Biar Nggak Pekok-Pekok Amat, Membacalah (Walau Cuma Pelarian~)

9/10/2026 07:40:00 PM Sena Putri Safitri 0 Comments

''Membaca itu sebuah rahmat. membaca adalah sebuah kebahagiaan" -Goenawan Mohamad
Belakangan, saya merasa membaca adalah pelarian. Medium paripurna untuk membebaskan pikiran. Proses memerdekakan pikiran dari hal-hal yang sungguh wajib dikerjakan. Membaca apa saja yang penting bukan urusan pekerjaan dan kuliah (semua saya lakukan kecuali tugas-tugas itu LOL). Itulah mengapa saya menyebutnya pelarian. Lagipula, membaca memang butuh nyali buat membedah subjek-subjek asing yang berpotensi menggugat pandangan mapan di kepala kita. Pandangan yang saking asingnya, acap kali memancing kebencian, ketakutan, dan prasangka begitu memasuki alam pikiran. Kamu kapan terakhir membaca?
 
Tapi, ya gak apa-apa. Minimal banget kamu masih sudi mengeja huruf! Melewati proses yang tadinya tidak kamu ketahui menjadi kamu pahami. Biar gak pekok, gak sok tahu dan ngangong-ngangong pada saat bercengkrama dengan orang lain. Inget kata Ayahanda Richard Feynman, “When you are dead, you don’t know you are dead. It’s pain only for others. It’s the same thing when you are stupid.
 
Pun, dalam ajaran seperti Buddhisme ketidaktahuan atau kebodohan spiritual (avidya) itu dianggap sebagai akar utama penyebab penderitaan manusia (Buddha on ignorance: the darkness that rules you). Kebodohan adalah dosa besar selain perzinahan dan pembunuhan sebab ia seperti menyulitkan dirinya sendiri dan orang lain. Lalu apa sebetulnya indikator seseorang dikatakan bodoh? Adalah pada saat individu gagal melakukan proses berpikir. Tidak ada tahapan berpikir di kepalanya, setiap informasi ditelan mentah-mentah, dibantah serampangan dan di hakimi secara ekstrem. (lain kali kita bahas soal bagaiamana cara berpikir yang baik dan benar sesuai tahapan dan siklusnya).
 
Omongan diatas mungkin terdengar satire, tapi resapi saja pelan-pelan. Sebab faktanya, orang bisa menulis karena banyak membaca, orang bisa bertanya karena rajin membaca (mengamati dan dan memahami), barulah bisa punya tiket untuk berdiskusi dengan orang lain. Berdiskusi itu sudah ada di level yang berbeda, ia seperti belajar mengendarai sepeda. Kamu harus terjatuh berulang kali, bangun, dan mencobanya terus sampai berhasil mengayuh dengan lancar. Begitu kurang lebih maksud Larry King dalam bukunya “Seni Berbicara”.
 
Tentu saya juga masih dan akan terus belajar. Soal kesemuanya: Membaca, menulis, berbicara dan berdiskusi pada level tertentu. Saya percaya Siapapun individu yang tidak menyadari keterbatasan akan dirinya, perlahan ia akan sulit mengerti dan tidak mau mengakui kelebihan orang lain. Padahal tidak ada kemampuan atas diri untuk sampai, namun wajib ada padanya perjuangan untuk kembali dalam perjalanan pulang. Walau tidak pernah sampai. Kepada Rumi, saya berterimakasih telah mengiringi perjalanan saya sejak muda.
 
Untuk kamu yang sudah di tahap menjadikan “membaca sebagai minat”, goodjob! Tapi tolong, jangan arogan, kita masih harus belajar menjadi tidak penting, sebab tanpa kita pun, dunia dan seisinya akan baik-baik saja. Justru karena kita lah dunia ini seringkali kerepotan.

Jadi, buku atau cerita apa yang selanjutnya akan kamu baca?
 
Jakarta, 10 September 2026
 
Love and Prayers,
Sena.

 

0 Comments: