Showing posts with label phylo. Show all posts

Selamat berkurang usia, Ayang 🤍

Akmal sedang naik angkot menuju sate maranggi dekat rumah yang ternyata pas sampai udah tutup permanen 🙏🏻

Hari ini, orang yang paling kutunggu kepulangannya, yang video call nya membuatku bersemangat dan menyenangkan setiap kali bersamanya, sekaligus orang yang paling sering menjadi sasaran keisengan kecilku itu berulang tahun gais.
Aku merasa, menikah dengannya adalah salah satu keputusan paling masuk akal yang pernah kubuat, meskipun setelah itu konsekuensi logisnya adalah suamiku lebih sering sibuk mengurus umat daripada mengurus dirinya sendiri.
Begitulah suamiku.
Orang yang tinggi ilmu dan luas kesabarannya tetapi tidak pernah merasa perlu berdiri lebih tinggi dari orang lain. Banyak membaca, banyak berpikir, banyak berdiskusi, dan tetap selalu bertanya menggali hal-hal baru kepada siapapun yang ia jumpai, dimanapun.
Ada kalanya sebagai kekasih hati aku ingin protes. “Yang… yang… kadermu iki memang banyak, iki loh istrimu cuma satu.” Tapi yaaa mau diapa, barangkali memang begitulah cara Tuhan membentukmu. Memberimu hati yang tidak pernah cukup hanya untuk dirinya sendiri.
Kehidupanmu sebagian besar kauhabiskan untuk sesuatu yang lebih besar daripada dirimu lalu pulang dengan tubuh lelah namun isi kepala tidak pernah rehat. Persis “Crowded seperti perempatan lampu merah New York”.
Selamat ulang tahun, suamiku. My 24/7 human-diary. Tempat semua cerita akhirnya pulang. Tentang hari yang menyenangkan. Tentang orang yang menyebalkan. Tentang hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting namun hampir pasti kuceritakan. Tentang mimpi-mimpi yang belum selesai. Tentang rencana yang terlalu banyak. Tentang masa depan yang kadang terlihat terang, sering juga merasa hidup sesekali muram. Dia mendengarkan semuanya. Manusia biasa kesayanganku yang kepadanya aku tidak perlu menjelaskan terlalu banyak yang penting ada bagiku itu sangat berharga.
Ada semacam paradoks yang menyenangkan dalam dirinya; kepalamu sering berada di antara peta-peta besar kehidupan, namun hatimu tetap tinggal di tempat yang sederhana. Mungkin itu yang membuatku betah. Sebab dunia sudah cukup banyak dipenuhi orang yang ingin terlihat hebat. Aku justru beruntung mendapatkan seseorang yang tidak terlalu sibuk terlihat hebat, tetapi diam-diam menghabiskan hidupnya untuk melakukan banyak hal baik meski gak keliatan.
Ditengah banyak rencana yang akan berubah karena hidup memang senang membuat kejutan. Aku tahu satu hal, Aku ingin tetap berada di dalam hidupmu. Saat semuanya berjalan sesuai rencana, maupun ketika semuanya mungkin berantakan. Saat kamu sedang percaya diri, maupun ketika kamu mulai meragukan segalanya. Saat kita sedang punya banyak uang untuk jalan-jalan, maupun ketika akhirnya perjalanan harus berhenti karena “saldo anda tidak mencukupi”.
Selamat berkurang usia, suamiku. My favorite kongkow partner. My personal comedian. And absolutly my forever travel buddy. Semoga Allah selalu memberikanmu kesehatan, lahir dan batin. Semoga ilmu dan pengalaman yang kamu miliki semakin menjadi cahaya, bukan tumpukan beban. Semoga langkahmu dalam mengurus dan membersamai umat selalu diberi kelapangan. Semoga mimpi-mimpi yang selama ini kamu simpan satu per satu menemukan jalannya untuk menjadi kenyataan. Dan kalau nanti semuanya tercapai, jangan lupa aku ikut merasa punya saham di dalamnya. Saham mencintai dan mengasihi 😆
I’m always be on your team!
Bukan karena kamu selalu benar (jujur itu klaim yang berbahaya untuk dibuat oleh seorang istri), tapi karena setelah sekian banyak perjalanan, aku tahu kamu adalah orang yang ingin terus kupilih.
Hari ini, besok, dan seterusnya.
Happy birthday, Ayang.
I love you, forever and beyond. 💋
Jakarta, 22 September 2026

Marriage Life 6 (Unicorn "Fantasi Yang Mustahil")

Apa yang membuat seseorang cocok berpasangan? Latar belakang ekonomi yang sama? Cara pandang terhadap politik yang serupa? Sama-sama punya daya tarik? atau pola asuh yang mirip? misal: sama-sama dari "keluarga besar yang berbahagia." Artinya, Persepsi yang kita butuhkan "untuk punya keluarga besar yang berbahagia" tak melulu harus pernah melihat atau membuktikannya.
 
Apakah yang miskin, kecanduan wanita, berlatar cara pandang arogan, manipulatif dan pemakai narkoba dapat mendapatkan pasangan yang sebaliknya? Kira-kira orang seperti apa yang mau bersama dengan entitas tersebut?
Apakah berkencan adalah suatu kalkulasi? Bagaimana dengan cinta? Seperti apa rasanya berelasi dengan seseorang yang under qualified? Pernah ada yang bilang, "rasanya seperti menjadi orangtua". Akui saja. Lelahkan? 😂
 
Bisakah kita membenci pasangan yang berkualifikasi rendah? Atau justru dengan memiliki pasangan yang demikian, kamu perlahan membenci dirimu sendiri? "Aku ingin membuatmu bahagia" dan "ya! itu cukup membuatku merasa berbahagia". Dari sanalah biasanya datang kebencian; dari kemiskinan, penderitaan, pesakitan, dan ketidakmampuan.
Pernah kah kamu melihat itu dari orangtua mu? Sebab umumnya anak-anak meniru cara orangtuanya berbahagia dan bertengkar.
 
Sekarang gantian, kapan kamu mulai menyukai pasangan mu? Apakah saat mereka membayar tagihan mu? Dengan cepat. Tanpa ragu. Tanpa takut. Banyak diluar sana yang berhasil mendapatkan unicorn "fantasi yang mustahil" atau pasangan idaman yang sempurna orang menyebutnya. Meski peluangnya kecil mereka saling bersabar dan menemukan.... Dan dapat!

Mereka yang memiliki kecerdasan, pendapatan yang ideal, pendidikan ideal, gaya hidup yang ideal, tinggi ideal, rupawan, tubuh bagus dan menawan, dilahirkan, dibesarkan dan masih mewariskan kekayaan. Sempurna untuk setiap kategori. Paket komplit tanpa diskon. Misal sekarang kamu sudah bersama pasangan yang plusnya lebih banyak dari plus mu, berarti selera nilai mu sama dengannya. 

Menurut mu, apakah orang-orang dengan ciri tersebut masih butuh "mahar" sebagai kompensasi kategori dari pasangannya? Jika tidak, bagaimana perhitungan "ketulusan" itu berlangsung? Siapa dan dimana marketnya? Apakah paket mahar komplit tersebut kamu butuhkan? Meski kamu berada di leverage yang sama.

Bapak ku pernah berpesan, "kelak kalau kamu mau berpasangan dan menikah, terimalah laki-laki yang memahami bagaimana dunia bekerja biar tidak miskin! Dia yang akan selalu kamu hormati dengan begitu dia akan selalu hati-hati, yang kamu percayai, yang membuat mu merasa aman dan nyaman, dan harus pandai sepertimu. Jangan bersama seseorang hanya karena aset material, karena memungkinkan kamu salah menghitung nominalnya. Selain itu, nilai aset material murah dan tak bertahan lama". Apa jangan-jangan Bapak ku jelmaan Ronald Dworkin~

Appa tenang, aku selalu menjadi ratu di kerajaan ku sendiri! Tidak menikahi raja di kerajaan orang lain hanya untuk menjadi ratu. Akan kujaga kerajaan kami biar tetap jaya di dunia sampai akhirat.

And yaaa... Bersama Akmal, aku mewujudkan aset tak berwujud ku!. Tidak menurun nilainya malahan semakin ku pertajam. Lagian sebelum menikahinya pun aku sudah melengkapi diriku dan cukup untuk kami berdua. Semoga menerus menjadi rekan berkasih sayang, mengamalkan cinta yang realistis juga bersetia. Jika boleh ku definisikan, bersama Akmal itu seperti bersama bapak ku. Aman, nyaman, berharga, bebas, kalau sudah mencintai seseorang tak ada lagi kalkulasi. Cinta yang rasional and persona yang potensial.

Cinta Akmal di usia muda yang penuh romansa, beralih bentuk menjadi cinta yang rasional berupa tanggung jawab dalam perkawinan. Tiada cinta yang bisa diikat tanpa perkawinan: dalam ikatan saja masih bisa bubar apalagi relasi tanpa kesepakatan se-iya - se-kata di hadapan Tuhan dan negara.

So, apa sebenarnya yang membuat dua manusia cocok satu sama lain? Apakah sesuai thesis awal: persamaan ekonomi, agama, selera, politik? atau ada hal lain seperti aku dan suamiku. 

Yogyakarta, 16 Februari 2026

Marriage Life 1 (Love is a drugs)

"Kebahagiaan rumah tangga is not about perfection, it's about connection."

I’m happy to share how I took what I learned from living my best life to connect the dots for the person I love. In fact, all I want to do is share what I’ve learned. Another update on my married life.

Love is a drugs
"Love is a drugs." Begitu kata orang-orang. Dopamin, oksitosin, adrenalin. Kita hanya bisa menikmatinya dengan perasaan yang saling. Bukan yang paling. Coba tutup matamu dan rasakan... (Siapa yang otakmu gambarkan?). Namun, kadang bagi sebagian orang hal ini hanya terjadi di masa lalu. Bagi sebagian yang lain, perasaan mabuk itu dimilikinya saat ini. Nyata. Versi dirimu yang lain yang hanya bisa kamu dan dia yang tahu. 

Sebetulnya, saya bingung bagaimana menyampaikan means of "Love is a drugs" dalam bahasa cinta. Namun bagiku, itu semacam perasaan "saat kau disembah di singgasanamu".

Cinta berwajah banyak. Sesekali ia berupa lelucon garing yang membuat mu merinding tapi membuat mu tetap tertawa terbahak-bahak. Hal-hal yang lebih banyak memberimu ketenangan. Seperti doa khutbah di hari Jum'at atau mencium tengkuk aroma tubuh pasangan mu. Lalu kamu merasa tenang-aman.

Cinta ialah perangai yang menunjukkan rapuhnya emosi dan lemahnya hatimu tanpanya. Sekaligus kekuatan bersama untuk sesama bertahan. Bagi temanku, barangkali cinta adalah "berantem malam hari seperti musuh bebuyutan tapi subuh hari bangun langsung keramasan." 😂🤣Berkali-kali menunggu bangun setelah terlelap. Love is a magical process.

It led me to a question I've been batting around in my head for years now and have recently been coming to close grips with through a number of personal experiences and interactions with others. When will good enough be good enough? You are innately valuable because you exist.

Good husband good life - Happy wife happy life!

My marriage is overall great!. We have our problems like everyone. Finances usually a big one. But we work through it as a team on everything. Even, we've only been married 7 months but if there is any advice I can give to someone or a couple who is having trouble in the marriage is make sure your suppose is your best friend. Have fun with them and above all else, tell the truth. 

John M. Gottman, psikolog dan peneliti hubungan mengatakan banyak faktor yang pasti berkorelasi bagaimana sebuah keluarga bisa stabil, bahagia dan langgeng. Dalam project penelitiannya yang disebut "Lab cinta", Gottman menemukan bahwa hubungan yang paling stabil dan bahagia dalam jangka panjang adalah ketika kita berbagi kekuasaan dengan pasangan. Saling menerima pengaruh. Pastikan rasa hormat kepada satu sama lain turut diikutsertakan pada saat mengambil keputusan. Seperti: memiliki anak, dimana akan tinggal, dll.

We didn't have much money, but we used to dream together. Especially, about education. He was himself an entire world I got to explore, there are still many places that have not been visited, before finally returning to the creator of life, Allah Ta'ala. But, heyyyy lots of sweet memories, no regrets. Or no big regrets. All love is yours!

Love and prayers,

Sena.

Yogyakarta, 31 May 2023

Keping Lain Jiwaku


Jiwa...
Pada akhirnya, peranmu ialah tempat pulang setenangnya.
Tanpa kekasih tanpa keluarga.
Kamu bisa mencipta segalanya disana.
Biarkan orang berlalu-lalang diluar saja.

Jiwa;
Selalu memelukmu lebih lama dari sengaja.
Bersetia hadir menguatkan mu penuh cinta.
Senantiasa mendoakanmu sedalamnya.
Tidak mencari hanya saat perlu saja.
Mustahil pergi meski kau usir jua.

Yaa Rabbi...
Engkaulah yang ubahnya bebatuan menjadi berlian: ubahlah aku.
Engkaulah yang mengubah malam gelap menjadi terang: senangkanlah hatiku.
Engkaulah Maha Pemelihara kehidupan: sembuhkanlah luka ku. 

Mata yang terbuka;
Hati yang tertata;
Kesadaran yang sempurna.

Aku hari mu;
Kau malam ku;
Nyalar menyelimutiku.

Pada setiap tulisanku, terdapat satu keping jiwaku.
Pesakitan membawamu dalam sujudmu.
Bayangkan, Tuhan mengusap kepala mu sambil berkata:
"Coba lagi, kali ini bersamaKu"

Berbahagialah jiwa;
meski cara milik mu jauh lebih sederhana.
Semoga engkau selalu raya.

Love and prayers,

Sena.

Tasikmalaya, 3 Juli 2022

My Liberation Notes


"Freedom is not a secret. It’s a practice."

Tadi malam, aku bermimpi jatuh!
Dikejar-kejar masa kecilku sendiri.
Waktu terjaga, Aku menemukan dua.
Lututku berdarah!

Ini mengingatkanku:
Suatu hari di usia sembilan belas tahun.
Dan satu tahun lalu sebelum sekarang.
Tubuhku jatuh tersandung bayanganku sendiri.

Ternyata Ibu ku benar;
"sesuatu tak mesti nyata untuk bisa melukai kita.”

Tidak mudah menerima kenyataan dirimu penuh lubang. Berapa besar kemungkinan lubang-lubang itu memberi tempat bagi burung-burung bersarang? Berapa besar kemungkinan kehadiran dirimu mengingatkanmu kepada ketidakhadiranmu?

Jika di suatu persimpangan, entah di mana, masa kecilmu duduk menangis karena tersesat, berapa besar kemungkinan kau masih mengenalinya? Berapa besar kemungkinan dia tidak bertambah sedih menyadari kau masa depannya? Berapa besar kemungkinan kau bisa tumbuh nan tangguh dari semua jawaban yang kau punya sekarang?

Tiga minggu kebelakang, Ana merasa banyak sekali melewatkan hal-hal yang (mungkin) sebenernya rugi jika ku lewatkan... Hal-hal kecil yang barangtentu menjadi "jeda" dari sekedar rutinitas kita sebagai manusia. Merasakan betul fungsi setiap indra dalam tubuh. Mempertebal sens of feel yang membedakan kita dengan artificial intelligence masa kini.

Ana selalu bekerja dan atau mengerjakan sesuatu menyesuaikan dengan waktu. Mengerjakan setiap pekerjaan tidak hanya tepat waktu tapi juga kadang sampai terburu-buru. Lebih cepat... Lebih cepat. Sialnya, gak cuma soal kerjaan! Ana merasa usia ini nyaris kehabisan waktu. (Gilssssss)

Mei, Ana tutup dengan membaca buku yang sungguh menggugah daya baca. The originals judulnya by Adam Grant. Buku yang berisi +-300 halaman tersebut Ana selesaikan 11 hari setiap sebelum tidur. Kemudian, ada satu moment yang (sekali lagi) baru ku sadari bahwa langkahku selalu cepat, semakin cepat dan fokus terhadap hal-hal yang ku genggam (responsibility) dan akan ku genggam berikutnya. Selalu seperti itu. (Mau deh sekali-kali jadi guling - lha kenapa guling si Seeenn!)

Moment yang Ana maksud itu tak lebih dari wangi aroma kopi yang ku seduh Senin pagi minggu lalu sebelum bekerja. Padahal biasanya juga begitu, tapi gak tahu kenapa pagi itu wangi aroma kopi yang khas seolah terapi yang menyadarkan saya, lalu menjadi bekal semangat menjalani hari sebagai manusia biasa.

Hal-hal yang ku tahu:

1. Thank you.

Ana mau berterima kasih kepada orang-orang yang sudah memberikan cinta dan kasihnya untuk ku. Di masa lalu, sekarang atau kalian yang selalu memilikinya tanpa pernah memberitahu ku. Thank you so much from the bottom of my heart. Ana juga minta maaf atas apapun yang tidak pernah terbalas. Satu dua nama muncul begitu saja di kepala.

Semoga kalian Tuhan limpahi banyak cinta 💝 Berbahagialah dengan panjang. Terima kasih telah hidup dengan sebaik yang bisa kamu lakukan.

Ada banyak rupa kiamat kecil. Kiamat tidak harus kerusakan alam, atau berakhirnya usia. Kadang ia berupa; Kebelet berak saat presentasi. Bertemu orang dijalan yang tidak mau kamu sapa. Atau kehilangan atensi dari seseorang yang pernah sangat dekat denganmu.

Dan kamu tahu - Hanya orang yang pernah kehilangan yang tahu rasanya kehilangan. Ada perasaan perih di dada kiri. Tapi ada yang lebih sesal dari pada kehilangan, yaitu berpisah dengan seseorang tanpa sempat dia membicarakan bagaimana perasaannya. (Meskipun bagiku, perpisahan enaknya ya sat set. Tapi ternyata tidak bagi seperempat manusia di bumi ini). Mereka lebih butuh banyak waktu. And it's okay dengan syarat perpisahan mu adalah perpisahan yang layak.

There’s a time you hurt someone you care about because you know what’s best for them and it’s not you. There are so many times in our lives that our hearts will break.

2. I love you.

Ku pikir setiap hubungan pasti punya konsekuensi yang sama. Katakanlah, komitmen. Sepasang, harus komit terhadap segala hal yang telah disepakati bersama sedari awal. Tidak boleh curang ataupun wanprestasi. Bagaimana jika itu terjadi? Pasti terjadi dalam hal-hal kecil atau yang lebih prinsipil. Jawabannya adalah, "atur-atur kalian aja lah enaknya gimana. Pake win-win solution."

Nyawa sebuah hubungan bagiku adalah keberpihakan. Berpihak hanya pada satu. Dari sanalah sepasang belajar prioritas membangun hubungan. Tidak bijak menurut ku hubungan yang di dalamnya terdapat intervensi yang lain. Bahkan keluarga. Sebab yang menjalankannya juga sepasang - kalo lebih dari Dua namanya jamaah. That's why, namanya Undang-undang Perkawinan, bukan Undang-undang kerja kelompok.

Apapun yang baik yang sedang kau cicil, disana juga Ridho ku bermuara. Apapun yang menjadi rintangan, berdua kita selesaikan. Dimanapun kelak kita tinggal, bersamamu saya bersemayam.

3. Yang kubaca

Dari perjalanan rumah tangga Chairil Anwar, kita bisa belajar bahwa rumah tangga bukan sebuah rumah logika tanpa logistik. Idealis boleh, asal jangan apatis. Apalagi sampai lupa kalau kebutuhan keluarga (anak dan atau istri) ndak bisa dipenuhi hanya lewat narasi-narasi di ruang hampa.

Appa Dan Guyonannya.

(Appa mau bilang begini nanti ke suami mu)

"Nak, mulai sekarang simpanlah foto istrimu di dompet. Dan setiap engkau bertemu dengan masalah di kehidupan setelah pernikahan ini, bukalah dompet dan lihatlah foto istrimu. InsyaAllah masalahmu akan terasa ringan."

"Hah? Kenapa begitu?" (Kutanggapi biasa aja)

"Seiring waktu, suami mu akan paham apa yang Appa bilang ni. Karena itu juga yang Appa lakukan dulu bahkan sampai sekarang. Masih menyimpan foto Mamahmu di dompet. Saat ada masalah besar melanda, misal kerjaan menumpuk, usaha (bisnis) gak berjalan, atau diamuk atasan, Appa langsung membuka dompet lalu melihat foto Mamahmu. Ajaib, setelah itu masalah Appa terasa ringan.

"Sebab?" (Ku tanya sedikit lebih penasaran)

"Karena bagi Appa tidak ada masalah yang lebih berat ketimbang dimusuhin orang yang ada di foto itu."

Gubraaaaakkkkk 🤣

Love and prayers,

Sena.

Tasikmalaya, 1 Juni 2022

Untuk Kekasih...

 

"Kerinduan selalu menapaki jalan, menuju mu"

Sayang, Ana ndak tahu kamu sedang apa, merasakan bagaimana, apakah hari mu hari ini menyenangkan atau justru orang-orang masih annoying seperti biasa?

Ana harap kamu tidak sedang dalam rasa lapar, bersedih hati, kehujanan, gundah-bingung, atau begadang tak bisa tidur sebab mengerjakan banyak tugas dan atau hanya sedang memikirkan bagaimana menyelesaikan tanggung jawab-tanggung jawab yang mustahil habis as long as we are still breathing - still alive.

Ga-pa-pa... kamu ndak sendirian, setiap dari kita yang bernyawa - setelah kematian pun nanti masih dan akan terus bertanggung jawab atas apa-apa yang pernah kita dapat disini.

Ana menulis pesan ini, biar bisa kamu baca kapan saja - selamanya. Selama blog ini masih ada berbeda dengan penulisnya yang bisa Tuhan ambil dari mu kapan saja. Sayangku, ini bukan seperti amaran, pesan ini ku tulis sebagai senandung kasih agar kau (kita) tetap terjaga. Terjaga dari segala hal duniawi yang menggoda.

Alih-alih bulan suci Ramadhan, kesempatan untuk semakin memperluas cinta, cinta ilahiyah. Cinta sebagai sifat dan wujud batinnya Tuhan. Begitu juga Ana, percaya bahwa cinta merupakan asas dan legal standing daripada keimanan. Tanpanya, kita akan rapuh dan mudah runtuh.

Di lain hal sayangku, dalam mencapai rahasia pesan ini jalan cinta melengkapi jalan pengetahuan. Cinta membuat dorongan. Dorongan menimbulkan kehendak, hasrat dan kerinduan. Demikian ia menggerakan manusia berikhtiar sekuat tenaga dengan segala kemampuan yang ada.

Seiring perjalanan kita tumbuh - tidak mungkin ada kekasih yang menginginkan kekasihnya celaka. Tidak ada kerelaan untuk penderitaan kekasih. Cinta memiliki kekuatan transformatif. Merubah jiwa seseorang menjadi lain. Kekuatan merubah keadaan jiwa manusia yang negatif menjadi positif. Ditengah suasana yang diliputi keputus-asaan, cinta yang transendental selalu menunjukkan jalan ketentraman.

Syekh Ahmad Hatif menuturkan, "jika kau menyerahkan segenap yang kau miliki pada cinta ilahiyah, kau tak akan kehilangan sedikit pun dari yang kau miliki."

Sayang, kau menyaksikan betapa jiwa kita berubah. Ana berkeinginan menyaksikan "waktu" dari segala sesuatu yang tidak bertempat, membuang sempitnya dimensi hidup duniawi, maka kita akan mendengar juga menyaksikan apa yang mungkin sebelumnya kita pernah sangsikan.

Ana selalu berdo'a:
1. Semoga jenis cinta yang kamu miliki adalah cinta yang membebaskan diri mu dari rasa terpisah dan kesebatangkaraan diri. Membawa rasa damai dan kecukupan pada jiwa mu.
2. Semoga cinta yang kamu miliki adalah cinta yang intuitif. Memberi keimanan secara teologis. Membawamu mengenal hakikat kekasih secara mendalam. Memandang jauh ke balik dunia rupa. Menembus hakikat segala sesuatu.
3. Semoga cinta yang kamu miliki berangkat dari diri yang satu menuju ke diri yang lain. Dari satu menuju satu.

Kekasihku, salah satu Divan Rumi yang mengagumkan, ialah:
 
Jangan bangun rumahmu di tanah orang lain.
Bekerjalah demi cita-cita dirimu yang hakiki di Dunia ini.
Jangan sampai kau terjerat oleh bujukan orang asing.
Siapa orang asing itu kecuali nafsumu yang berlebihan pada Dunia?
Dialah sumber bencana dan kepiluan hidupmu.
Selama hanya tubuh yang kau rawat dan kau manjakan.
Jiwamu tidak akan subur, juga tidak akan teguh.
Hawa nafsu ialah ibu semua berhala. Menghancurkan berhala itu mudah, namun menganggap mudah menghancurkan hawa nafsu itu tolol.
4. Semoga cinta yang kamu miliki menjelma Raushan Damir yang berarti memiliki penglihatan ruhani yang tajam hingga mampu membaca rahasia hati dan peristiwa-peristiwa yang tersembunyi. Memang begitu mestinya, cinta yang kamu rawat adalah cinta yang membuat kita selalu berbenah.
5. Semoga cinta yang kamu miliki memiliki tenaga pembebasan dan pencerahan. Maka tidak mudah goyah jika diri dilanda nihilisme dan krisis keputus-asaan yang hebat datang.
6. Semoga cinta yang kamu miliki ialah surga bagi Qalbu. Yang dalamnya terdapat Telaga Salsabil dan seperti Sungai Nil di Mesir yang menyegarkan bagi mereka yang sanggup mengendalikan diri.
7. Semoga cinta yang kamu miliki memiliki kiblat keberuntungan. Yang membuat anak-anak berpaling. Serta, semoga cinta yang kamu miliki memiliki ka'bah harapan. Yang dikitari oleh ratusan pemurah. Pemilik kepiawaian. Semoga begitu dan seterusnya. Allahumma Aamiin.

Sayang, terima kasih. Kesabaran adalah kunci kesenangan. Rantai yang sukar dibuka, akhirnya terlepas tanpa banyak kata. Walaupun syarah yang disusun lidah menerangkan, namun cinta yang tidak berlidah lebih terang penjelasannya.

8. Semoga cinta yang kamu miliki melindungimu dari hal-hal mengejar bayang-bayang, lari jauh sampai jatuh kehabisan tenaga. Sedang, kamu tidak mengetahui bahwa yang dikejar hanyalah pantulan cahaya burung di udara. Melindungimu dari melepaskan anak panah untuk berburu bayang-bayang... jelas usahamu sia-sia. Dan jika iri hati menguasai dirimu, itulah iblis yang sifatnya melampaui batas kecemburuan. Keirian itulah yang membuat iblis memandang rendah Adam, melawan kebahagian.
Beruntunglah, orang-orang yang tidak dikawanin rasa iri hati.

Sayangku, sungguh Ana tidak menyukai yang mudah tenggelam!
9. Semoga cinta yang kamu miliki memiliki bahasa yang menyatu dalam hati. Itu lebih baik dibanding bahasa yang hanya menyatu dalam lidah. Seseorang yang tidak mudah percaya dan menerima. Apalagi sampai teperdaya.
10. Terkakhir, sayangku...
Semoga cinta yang kamu miliki bersedia memikul rasa hormat yang sanggup mendapatkan kehormatan jua.

Kekasih mu,

Sena.

Tasikmalaya, 23 April 2022

Slice of Life



"Apa yang membuatmu merasa penuh?"

Kapsul Waktu

Ana kalau ditanya begitu, tidak akan pernah bisa memberi jawaban pasti apalagi memuaskan rasa ingin tahu si penanya. Alasannya, mungkin sebab Ana ndak pernah "merasa kurang" dari dalam diri sendiri. (Merasa cukup. Sehingga tidak perlu mencari sesuatu di luar untuk merasa penuh). Ana selalu mencintai dan menghormati diri sendiri.

Namun, barangkali catatan kecil untuk orang-orang yang kerap bertanya "apa yang bisa membuat kita merasa penuh?" Adalah hujani dirimu dan orang lain dengan cinta. Cinta yang banyaak sekali. Mencintai dengan ketulusan itu tidak akan membuat kita kelelahan. Cinta yang murni membebaskan. Membebaskan dengan cara-cara yang mau dia terima.

"Mencintai orang lain atau pasangan berambut panjang atau botak, mencintai pasangan yang benci hujan, mencintai pasangan yang pendiam atau cerewet, mencintai pasangan yang tidak nyaman jika duduk berhadapan, mencintai pasangan yang sebelumnya sudah pernah berpisah tapi sekalipun tidak pernah melupakan mantan kekasihnya, mencintai pasangan yang kolot, norak atau hedonis, mencintai pasangan berstatus janda atau duda, mencintai pasangan yang merasa tenang saat ia mendengar petir padahal kamu sendiri ketakutan, bahkan mencintai pasangan yang belum (atau tidak memiliki rencana sekalipun)" - Itu berbeda dengan menyia-nyiakan hidup. Itulah kebebasan. Cintai semuanya. Gelap dan terang. Boleh juga sebagian. Hanya sebagian. Kau sungguh bebas mencintai sesiapa dan yang "bagaimana" saja dengan tetap mencintai konsekuensinya.

Cinta yang dewasa itu empati.

Misalkan begini, "Saya mencintai pria yang rupawan - sepaket dengan ketampanan si pria sebagai pasangannya akan banyak para puan yang juga mencintai hal yang sama dari dirinya. Maka maklumkan" atau "saya mencintai laki-laki yang perasa (melankolia), sepaket dengan sifat pekanya saya menanggung sensitifitas atau labil wataknya. Maka maklumkan."

Begitu juga kamu yang mencintai pasangan mu yang keren, yang asertif, yang cerdas, yang unggul, yang agamis, yang penyabar, yang elegant, yang berani - maka maklumkan. Karena itu pasti sepaket dengan.

Namun, meskipun begitu "Ana tidak akan memberikan cinta pada sembarang orang dan cinta yang disia-siakan. Setiap dari kita berdo'a pasti supaya cinta ini disyukuri - diberkati"

Terberkatilah orang-orang yang mencintai orang lain yang sedang merasa terjebak - walau ndak tahu terjebak dimana dan karena apa.

Ketahuilah, perasaan kosong, sepi, useless, semacam tak berarti... itu menyiksa. Amat menyiksa.

Waktu telah merenggut banyak hal dariku. Senada dengan itu, ia juga memberiku banyak hal baru. Tentu saja saya bersyukur dengannya; merasa penuh, sehat, tidak kesepian, kebahagian, keseharian yang terpenuhi, bersikap asertif, tidak haus akan atensi, mendalami bahasa baru, mengkhatamkan Al-Quran meski bukan bulan Ramadhan, serta semua hal yang mungkin sebagian dari kita berjuang mati-mati an hanya untuk mendapatkan satu dari sekian yang ku sebutkan tersebut.

So... don't worry, this pain you're feeling is temporary. Close your eyes and remember that tomorrow is a new day, a fresh start. Take deep breaths, you're gonna be alright, I promise.

Ambisi Dan Identitas

Ambisi dan identitas tak jarang orang pandang sebagai suatu hal yang perlu dijauhi (katakanlah; berbahaya - rakus). Saya mau mengistilahkannya semacam rivalitas. Lalu, saya tersadar bahwa wajar mengapa banyak orang melihat keduanya sebagai rivalitas, sebab nyatanya ketika kita membuka kembali literatur, pemikir Stoa Marcus Aurelius sekaligus Kaisar Romawi pernah menulis, “Nilai seorang manusia tidaklah lebih dari nilai ambisinya.” 

Terlepas readers sepakat atau menolak, tetiba batin Ana mengintrupsi dan bergumam, "Lho Sen! kamu taro dimana ambisi mu sekarang?" 🤣

Damn! Anw guysss... Sungguh Ana merindukan persaingan. Merindukan kompetisi. Tentu saja persaingan yang membuat Ana tumbuh. Kompetisi yang ibarat perang lalu berjuang untuk menang. Merindukan ambisi yang membuat Ana mendobrak limit diri sendiri. (Eventho, sejatinya persaingan ya dengan diri dan pikiran sendiri yak?) LOL

"Padahal dah bisa bertahan dengan bantuan diri Lo sendiri sejauh ini aja itu udah achievement, ngapain Lo bersaing ama diri sendiri lagi (bukannya kasih self-reward) - kalo mau bersaing ya ama orang lain lah!" Wkwk minimal kan grow upnya bareng ma rival eaaaaaaaakkk apasi di dunia ini yang tidak paradoks!

You knows... Bagiku, perasaan yang demikian itu (perasaan ketika ngambis) ialah perasaan yang mengagumkan!. Bagi orang lain, mungkin perasaan tersebut serupa perasaan jatuh cinta, murni berupa insting dan naluri manusia. Rindu tantangan yang berakar pada pikiran yang mencengkram (grasping mind). Rindu debaran. Huhu be like:

"Learn the rules like a pro, so you can break them like an artist."

Dari beragam akumulasi pendalaman rasa rindu itulah, Ana sadar bahwa ambisi dan identitas tak ayal melibatkan dua hal penting. Pertama, ia melibatkan dorongan dari dalam diri seseorang untuk mencapai sesuatu yang ia lihat berharga. Kedua, dorongan ini juga melibatkan kemampuan untuk terus berusaha, walaupun tantangan dan kegagalan kadang mewujud ancaman.

Apakah itu berlebihan? Ambisi yang saya lihat sebagai kebahagiaan dan Imortalitas. Ambisi yang saya gunakan untuk melawan banyak ketakutan. Ambisi yang sering membantu saya mengantisipasi ketidakbahagiaan. Ambisi yang mendidik saya menjadi manusia yang kompeten. Percaya diri tapi tak lupa sadar diri. Ambisi yang sepaket dengan kebaikan. Kebaikan mashlahat. Bukan ngambis yang culas - rakus (berakar untuk merusak). Jelas toh perbedaannya?! Atau ini hanya tentang pikiran saya?

Ambivers, meskipun saya tidak menafikan bahwa nampaknya lebih banyak manusia yang berambisi gila ketimbang yang berambisi mulia. Tapi, jangan menyerah atas kebahagiaanmu! Apapun itu. Rawat apa yang kau suka. Sekalipun dalam penderitaan. 🍀

Only Allah knows how much of a difference you are making, and only He can reward you for your generosity! Love and prayers from the one who knows nothing.

Gak kerasa! Akhirnya tiba di akhir tulisan. Sekalipun dalam pengerjaannya tulisan ini terselang banyak kegiatan; menyuapi adik bujangan ku yang sedang sakit tipes (Andra), memberi makan ikan dan burung, nyetrika baju, and many more. (Padahal sengaja tak tulis selesai WFH - tapi ada saja kerjaan)~ Thank you alias nuhun pokoknya 💌

May Allah bless,

Sena.

Tasikmalaya, 20 April 2022

Love Comes Quietly

Love comes quietly
finally, drops
about me, on me
in the old ways.

What did I know 
thinking myself
able to go
alone all the way.

Sabar. This too, shall pass.
Usually I didn't do this
But,
may i get a tight hug?

Tasikmalaya, 17 March 2022

Luka adalah Pintu Masuk Cahaya

 

Sekitar tahun 2018 saya nyaris ndak bisa berangkat student exchange ke Inti International University Malaysia (IIUM). Waktu yang mepet menjadi alasan saya sulit membuat passport untuk keberangkatan, sebab KTP yang hilang (beserta dompet dan seluruh isinya) pada waktu itu. Sebagaimana kita ketahui sistem di negara ini, bahwa surat permohonan pembuatan passport tidak bisa dilakukan tanpa kartu identitas diri (KTP). Saya harus mengurus surat kehilangan dan berbagai prosedur yang berbelit-belit (pada masa itu) untuk membuat KTP yang baru padahal saya sudah harus segera berangkat.

Saya ingat betul, di tahun terakhir saya kuliah yang hectic dengan praktik hukum acara (Pidana, Perdata, Tata Usaha Negara, dll) di berbagai Pengadilan (jurusan saya hukum), bekerja sebagai asisten dosen beberapa mata kuliah, Pimpinan di satu organisasi mahasiswa (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) membuat 24 jam dalam seminggu menjadi begitu padat. Dari bangun tidur sampai mata menutup lagi kemudian kembali bangun dan begitu setiap hari saya menghabiskan tahun akhir studi S1 di kampus Muda Mendunia yang penuh kenangan tersebut.

Tak ada solusi lain selain pulang ke rumah dan membuat permohonan kartu identitas (KTP) baru. Hari Sabtu, setelah kelas usai, exam week kelar, kerjaan rapi saya dengan cepat menuju Stasiun Kereta Api Jogja-Tasik dengan rencana hari Senin langsung mengurus KTP hilang dan pembuatan passport. Anw, terima kasih untuk sahabat Appa saya dan anaknya yang bersedia membantu saya seharian full hari itu.

Dengan perasaan hati yang ‘hancur’, perasaan takut gagal mengusahakan pembuatan passport tepat waktu sehingga tidak bisa berangkat, malam sebelumnya saya I’tikaf mengikuti acara doa Nisfu Say’ban di sebuah masjid dekat rumah. Di situ lah, saya benar-benar merasa terdesak dan tak mampu melakukan apapun selain mengharap pertolongan Tuhan. Ajaibnya, esok harinya dengan lancar jaya saya mendapatkan KTP baru dan sebuah surat pengambilan passport. (Mengingat hari selasa saya harus segera kembali lagi ke Jogja, jadi passport tersebut akan dikirimkan melalui fax mail). Hari itu, tak ada kalimat yang bisa saya ucapkan selian “Allah Maha Baik”. Selalu.

Saya yakin, readers di sini tentu punya pengalaman serupa, prihal bagaimana memperoleh apa yang sangat diharapkan di tengah situasi terdesak.

Sore ini, ditengah angin kencang dan hujan lebat saya membuka lagi kitab Matsnawi dan menemukan penjelasan dari cerita-cerita ‘keajaiban’ yang acap kali kita alami di situasi terdesak. Hal terpenting sebenarnya, bukan tentang terkabulnya sebuah permintan tapi bagaimana rasa ‘hancur’ itu dapat menjernihkan sinyal koneksi kita dengan Tuhan. Allah Ta'ala.

Dalam kitab Matsnawi bait ke 3204 jilid 3 kitab Rumi mengatakan, “Keterdesakan dan luka yang dirasakan Maryam, mendorong bayi Isa as untuk berbicara”

Karim Zamani, salah seorang penafsir terbaik Matsnawi menjelaskan dalam cerita Maryam ini, Rumi hendak mengatakan kepada kita bahwa seseorang tidak akan benar-benar memperoleh apa yang ia inginkan sampai ia terluka lalu luka tersebut memunculkan dorongan kuat dalam dirinya. Karena dalam luka dan keterdesakan itulah muncul kesadaran, penyerahan dan totalitas kita manusia sebagai seorang Hamba.

Penjelasan Rumi di bait selanjutnya ialah, sebagaimana Isa yang meskipun tanpa diminta memberikan pembelaan kepada Maryam, maka seluruh wujud kita pun akan mendukung sebuah tekad yang dibangun dengan kuat. Barangkali, ini yang dalam istilah kekinian disebut “Di dukung semesta” 

Dengan dua bait puisinya di atas, Rumi ingin memberikan harapan kepada kita bahwa ‘cahaya’ itu bisa kita raih, sebagaimana kita pernah merasakan kilatannya di saat-saat ‘terdesak’. Perbedaan kita dengan para sufi, jika pengalaman ‘hancur’ kita bersifat eksidental, berbeda dengan para sufi yang dapat mengkondisikan setiap rasa ‘hancur’  lalu mengubahnya menjadi rasa cinta. Dua bait itu juga sekaligus menjadi pengingat kita untuk tidak menyakiti sesama, karena kita tidak pernah tahu dimana hati yang ‘hancur’ itu terletak dalam diri seseorang, tempat Tuhan bersemayam di sana. 

So, it only takes one second to say; I apologize, you were right, I love you, can we talk?, I don't wan't to be at odds, stop letting pride and ego hold you hostage from the happiness in life. Therefore, I apologize to all of you if I ever gave you unintentional pain.

Love and prayers,

Sena.

Tasikmalaya, 9 Februari 2022

UNTIL YOU


Some days you're good.
Some you're holding on to sanity.

Some days you walk on clouds.
Some you might sleep on crowd.

At times the winds are with you.
Some other times it will blow you away.

Sometimes life struck you like a freight train,
It sends you to places you've never been.

And when you are lost,
In a place, no one knows.

You feel your days aren't at their best.
You end up looking at yourself and find that there's something you've missed.

You think it's a long road.
But in reality, you just slow down your pace.

And when the vision you want to see.
Ain't working the way you want it to be.

Remember that when it's feel losing,
You end up finding...

The places you longed to be.
The dreams that have gone astray.

And that single chance to turn them all into reality.

Until you...

I didn't the meaning of intimacy,
Until our souls kissed and our heart held hands.

I love you.

Tasikmalaya, 25 January 2022

Before You Fall In Love Too Fast!


This is a though message to share, but I had to share it. 

You're not wrong to want love. You're not wrong to want partnership. You're not wrong to want any of it. But ask yourself, are you really looking for the right things? Are you more attracted to what the person has? Or who they are? Or because of who they are to you?

Sometimes you can be so sure about someone and sometimes you can be so sure that they are so sure about you and they still let you down. People are complex, confused, and conflicted inside themselves.

You're looking for a partner but they're still trying to figure out parts of themselves. Their behavior does not reflect on who you are or your ability to give or receive love. 

Listen to those that care for you. They often see or hear things we don't. When we're obsessed or distracted. Slow down, ask yourself what you're really experiencing, know what you think you're experiencing.

If you want to move on fast, find someone else. If you want to move on truly, find yourself. Remember, your feelings are valid and you know them better than anyone else. 

You're worthy of being with a partner that meets your expectations and treats you with love and respect and that's something that's should never be compromised.

Spread the love you want to see in the world today. 

Love and prayers,

Sena.

Tasikmalaya, 22 December 2021

To Gather Together (Laughter and Forgetting)


Memory has its own way of showing empathy. However, often this is met with a big wall called prestige (gengsi).

What you have to understand is that when some of us don't show direct concern, it doesn't mean that they don't have empathy. They just don't know how to articulate their care, their affection, their love. Such as, "is this method right or wrong for the person", "is this method appropriate and not offensive?", "Do I respond as if I'm patronizing?", etc.

It's funny how life can make us feel like fools. Excited at the simple things. Made to cry over useless things. Vain.

I began to reconstruct the specific definition of happiness, then what is happiness? are the simple things that make us feel full (penuh). Intact.

To imagine such a life; The life I'm currently living seems to be quite enjoyable. I don't know what else I'm looking for. We try hard to make up for the loss, try hard to fill the void in the chest, when life is what happens when you are busy worrying, busy looking for a way to deal with worry.

How do you want to be remembered? This question is like a bandit's point at a deserted alley. I want to be remembered as a human who learns. Realize the mistakes made throughout life. I want to be remembered as a sentimental human who fell in love with love itself. Although for me, falling in love is trained. No one suddenly can betray at will. Because love is continual interrogation. I don't know of a better definition of love.

We are well aware that out of a few or dozens of times... only two or three are truly important and unforgettable. The rest are just echoes, imitations, repetitions, or mementos.

The struggle of man against power is the struggle of memory against forgetting. We must never allow the future to collapse under the burden of memory.

The future is only an indifferent void no one cares about, but the past is filled with life, and its countenance is irritating, repellent, wounding, to the point that we want to destroy or repaint it.

We want to be masters of the future only for the power to change the past.

It was funny, but I can't remember why. I didn't laugh. And it was quickly forgotten.

You must always remember; I'm always with you.

Tasikmalaya, 2 October 2021

Sometimes, You Just Have To Turn The Page

 

I don't pretend I'm more than I'm. Life becomes easier, when you learn to accept an apology you never got.

Accept the fact that not everyone is going to like you. Say please and thank you. Live without asking for anything in return. Set a regular get together without your loved ones. Be the first to forgive. Give your loved ones a call to ask them how they've doing.
Is it the habits of a lover-giver.

Fall deeply, or not at all. Half-hearted love leaves the deepest scars, tint the most regret and haunt you with "what ifs". Loving without limits in a relationship makes you feel like you've given your all, tried your best. If it work out we, perfect, if it doesn't, you will have no regrets because you did all you could.

Love is never wasted, for its value does not rest on reciprocity.

Did you feel loved today?
Absolutely.

And how you fall in love?
RATIONALLY : SLOWLY : And then all at once.

And the last,
To be with the one who loves you the most
Or to be with one who you love most?

Keep an open mind
Realize that you are basically an accumulation of the experiences and people around you.
You know nothing of how another person got to where he/ she
Is right now.
Realize that some of the most ridiculous theories were once commonly endorsed.
Realize that you could be wrong.
Some say she's too ambitions, too emotional, too liberal.
I say she's hardworking, compassionate, open-minded.
She's exists outside of his universe.

Self-doubt was the only things standing between me and my dreams.

Tasikmalaya, 1 June 2021

Filosofi Perempuan (13)

 

Ketahuilah, perempuan itu berjuang untuk menguasai kerasnya pasangan dengan lebih banyak mengalah. Baginya mengalah adalah bagaimana mengelola 'kewenangan' dengan boleh jadi memenangkan sikap dan argumentasi pasangan. Bukan lantas sok bijaksana, tepatnya lebih kepada bagaimana cara puan menghormati pasangan.

Ibu ku bilang, "kamu boleh marah terhadap pasangan mu (suami mu kelak) tapi gimana caranya kamu marah sedang hormatmu tak hilang. Kamu boleh murka tapi murka mu tidak menegasikan posisi dan peran suami selaku kepala keluarga. Berlaku sebaliknya." Sampai mati, saya berupaya tidak hanya akan mengingat pesan mahal tersebut tapi sedikit demi sedikit dipraktekan. Dilakukan. Jangan mudah pergi. Jangan mudah pergi.

Yang paling membuat ku terkesan, Appa menimpa obrolan kami di dapur waktu itu sambil menyimpan piring kosong usai makan, "Memenangkan dengan cara yang santun, lembut namun mematikan keegoisan." Mengucapnya dalam bahasa Sunda jauh lebih nyeredet kena hati. Kurang lebih begitu kalau di Bahasa Indonesia kan.

Di balik keberanian puan memilih mengalah, dia kirimkan pesan bahwa kualitas hubungan tidak berdasar pada kemampuan menguasai hati pasangan dengan kuat-kuatan arogansi. Namun, kesanggupan melembutkan hati dengan cinta. Agak melankolis yaa~ tapi misal gapercaya coba aja.

Perempuan bukannya tak sanggup melawan; kami punya banyak pisau dalam diri untuk membedah dan memilih berontak tanpa rasa keberpihakan, tapi buat apa? Bukannya justru akan menjadi jalan terpendek menuju kehancuran. Andai pun menang dengan cara demikian tetap ada penyesalan karena sudah menyakiti seseorang yang dicintai dan kasihi. Perasaan menyesal ini kelak menjadi piutang yang paling membebani kedalaman pikiran. Gapercaya? Jangan dicoba. Pahami aja.

Maka dari itu, perempuan membiasakan diri menguasai dirinya. Menguasai diri adalah menjaga stabilitas hubungan yang rasional dan memupuk cinta bagi keduanya. Mengalah itu salah satu keterampilan yang mesti dikuasai meskipun berat. Sebab ia berkeyakinan, sekeras-kerasnya pasangan tetaplah menyisakan satu celah untuk dimasuki kelembutan cinta.

Saat sudah didalamnya, rasa lembut itulah yang akan menjadi pedoman pasangan untuk paham betapa beruntungnya memiliki perempuan yang menyediakan ruang kekalahan untuk memenangkan egoisme pria.

Saling bekerja-sama, jauh berpotensi menang bukan ketimbang bekerja lelah, hancur lalu sendirian~

Tasikmalaya, 27 Mei 2021

The Moon


Barangkali,
Setiap "aku mencintai mu"
Tidak pernah bisa lebih
Dari "aku meminta maaf"
I hope you heal from the things you don’t talk about.
And that’s why you can only cut and polish diamond with diamond.
I love you!

Tasikmalaya, 26 Mei 2021

On Our Way


Adakalanya bersamamu,
aku merasa sepi yang abadi
ia membakar panas segala api
bumi hilang semua penghuni
dan aku,
mayat hidup di dalam sebuah peti mati

Adakalanya bersamamu,
adalah dingin,
yang meruntuhkan segala ingin
pada kulitku yang teramat tipis
lahir bermacam jenis tangis

Adakalanya bersamamu,
aku serupa dungu berotak batu
pikirku,
bahagia itu letaknya pada detak jantungmu
ia tak lebih luas dari bidang dadamu

Adakalanya bersamamu,
cinta adalah kumpulan debu
yang jatuh dari sayap sebentuk peri
melayang menutup habis muka bumi
lalu tumbuh menjadi mantra pengikat hati

Adakalanya bersamamu,
aku hanya mau berdiri
dari tempat yang jauh sekali
karena rahasia terbesar
adakalanya hadir dari hal-hal kecil
yang menentramkan hati

Dan,
bagaimana bisa aku mencintai
tanpa lapang mengendarai konsekuensi

Suatu waktu aku berulah
Atau kau mencipta salah
Saat kita sekarat sebab luka
Apa kita sempat menunjukkannya?

Tasikmalaya, 3 Mei 2021

Change For Urself, Not Others!


I never wanted you to do those things for me.
I wanted you do because you wanted to.
Not because I was telling you to.

This is painful lessons. We all have habits we need to change. We all have things we need to work on. But the biggest mistake, we can make is to change or work on them just to get someone in our lives or keep someone in our lives or to get someone back into our lives.

When we change for others it's not the same as changing for ourselves. When we change for others we're now dependent on them to approve to validate and reciprocate with them change. When we change for ourselves it's sustainable and progressive.

Sometimes it takes someone else to make us aware of what we need to change. But then, we need to choose to change for ourselves, not them. When someone leaves it make us more aware of our negative habits but instead of changing to win them back the only real win is transforming for ourselves.

Look at yourself and think, "what can I change to trust myself more? What can I change to believe in myself more? What can I change to invest in myself more? What do I need to learn to become better for me?" Because when you become better for yourself, you'll naturally be better for someone else.

I’m not a person you find twice. Consistency is a big yash! 

Yours truly love, Sena.

Tasikmalaya, April 21 2021

Women Get To Choose!


Mine

The only thing that can be more devastating than a "No" is an "unknown" not having closure in relationship can make it difficult to move on, especially after you're invested your emotions, time and efforts.

When someone ghost you it many seems like they're not giving you a direct yes or no as to whether they want to continue on with your relationship. It feels like a "maybe", maybe they've moved on, maybe they'll come back, maybe something happened to them and you're unware.

A million questions run through your head this make it changing when deciding what to do next. While this all might feel very confusing.
I'm here to tell you that being ghosted is never a "maybe". Being ghosted is always a "no".

However, I understand that a "no" in this case should not feel like a rejection but rather it is a display of that persons unreadiness to be a strong partner for you .

If they would rather than away than be honest with you they've not the type of partner who will take responsibility for their actions. If they're okay with letting you wait for them without giving you a good reason. They're not the type of partner who will be considerate of your time and feeling. If they flake in your plans or make up lies and excuses, they're not the type of partner who is ready to commit to something serious.

Here's the thing, some people are good at starting something but they're not equipped to follow through.

You can't keep feeling in the blanks they left for you with answers from your own imagination. They are only so many excuses you can make for someone who is consistently absent. The more you make excuses for their mistake, the more likely they are to keep making them.

So, ask yourself "is it really worth protecting the at the expense of your own well-being?" No matter how much potential they've shown you in the beginning remember the potential isn't proof.

It isn't a promise! At best, it is a possibility based on what they've shown you so far. But for there to be a chance that you'll have a successful relationship together that potential has to be matched with actions.

So, don't get caught up in falling on love with the idea of someone. Fall in love with who they prove themselves to be.

Happy sunday night everyone! sunday night, I've been swallowed by my bed 😂

Tasikmalaya, March 27 2021

Setumpuk Cinta Untuk IMM


René Descartes sematkan “Aku berfikir maka, aku ada”, pula diriku... "Aku menulis sebab aku cinta".

 


Ditengah ramainya #valentinebukanbudayakita di dunia pertwitteran, memang betul islam tidak memperingati Valentine's Day, budaya kita adalah when mind said "move on" but heart said "hold on". Budaya kita adalah falling in love with someone you cant have. Pedih wkwk~

Saya tidak tahu siapa pihak yang pertama kali mengangkat #valentine'sdaybukanbudayakita, tapi yang pasti budaya aktivis-akademisi adalah doyan berefleksi. Tak terkecuali momen hari ini. Sesuai jadwal tulisan ini diterbitkan 14 Februari 2021. Catatan panjang ini tentang bagaimana saya mengelaborasi cinta terhadap Ikatan, pada bulan februari yang penuh cinta, saya tujukan khusus catatan yang selama ini belum pernah saya sebar. Guna merawat cinta penulis kepada organisasi kesayangan kita semua, ya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah selanjutnya populer dengan sebutan IMM.

Aku Dan IMM

IMM ialah salah satu organisasi mahasiswa islam indonesia yang merupakan organisasi otonom (ortom) Muhammadiyah serta bagian dari elemen gerakan kemahasiswaan (ekstra kampus) di Indonesia. Dalam Anggaran Dasar (AD) IMM Pasal 7 Bab III,  IMM memiliki tujuan yaitu mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah. Sedangkan, tujuan Muhammadiyah adalah menegakkan dan menjunjung tinggi agama islam, sehingga terwujudnya masyarakat islam yang sebenar-benarnya. Namun, dalam konteks ini penulis mecoba merefleksikannya dengan pendekatan cinta sebagai kultur gerakan.

Tidak berlebihan kiranya, jika saya renungkan kecintaan ini merujuk pada ulama ulung sekaligus Sufi besar islam, Maulana Jalaluddin Rumi. Beliau mengibaratkan cinta dalam ungkapan;

"Cinta dapat menghancurkan segala keraguan, dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih menjadi emas, kering menjadi bening, sakit menjadi sembuh, dan kemarahan menjadi rahmat. Cintalah yang mampu melunakan besi, meghancurleburkan batu karang, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya, serta membuat budak menjadi pemimpin”.

Mula Perjalanan Ber-IMM

Saya lahir dan dibesarkan dengan tradisi dan budaya keluarga Nahdlatul Ulama. Ya, saya mungkin sama dengan ribuan kader Muhammadiyah yang lain, tidak memiliki genealogi (sanad) keluarga Muhammadiyah (wallahu'alam). Meski demikian, saya tetap berupaya turut andil semampu mungkin, belajar dengan resiliensinsi yang tinggi agar menjadi bagian kader-kader IMM yang loyal dan progresif. Tidak mengandalkan sanad "keturunan" keluarga untuk menjadi kader bermanfaat bagi Muhammadiyah dan Indonesia, ia adalah perjalanan panjang epistemologi aktivisme Sena muda.

Ada satu kalimat yang cukup tidak bisa saya lupakan, ucapan sesama kader baru saat masih di komisariat pada tahun 2015 silam. Dalam satu diskusi panas kami di komisariat, saya menyanggah beberapa pendapat soal apa yang sedang diperdebatkan. Sebelum saya menyelesaikan omongan, dia nyokot dan mengatakan "Kamu tahu apa tentang Muhammadiyah?! Udah berapa tahun emang kamu jadi kader?! Tahu apa kamu tentang IMM?!"

Sontak saya terdiam. Buset galak amat wkwkkw. Bukan sebab saya kalah dan tidak tahu dengan apa yang sedang diperbincangkan, saya terkejut dan tak habis pikir dengan sosok yang begitu arrogant terhadap rasa kepemilikan plus kosong pula isi kepalanya. Kenapa dia merasa lebih tinggi dan lebih tahu segalanya soal Muhammadiyah dan segala isinya? Padahal dia sendiri kader tumpang nama. Saya menduga, barangkali sebab dia bersekolah di SMA milik Muhammadiyah yang menjadikanya merasa dialah kader si paling paham seluruhnya. Jelas berbeda denganku yang menghabiskan jenjang pendidikan formal di sekolah negeri.

Sebelum merantau ke Jogjakarta, pandangan orang-orang di kampung ku soal bersekolah di sekolah negeri justru privilege. Anak-anak yang pintar secara akademik justru akan masuk dan direkomendasikan untuk kuliah di kampus negeri terbaik di Indonesia. Begitupun dengan menekuni ilmu agama di pondok pesantren, semua ditempuh di lingkungan yang "tidak ada Muhammadiyah nya".

Selanjutnya, ucapan sinis teman ku itu menjadi perenungan mendalam untuk saya belajar tentang kampus yang menaungi saya 4 tahun kedepan yang kadung menjadikan ku kader newbie IMM yang tidak tahu apa-apa selain ghiroh belajar yang membara pada saat itu. Agak menyebalkan menjadi noob, maka kupecut diriku untuk mengejar 'ketertinggalan' soal wawasan kemuhammadiyahan dan ke IMM an.

IMM sebagai rahim pergerakan

Berbicara dunia pergerakan (mahasiswa) tentu kita juga berbicara keberpihakan. Pada dasarnya, apapun organisasi mahasiswa yang dijadikan rumah sebagai ijtihad wadah perjuangan untuk melawan, muara perjuangannya sama: melawan penindasan, relasi kuasa, kebodohan, ketidakadilan, mengintrupsi pemegang kekuasaan (dosen, kampus, pemerintah) yang semena-mena juga menebar manfaat fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan) melalui berbagai cara! Juga saya, memilih dan berpihak melalui Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sebagai wadah. Sampai catatan ini disebar dan dibaca banyak pasang mata.

**
Sebab-sebab saya memilih dan terus berpihak:
Sebagaimana dituturkan Al-Ghazali pada Kitab al-Mahabbah wa asy-Syauq wa ar-Ridha. Syarat-syarat bagaimana manusia bisa jatuh cinta:

1. Cinta tidak akan terjadi tanpa proses pengenalan (ma’rifat) dan pengetahuan (idrak)

Al-Ghazali mengatakan, “Manusia hanya akan mencintai sesuatu atau seseorang yang telah ia kenal”.
Dalam konteks kader, saya telah melalui tahap demi tahap jenjang perkaderan sesuai hierarki yang ada.
Mulai dari DAD (Darul Arqam Dasar) sebagai syarat pertama untuk diakui sebagai kader. Berawal CAKER (calon kader) - Kader Tengah - Kader Akhir (Pimpinan Komisariat IMM FH UMY). Kemudian melanjut jenjang kedua setelah DAD, yaitu DAM (Darul Arqam Madya). Sebelumnya tidak ada niatan untuk saya naik Pimpinan Cabang IMM Ar-Fakhruddin Kota Yogyakarta 2019.

Tak lama setelah menjadi demisioner Pimpinan Komisariat FH UMY, Saya ikut DAM (tepat selepas KKN selesai). Murni dengan niat untuk melanjut tahap perkaderan. Saya suka sekali belajar. Hal-hal baru membuat saya penasaran hingga dengan kepolosan itu juga secara kolektif komisariat meminta naik untuk menjadi Pimpinan Cabang IMM AR-FAKHRUDDIN Kota Yogyakarta. Singkat cerita, terpilih - formatur - Bidang RPK untuk satu periode Pimpinan Cabang IMM Ar-Fakhruddin Kota Yogyakarta.

Dengan demikian saya pikir keliru, ketika ada kader yang mengikuti DAM "hanya sebagai syarat" agar dia maju ke Pimpinan Cabang atau jenjang lainnya. (Naik PC atau tidak, kalo mau DAM ya DAM aja). Logika yang terbalik jauh dari pemaknaan tri kompetensi dasar (reigiusitas, intelektualitas dan humanitas) tanpa pemaknaan. Ghiroh politiknya membabi buta, tanpa modal narasi gagasan keilmuan dan karya saya rasa itu menjijikan.

***
Jadi begini, beberapa pandangan versi ku prihal perpolitikan di IMM:

1. IMM ialah termasuk organ politik. Hal itu dapat kita lihat dan rasakan dari aktivitas kaderisasi dan gerakan sosialnya yang merupakan bagian dari aktivitas politik.

2. IMM menafsirkan politik sebagai politik nilai! bukan politik elektoral dan transaksional ala partai nasional pada umumnya. Terdapat banyak nilai-nilai luhur yang hendak ditunaikan sebagai perjuangan (keadilan misalnya, kita harus terus menempuh jihad konstitusi sebagai alat perjuangan konstitusionalitas, memberantas kemungkaran perpolitikan tidak sehat di kampus, intinya segala kebaikan atas nama kemanusiaan).

3. Seiring waktu dan alat perjuangan yang semakin beragam, IMM tentu bisa, atau mungkin "pernah" menitipkan perjuangan politik nilai diatas melalui kader-kadernya yang juga banyak ikut jalur politik praktis (kepartaian). Meskipun tidak secara vulgar menggunakan nama besar organisasi.

Bagaimana dengan saya? Saya tetap konsisten memilih jalan keilmuan. Mulai saat magang awal caker sampai Pimpinan Cabang menunaikan perjuangan di wilayah literasi - liberasi tanpa menegasikan dua trikoda yang lain.

Segimanapun paradoksnya ber-IMM, tak sedikit kader yang merasa telah dicurangi, dikhianati, ditinggalkan, diabaikan, saya rasa semua kembali ke masing-masing pribadi kader. Namanya rumah, namanya keluarga andai semua sempurna maka dari mana kita hendak belajar? :) Tetap rawat keberpihakan 💌 
Toh organisasi memfasilitasi setiap ghiroh minat bakat kader, menampung ambisi politik tentu begitu wajar, yang patut diingat bagaimana kepandaian kita menginsyafi batasan etika.

Sebab sebodoh-bodohnya orang adalah yang tak pernah mau belajar politik. 

2. Manifestasi cinta sejalan dengan tingkat pengenalan dan pengetahuan manusia

Banyak rasa ketika catatan ini dibuat, salah satu yang paling urgent adalah agar saya mampu mengenang sosok-sosok yang tanpa pamrih membesarkan, mendidik, merawat saya dengan pendidikan terbaik sejak dari komisariat. Dalam point ini saya hanya mau berterima kasih, menerus berterima kasih kepada orang-orang (senior, dosen, kawan) yang sudi menerangkan jalan, mencintai sebagai sesama pembelajar, pun mengantarkan saya ke dunia yang jauh lebih luas hingga saya menjadi kader perempuan (IMMawati) yang sadar akan kemerdekaan pribadi dan kolektif ditengah pelukan budaya patriarki. Tidak ada pilihan selain menjadi IMMawati progressif! Bagaimana cara untuk berpihak. Realistis berjuang turun aksi ke jalan, konsolidasi bersama aliansi antar pergerakan sampai subuh hari, lalu siangnya bergerak merapat membawa tuntutan sambil meneriakan:

"Hidup Mahasiswa!"
"Hidup Perempuan yang Melawan!"
"Hidup buruh!"

Atau sambil mengumpat melantunkan yel-yel yang mengutuk oligarki dan melanggengkan budaya patriarki! Ah sungguh menyenangkan, selain belajar akademik di kelas saja!. Menjadi mahasiswa yang berimbang. Prestasi akademik sebagai kewajiban juga karir organisasi sebagai jalan penyadaran dan perlawanan atas banyaknya kasus yang menjarah!! Terutama kampus, tempat yang seharusnya membuat kita menjadi pembelajar yang bebas!. Bukan komoditas pendidikan yang mahal belaka!. 

Tak sedikit, IMMawan dan IMMawati yang merajut kasih sambil merawat organisasi. Mencari pendamping yang satu ideologi sepertinya memudahkan (cobakah?) 😁 Dalam diam atau dengan terang-terangan biasanya tergantung orang, yang pasti anak muda penuh dengan semangat! Dengan syarat tidak melanggar aqidah, konstitusi juga hak kolektif bersama. Apalagi mencederai nama organisasi tak jadi soal.

Sebagai informasi, saya tidak pernah ikut aksi dengan membolos dari kelas. Agak aneh mungkin bagi sebagian orang sebab saya belum pernah merasakan bolos sekolah apalagi kuliah. Kalau mau aksi ya saya izin ke dosen yang bersangkutan. Secara lisan atau bahkan membuat surat legal sebagai pengantar dari komisariat. Sekalipun pernah terlambat, saya lebih baik masuk dan ditegur dalam kelas tak masalah ketimbang pulang dan rebahan di kostan. 

Dalam catatan ini saya mau mematahkan dogma atau anasir yang mengatakan "aktivis" itu sering mengabaikan kuliah, tidak punya tumpukan pencapaian, kerjaannya hanya rusuh dengan kehidupan yang acak-acakan, mengintrupsi sistem dan kekuasaan hanya modal teriak-teriak di jalan, berpenampilan lusuh (tidak paham fashion) hingga orang melihat sinis saja, dan banyak lagi anggapan keliru yang disematkan.

Mereka yang mengamini hal diatas antara kurang main atau mainnya kejauhan hingga ndak tahu kalau banyak sekali aktivis yang brilliant. Aktivis yang punya cukup banyak modal di berbagai lini keilmuan. Kekaryaan dan pengabdian. Trendi dan berbakat. Taat dan mencintai Tuhan. Bermanfaat lintas negara bahkan agama.

3. Manusia mencintai dirinya

"Manusia mana yang akan selamat dari api cinta", kata Rumi. Senada dengan ini, tentu karena saya mencintai eksistensi dan esensi saya sebagai manusia sepaket dengan saya mencintai Ikatan ini sesampai usia. Saya mencintai IMM dengan segala bentuk cinta... Waktu, pikiran, kesempatan, materi, dan tenaga. Semasa menjadi Pimpinan Komisariat setiap hari selama satu tahun, mulai membuka mata sampai menutupnya kembali yang dipikirkan hanya dua hal: akademik kuliah dan IMM. Berulang setiap hari. (Asli. Ga lebay)

Padatnya agenda, sengitnya belajar di dalam dan luar kelas, mengimbangi prestasi dan ambisi, membiasakan rutinitas ngasdos-kuliah-asrama-lomba-conference-exchange dan jadwal bejibun lainnya membuat diri benar-benar ditempa habis-habisan. Berburu ilmu dari ruang-ruang diskusi, melahap baca kemudian bertukar pandang, membuat gebrakan agenda bermanfaat guna membantu minimal untuk masyarakat fakultas hukum juga komisariat lainnya. Meski konflik internal acap kali tak terhindarkan, sebagai pendidikan pengembangan diri itu berhasil!.

IMM sungguh membuat saya belajar bagaimana mencintai, percaya pada manusia lain, mempertahankan relasi dan berpihak dengan cara-cara yang aksiologis.

Kalau Tan Malaka behasil dengan proses -Terbentur Terbentur Terbentuk- apalah saya yang harus -Terbentur Terbentur Terbentur Penyok Die Blangsak baru Terbentuk- 🔥

Spirit Trilogi dan Trikoda IMM sebagai prinsip juang

Trilogi merupakan garapan atau tugas ikatan yang diinternalisasi dari tiga aspek penting, yaitu: kemahasiswaan, keagamaan, dan kemasyarakatan. Trilogi ikatan merupakan pengejawantahan nilai-nilai ikatan guna ditransformasikan pada masyarakat dalam paradigma ikatan.

Kemahasiswaan menjadi Intelektualitas, literasi keilmuan.
Keagamaan menjadi Religiusitas, Transendensi Ketuhanan.
Kemasyarkatan menjadi Humanisasi, Liberasi, Kemanusiaan.

Terbentuknya trilogi ini sudah mengalami refleksi yang panjang dan lama sehingga dikenal sampai sekarang. Sebagai kader, kita tidak boleh memilih salah satu dari ketiganya dalam mewujudkan identitas gerakan yang berbeda dengan pergerakan mahasiswa lainnya. Sedangkan, kata ‘Tri Kompetensi Dasar' (Trikoda) menunjukkan arti yang kurang lebih adalah ‘tiga dasar kemampuan’ kader yang harus dimiliki dan merupakan kristalisasi nilai dari Trilogi sebelumnya. Sejatinya religiusitas, intelektualitas dan humanitas merupakan ruang lingkup dalam tujuan IMM.

Kemahasiswaan - Mahasiswa ialah massa dan pelajar terdidik yang dimiliki ikatan untuk mengontrol jalannya kebijakan penguasa (khususnya kampus). Ialah akademisi yang dibekali rasionalitas ilmiah dalam menyikapi serta membaca suatu realitas sosial. Mahasiswa erat kaitannya dengan kegiatan intektualitas yang tak cukup intelektual saja tapi kegiatan intelektual yang bersendi pada nilai-nilai Ikatan. Adaptif - progressif jauh membaca keberlangsungan pergerakan di masa mendatang. Saya titipkan creative minority MAFIA (Majelis Filsafat) yang saya dirikan sebagai wadah keilmuan selama di komisariat beserta warisan SHP (Sekolah Hukum Progresif) sebagai penyeimbang hukum positif yang kadang tebang rata untuk setiap fenomena hukum di Indonesia.

Spirit filsafat saya harap menjadi pisau analisis yang tajam lagi bijak dalam membedah segala permasalahan kultural maupun struktural ikatan. As a big value. Menenangkan - menyelamatkan.

Keagamaan - Keagamaan dimaksudkan sebagai ruh, tujuan, dan sumber inspirasi dalam menunaikan gerakan sosial. Keagamaan memiliki fungsi dalam ikatan sebagai arahan, cara dan penguatan gerakan dalam melakukan transformasi sosial. Nilai transendental ikatan secara vertikal maupun horizontal. "Aggun dalam Moral dan unggul dalam Intelektual"

Kemasyarkatan - Masyarakat disini ditempatkan sebagai subjek perubahan bukan objek perubahan. Oleh karena itu, kemasyarakatan dalam ikatan menjadikan masyarakat sebagai pelaksana transformasi sosialnya. Pergerakan tanpa cinta jauh dari kemanusiaan. "Anggun dalam Moral, Unggul dalam Intelektual dan Radikal dalam Gerakan."

Perlu diterangkan bahwa yang paling penting dari ketiga point diatas adalah kesatuan integrasi interkoneksi yang harus dilaksanakan dan dimiliki ikatan guna menciptakan transformasi yang dicita-citakan bersama.

Spirit Gender di IMM

Dalam perspektif mubadalah (kesalingan) kehidupan ini dimiliki oleh laki-laki dan perempuan. Jika perempuan untuk laki-laki maka laki-laki pada saat yang sama juga untuk perempuan. Semua pranata sosial juga harus diperuntukkan bagi kemaslahatan perempuan, sebagaimana sudah sebelumnya untuk laki-laki. Ingat perempuan sama seperti laki-laki, penghuni dunia ini sama seperti laki-laki, bukan wisatawan atau the second sex apalagi tamu dari ruang domestik!.

Mansor Faqih dalam bukunya Analisis Gender dan Transformasi Sosial menyebutkan, konsep kesalingan memandang relasi antara keduanya saling kerjasama, bukan hegemoni dan diskriminasi yang berujung pada kekerasan. Tidak boleh laki-laki menguasai perempuan dan sebaliknya. Tetapi keduanya saling bekerjasama untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik, adil, dan sejahtera.

Hadirnya bidang IMMawati sebagai salah satu bidang dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang fokus pada kajian kritis keperempuanan kadang diinterpretasikan khusus buat IMMawati. Padahal IMMawan juga. Kenapa? Sebab seperti yang kita tahu bersama persoalan IMMawati bukan sebatas moralitas, melainkan bagaimana perempuan harus merespon dinamika sosial serta mampu vokal di ruang-ruang publik dengan percaya diri. Assertive dalam mewujudkan tri kompetensi dasar tidak hanya dalam Ikatan, tapi juga kehidupan (termasuk perasaan).

Menjadi kader seumur hidup

Sebagai sesama kader yang menimba pengetahuan dan pengalaman di naungan yang sama, barangkali sudah selayaknya seluruh kader IMM memaknai semua fenomena yang ada melalui kaca mata kebijaksanaan. Kembali mencintai organisasi tanpa pamrih bukan menuai transaksi. Catatan ini saya buat dengan keinginan menjadi magnet yang menarik kita untuk tetap hidup sebagai manusia yang militan!. Pandai berjuang, siap tarung dengan tidak melupakan martabat keilmuan dan keimanan. Jalan apapun yang sedang ditempuh, semoga fastabiqul khairat tetap menjadi nafas perjuangan sekaligus tujuan... Ilmu amaliyah, amal Ilmiyah 💌

Yours truly,
Sena Putri Safitri
(IMMawati FH UMY RPK PC Ar-Fakhruddin)

Tasikmalaya, 14 Februari 2021