Selamat berkurang usia, Ayang 🤍

9/22/2026 12:47:00 AM Sena Putri Safitri 0 Comments

Akmal sedang naik angkot menuju sate maranggi dekat rumah yang ternyata pas sampai udah tutup permanen 🙏🏻

Hari ini, orang yang paling kutunggu kepulangannya, yang video call nya membuatku bersemangat dan menyenangkan setiap kali bersamanya, sekaligus orang yang paling sering menjadi sasaran keisengan kecilku itu berulang tahun gais.
Aku merasa, menikah dengannya adalah salah satu keputusan paling masuk akal yang pernah kubuat, meskipun setelah itu konsekuensi logisnya adalah suamiku lebih sering sibuk mengurus umat daripada mengurus dirinya sendiri.
Begitulah suamiku.
Orang yang tinggi ilmu dan luas kesabarannya tetapi tidak pernah merasa perlu berdiri lebih tinggi dari orang lain. Banyak membaca, banyak berpikir, banyak berdiskusi, dan tetap selalu bertanya menggali hal-hal baru kepada siapapun yang ia jumpai, dimanapun.
Ada kalanya sebagai kekasih hati aku ingin protes. “Yang… yang… kadermu iki memang banyak, iki loh istrimu cuma satu.” Tapi yaaa mau diapa, barangkali memang begitulah cara Tuhan membentukmu. Memberimu hati yang tidak pernah cukup hanya untuk dirinya sendiri.
Kehidupanmu sebagian besar kauhabiskan untuk sesuatu yang lebih besar daripada dirimu lalu pulang dengan tubuh lelah namun isi kepala tidak pernah rehat. Persis “Crowded seperti perempatan lampu merah New York”.
Selamat ulang tahun, suamiku. My 24/7 human-diary. Tempat semua cerita akhirnya pulang. Tentang hari yang menyenangkan. Tentang orang yang menyebalkan. Tentang hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting namun hampir pasti kuceritakan. Tentang mimpi-mimpi yang belum selesai. Tentang rencana yang terlalu banyak. Tentang masa depan yang kadang terlihat terang, sering juga merasa hidup sesekali muram. Dia mendengarkan semuanya. Manusia biasa kesayanganku yang kepadanya aku tidak perlu menjelaskan terlalu banyak yang penting ada bagiku itu sangat berharga.
Ada semacam paradoks yang menyenangkan dalam dirinya; kepalamu sering berada di antara peta-peta besar kehidupan, namun hatimu tetap tinggal di tempat yang sederhana. Mungkin itu yang membuatku betah. Sebab dunia sudah cukup banyak dipenuhi orang yang ingin terlihat hebat. Aku justru beruntung mendapatkan seseorang yang tidak terlalu sibuk terlihat hebat, tetapi diam-diam menghabiskan hidupnya untuk melakukan banyak hal baik meski gak keliatan.
Ditengah banyak rencana yang akan berubah karena hidup memang senang membuat kejutan. Aku tahu satu hal, Aku ingin tetap berada di dalam hidupmu. Saat semuanya berjalan sesuai rencana, maupun ketika semuanya mungkin berantakan. Saat kamu sedang percaya diri, maupun ketika kamu mulai meragukan segalanya. Saat kita sedang punya banyak uang untuk jalan-jalan, maupun ketika akhirnya perjalanan harus berhenti karena “saldo anda tidak mencukupi”.
Selamat berkurang usia, suamiku. My favorite kongkow partner. My personal comedian. And absolutly my forever travel buddy. Semoga Allah selalu memberikanmu kesehatan, lahir dan batin. Semoga ilmu dan pengalaman yang kamu miliki semakin menjadi cahaya, bukan tumpukan beban. Semoga langkahmu dalam mengurus dan membersamai umat selalu diberi kelapangan. Semoga mimpi-mimpi yang selama ini kamu simpan satu per satu menemukan jalannya untuk menjadi kenyataan. Dan kalau nanti semuanya tercapai, jangan lupa aku ikut merasa punya saham di dalamnya. Saham mencintai dan mengasihi 😆
I’m always be on your team!
Bukan karena kamu selalu benar (jujur itu klaim yang berbahaya untuk dibuat oleh seorang istri), tapi karena setelah sekian banyak perjalanan, aku tahu kamu adalah orang yang ingin terus kupilih.
Hari ini, besok, dan seterusnya.
Happy birthday, Ayang.
I love you, forever and beyond. 💋
Jakarta, 22 September 2026

0 Comments:

Biar Nggak Pekok-Pekok Amat, Membacalah (Walau Cuma Pelarian~)

9/10/2026 07:40:00 PM Sena Putri Safitri 0 Comments

''Membaca itu sebuah rahmat. membaca adalah sebuah kebahagiaan" -Goenawan Mohamad
Belakangan, saya merasa membaca adalah pelarian. Medium paripurna untuk membebaskan pikiran. Proses memerdekakan pikiran dari hal-hal yang sungguh wajib dikerjakan. Membaca apa saja yang penting bukan urusan pekerjaan dan kuliah (semua saya lakukan kecuali tugas-tugas itu LOL). Itulah mengapa saya menyebutnya pelarian. Lagipula, membaca memang butuh nyali buat membedah subjek-subjek asing yang berpotensi menggugat pandangan mapan di kepala kita. Pandangan yang saking asingnya, acap kali memancing kebencian, ketakutan, dan prasangka begitu memasuki alam pikiran. Kamu kapan terakhir membaca?
 
Tapi, ya gak apa-apa. Minimal banget kamu masih sudi mengeja huruf! Melewati proses yang tadinya tidak kamu ketahui menjadi kamu pahami. Biar gak pekok, gak sok tahu dan ngangong-ngangong pada saat bercengkrama dengan orang lain. Inget kata Ayahanda Richard Feynman, “When you are dead, you don’t know you are dead. It’s pain only for others. It’s the same thing when you are stupid.”
 
Pun, dalam ajaran seperti Buddhisme ketidaktahuan atau kebodohan spiritual (avidya) itu dianggap sebagai akar utama penyebab penderitaan manusia (Buddha on ignorance: the darkness that rules you). Kebodohan adalah dosa besar selain perzinahan dan pembunuhan sebab ia seperti menyulitkan dirinya sendiri dan orang lain. Lalu apa sebetulnya indikator seseorang dikatakan bodoh? Adalah pada saat individu gagal melakukan proses berpikir. Tidak ada tahapan berpikir di kepalanya, setiap informasi ditelan mentah-mentah, dibantah serampangan dan di hakimi secara ekstrem. (lain kali kita bahas soal bagaiamana cara berpikir yang baik dan benar sesuai tahapan dan siklusnya).
 
Omongan diatas mungkin terdengar satire, tapi resapi saja pelan-pelan. Sebab faktanya, orang bisa menulis karena banyak membaca, orang bisa bertanya karena rajin membaca (mengamati dan dan memahami), barulah bisa punya tiket untuk berdiskusi dengan orang lain. Berdiskusi itu sudah ada di level yang berbeda, ia seperti belajar mengendarai sepeda. Kamu harus terjatuh berulang kali, bangun, dan mencobanya terus sampai berhasil mengayuh dengan lancar. Begitu kurang lebih maksud Larry King dalam bukunya “Seni Berbicara”.
 
Tentu saya juga masih dan akan terus belajar. Soal kesemuanya: Membaca, menulis, berbicara dan berdiskusi pada level tertentu. Saya percaya Siapapun individu yang tidak menyadari keterbatasan akan dirinya, perlahan ia akan sulit mengerti dan tidak mau mengakui kelebihan orang lain. Padahal tidak ada kemampuan atas diri untuk sampai, namun wajib ada padanya perjuangan untuk kembali dalam perjalanan pulang. Walau tidak pernah sampai. Kepada Rumi, saya berterimakasih telah mengiringi perjalanan saya sejak muda.
 
Untuk kamu yang sudah di tahap menjadikan “membaca sebagai minat”, goodjob! Tapi tolong, jangan arogan, kita masih harus belajar menjadi tidak penting, sebab tanpa kita pun, dunia dan seisinya akan baik-baik saja. Justru karena kita lah dunia ini seringkali kerepotan.

Jadi, buku atau cerita apa yang selanjutnya akan kamu baca?
 
Jakarta, 10 September 2026
 
Love and Prayers,
Sena.

 

0 Comments: