.

Ketika cinta adalah seni. Maka mencintai ialah keterampilan yang harus dipelajari juga dipraktekkan dalam kebiasaan sehari-hari secara aktif. Jika Indonesia, jika kita tidak bisa bersatu dalam Iman, maka tidak ada alasan untuk bercerai-runtuh dalam kemanusiaan. Keperdulian, tanggung jawab, rasa hormat, pengetahuan dan adab saya rasa adalah elemen dari cinta.

Pejabat yang korupsi, sebab ia tidak memiliki cinta yang murni untuk negaranya.
Mereka yang selingkuh (curang), sebab ia tidak mengetahui makna cinta secara utuh.
Malas beribadah, sebab kita tidak mengenal cinta yang sungguh kepada Sang Khaliq.
Suka mencela, pandai berbohong, membangkang terhadap orangtua dan guru, itu karena kita kekurangan cinta!.

Cinta itu aktif, cinta itu memberi, cinta itu membuka diri. Cinta itu melepaskan keangkuhan diri, cinta dapat memperkaya kesejatian diri, cinta tidaklah didasarkan pada kebutuhan yang mementingkan diri sendiri, melainkan pada penyatuan bersama semesta.

Ana mau berbagi magic:
"Mulai hari ini, jangan lagi takut pada rasa sendiri dan sepi. Catatlah banyak kalimat, semoga lepas rasa gundah keluar sedikit pikiran dalam bentuk paragraf."

Tasikmalaya, 11 Desember 2020

Titikberat 20+


Manusia... wajar merasa kalah selepas patah, padahal itu bukan masalah sebab semua dari kita terlanjur pernah. Begini...
Kadang sesuatu bisa tetiba pergi tanpa menyirat arti.
Merasa dikhianati padahal kita sendiri yang mengamini konsekuensi.
Yang paling buruk adalah menghitung beri, kita menganggap bahwa dengan begitu sakitmu bakal terobati.
Pula tentang hukuman (atau berniat dendam), ku kira itu bukan solusi. Bukannya bagi sesiapa saja yang hendak dewasa -kesadaran diri- adalah kunci?. Jadikan itu sebagai konsiderasi!.

Kebajikan sejati tidak memberimu kepuasan dengan membalas lawanmu secara pantas. Percayalah kau akan puas saat mampu mengatasi kewalahanmu atas kalkulasi masalah. Untuk apa menelusuri keadaan orang-orang yang pernah melemparimu dengan caci, memandangmu dengan sinis atau mencurigai setiap tindak-tundukmu di publik? Sayang... jangan terpicu benci! Aku menangis demi apapun yang bisa membuat mu sakit.

Kepada putri sulungnya, di suatu sore Bapak berpesan: "Teteh... Kapan hirup teh kudu malapah gedang" makna filosofisnya ialah hidup harus bertahap; perlahan; selesai dari satu menuju satu yang lain. (Al-Insyirah). Gedang dalam bahasa sunda berarti pepaya, secara teknis gedang yang tua lah yang jatuh masak duluan lalu pepaya muda menyusul matang. Dalam politik praksis kita mengenalnya dengan istilah 'konsolidasi'. Perlu kesabaran tapi sebagai siyasah itu ajib tenan, hingga saat  kau sudah bersiap terang kau tak perlu memadamkan sinar yang lain. Tidak menyakiti perasaan manusia lain.

Kita akan meraih, hanya dengan cara-cara yang benar. Kenakalan dan kekanakan akan berhenti hanya dalam hati.
Memilih dan menanggungnya dengan bijaksana pula pikiran-pikiran yang senantiasa terbuka. Ah! menyenangkan betul masa muda 'ada banyak hal yang kita pahami hanya saat kita sudah siap menerima dan tumbuh mendewasa.'
Misal pada suatu masa, kau jumpai ada orang yang berbohong, ikuti saja permainannya. Tak perlu mengkonfrontasinya, cukup tahu saja kadang jadi pilihan yang tepat. (Habis itu hempaskan! Wkwk) selera lha yak~

Tidakkah Tuhan begitu pemurah dengan memperpanjang jangka waktu kita di dunia? Menikmati isinya bersama orang-orang yang kita cintai pula mencintai kita apa adanya. Keberkahan tak terhingga.
Mencintai kemanusiaan di zaman yang menarifkan telinga dengan mahal hanya untuk mendengar, seakan jadi pekerjaan yang sukar dilakukan. Mulai sekarang coba biasakan diri untuk belajar memahami tidak cukup hanya mengerti.

Maukah kau bertahan? Apapun halangannya?

Welcome december; you are the last one, so be the best one.

Tasikmalaya, 3 Desember 2020

Pada dia yang pergi, tanpa pernah menyapa lagi.


Aku berada di ruangan tempat biasa ia duduk dan bercerita. Mengingat apa yang terjadi hari itu, aku mengenangmu dengan penyesalan. Aku terlanjur mengatakan hal yang sebenarnya aku tidak yakin dengan kebenarannya. Mengingat mu menjadi hal yang (sesekali) menyakitkan. Namun, bukankah akan lebih menyakitkan jika justru kau bertahan dengan kenangan yang bahkan sudah ku lupa. Akan semakin pilu, jika kau terus menunggu. Jauh bijaksana misal kita saling mengingat dalam kebaikan, pelajaran, dan manfaat saja bukan sebab marah atau cerita sebal sedih lainnya.

Rindu seringkali menjelma jadi basa-basi. Sembunyi pada apapun yang sedang ia cari. Hingga akhirnya ia menemukan jalannya sendiri. Namun, agaknya akan berbeda jika rindu tertuju pada nama yang tak mungkin kembali. Pada dia yang sudah pergi, tanpa pernah mau menyapa lagi.

Aku tahu, dalam sehari ada jutaan manusia menjalani banyak peran. Cuma tak habis pikir saja dengan sosok yang mampu menjadi kekasih bagi lebih dari satu hati. Untuk jatuh cinta saja, aku percaya itu harus dilatih! Proses menuju satu frekuensi. Mustahil sekali lihat langsung cinta lantas menerima seluruhnya. Jika itu terjadi, besar kemungkinan, kau hanya jadi kaset rekaman yang sedang ia putar dari warisan rasa hubungan sebelumnya. Uh!

Hikmahnya, dimasa sekarang jika kita terlalu cepat bergerak maka tidak masalah untuk menepi sejenak. Berikan lebih banyak waktu untuk berbenah. Tak usah tergesa-gesa, waktu akan membuat mu berubah. Jangan hanya berdiam diri, pergilah dan temui orang-orang yang tahu kenapa manusia hidup harus saling menghargai.

Sesekali jumpai aku sebagai wujud apapun, biar sebagai bilahan papan pinggir ringroad selatan sekalipun tak apa. Kau ingat itu sudah luar biasa.
Memang, manusia Tuhan beri makna seraya melepaskan dengan tega.

Bilang saja saat rindu, sesempatmu. Sama seperti mu yang datang saat perlu aku juga begitu, pergi hanya untuk mengejar perlu. Ini bukan tanah basah bekas hujan kemarin, sedikit banyak kita terlatih. Jika bukan karena kemanusiaan, kita dilatih dengan Iman. Good friendships are transformative, right?

And last but not least... Dear, everyone 💌
Kepada setiap yang pernah.
Kita harus berterima kasih kepada mereka-mereka yang hanya sebatas hampir.
Berterima kasih kepada mereka yang sekedar mampir.
Berterima kasih kepada mereka yang gagal membersamai.
Berterima kasih kepada mereka yang setia menemani meski tidak dimiliki.
Berterima kasih kepada mereka yang sepintas dan tak tuntas.
Berterima kasih kepada mereka yang berhenti lalu pergi.
Berterima kasih kepada mereka yang bahkan selesai sebelum dimulai.

Salam,
Dari setiap kita yang pernah menjadi; dua asing yang sempat saling.

Tasikmalaya, 6 November 2020