Distraksi
“Di usia yang sangat seksi ini baru ku sadari bahwa sebagian orang tidak keberatan melihat kita berjuang. Mereka hanya keberatan jika perjuangan itu menghasilkan keberhasilan yang melampaui diri dan standarnya”
Selama kita masih berada di bawah, keberadaan kita barang tentu tidak akan mengganggu apa pun dari mereka. Kita adalah pengingat yang nyaman bahwa hidup memang keras dan nasib setiap orang sudah semestinya menerima tempatnya. Lalu diam-diam kita tumbuh melampaui bayangan yang mereka tetapkan, tiba-tiba keberhasilan kita dianggap sebagai kesombongan, perubahan kita ditafsirkan sebagai suatu kepalsuan, dan kebahagiaan kita dilihat sebagai sesuatu yang patut dicurigai. Wht the fck of u!
Di titik itu, saya belajar bahwa tidak semua orang yang mengenal masa lalu kita bersedia menerima masa depan kita.
Ada yang ingin kita sembuh, tetapi tidak lebih sehat darinya. Ada yang ingin kita berhasil, tetapi tidak lebih berhasil darinya. Ada pula yang menyebut dirinya sahabat, padahal diam-diam menjadikan hidup kita sebagai kompetisi yang bahkan tidak pernah kita daftarkan.
Barangkali itulah bentuk paling sederhana dari kedengkian; “ketidakmampuan menikmati hidup sendiri karena terlalu sibuk menghitung kemajuan orang lain.” Atau bagaimana perasaan mu?
Maka, tumbuhlah. Bukan untuk membuktikan bahwa mereka salah, melainkan karena hidupmu terlalu berharga untuk dijadikan panggung pembuktian bagi orang-orang yang bahkan tidak ikut membiayai perjuanganmu. Tidak mendampingi prosesmu. Juga tidak mendoakan keselamatanmu. Kedekatan tidak selalu melahirkan ketulusan.
Toh ujungnya, kita tidak punya kewajiban untuk mengecilkan cahaya hanya agar orang lain tetap nyaman dengan kegelapannya sendiri. Malu kali menganggap kebahagiaan orang lain sebagai sebuah ancaman atau provokasi.
Selama kita masih berada di bawah, keberadaan kita barang tentu tidak akan mengganggu apa pun dari mereka. Kita adalah pengingat yang nyaman bahwa hidup memang keras dan nasib setiap orang sudah semestinya menerima tempatnya. Lalu diam-diam kita tumbuh melampaui bayangan yang mereka tetapkan, tiba-tiba keberhasilan kita dianggap sebagai kesombongan, perubahan kita ditafsirkan sebagai suatu kepalsuan, dan kebahagiaan kita dilihat sebagai sesuatu yang patut dicurigai. Wht the fck of u!
Di titik itu, saya belajar bahwa tidak semua orang yang mengenal masa lalu kita bersedia menerima masa depan kita.
Ada yang ingin kita sembuh, tetapi tidak lebih sehat darinya. Ada yang ingin kita berhasil, tetapi tidak lebih berhasil darinya. Ada pula yang menyebut dirinya sahabat, padahal diam-diam menjadikan hidup kita sebagai kompetisi yang bahkan tidak pernah kita daftarkan.
Barangkali itulah bentuk paling sederhana dari kedengkian; “ketidakmampuan menikmati hidup sendiri karena terlalu sibuk menghitung kemajuan orang lain.” Atau bagaimana perasaan mu?
Maka, tumbuhlah. Bukan untuk membuktikan bahwa mereka salah, melainkan karena hidupmu terlalu berharga untuk dijadikan panggung pembuktian bagi orang-orang yang bahkan tidak ikut membiayai perjuanganmu. Tidak mendampingi prosesmu. Juga tidak mendoakan keselamatanmu. Kedekatan tidak selalu melahirkan ketulusan.
Toh ujungnya, kita tidak punya kewajiban untuk mengecilkan cahaya hanya agar orang lain tetap nyaman dengan kegelapannya sendiri. Malu kali menganggap kebahagiaan orang lain sebagai sebuah ancaman atau provokasi.
Love and prayers,
Sena




