Selamat berkurang usia, Ayang 🤍

Akmal sedang naik angkot menuju sate maranggi dekat rumah yang ternyata pas sampai udah tutup permanen 🙏🏻

Hari ini, orang yang paling kutunggu kepulangannya, yang video call nya membuatku bersemangat dan menyenangkan setiap kali bersamanya, sekaligus orang yang paling sering menjadi sasaran keisengan kecilku itu berulang tahun gais.
Aku merasa, menikah dengannya adalah salah satu keputusan paling masuk akal yang pernah kubuat, meskipun setelah itu konsekuensi logisnya adalah suamiku lebih sering sibuk mengurus umat daripada mengurus dirinya sendiri.
Begitulah suamiku.
Orang yang tinggi ilmu dan luas kesabarannya tetapi tidak pernah merasa perlu berdiri lebih tinggi dari orang lain. Banyak membaca, banyak berpikir, banyak berdiskusi, dan tetap selalu bertanya menggali hal-hal baru kepada siapapun yang ia jumpai, dimanapun.
Ada kalanya sebagai kekasih hati aku ingin protes. “Yang… yang… kadermu iki memang banyak, iki loh istrimu cuma satu.” Tapi yaaa mau diapa, barangkali memang begitulah cara Tuhan membentukmu. Memberimu hati yang tidak pernah cukup hanya untuk dirinya sendiri.
Kehidupanmu sebagian besar kauhabiskan untuk sesuatu yang lebih besar daripada dirimu lalu pulang dengan tubuh lelah namun isi kepala tidak pernah rehat. Persis “Crowded seperti perempatan lampu merah New York”.
Selamat ulang tahun, suamiku. My 24/7 human-diary. Tempat semua cerita akhirnya pulang. Tentang hari yang menyenangkan. Tentang orang yang menyebalkan. Tentang hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting namun pasti kuceritakan. Tentang mimpi-mimpi yang belum selesai. Tentang rencana yang terlalu banyak. Tentang masa depan yang kadang terlihat terang, sering juga merasa hidup sesekali muram. Dia mendengarkan semuanya. Manusia biasa kesayanganku yang kepadanya aku tidak perlu menjelaskan terlalu banyak yang penting ada bagiku itu sangat berharga.
Ada semacam paradoks yang menyenangkan dalam dirinya; kepalamu sering berada di antara peta-peta besar kehidupan, namun hatimu tetap tinggal di tempat yang sederhana. Mungkin itu yang membuatku betah. Sebab dunia sudah cukup banyak dipenuhi orang yang ingin terlihat hebat. Aku justru beruntung mendapatkan seseorang yang tidak terlalu sibuk terlihat hebat, tetapi diam-diam menghabiskan hidupnya untuk melakukan banyak hal baik meski gak keliatan.
Ditengah banyak rencana yang akan berubah karena hidup memang senang membuat kejutan. Aku tahu satu hal, Aku ingin tetap berada di dalam hidupmu. Saat semuanya berjalan sesuai rencana, maupun ketika semuanya mungkin berantakan. Saat kamu sedang percaya diri, maupun ketika kamu mulai meragukan segalanya. Saat kita sedang punya banyak uang untuk jalan-jalan, maupun ketika akhirnya perjalanan harus berhenti karena “saldo anda tidak mencukupi”.
Selamat berkurang usia, suamiku. My favorite kongkow partner. My personal comedian. And absolutly my forever travel buddy. Semoga Allah selalu memberikanmu kesehatan, lahir dan batin. Semoga ilmu dan pengalaman yang kamu miliki semakin menjadi cahaya, bukan tumpukan beban. Semoga langkahmu dalam mengurus dan membersamai umat selalu diberi kelapangan. Semoga mimpi-mimpi yang selama ini kamu simpan satu per satu menemukan jalannya untuk menjadi kenyataan. Dan kalau nanti semuanya tercapai, jangan lupa aku ikut merasa punya saham di dalamnya. Saham mencintai dan mengasihi 😆
I’m always be on your team!
Bukan karena kamu selalu benar (jujur itu klaim yang berbahaya untuk dibuat oleh seorang istri), tapi karena setelah sekian banyak perjalanan, aku tahu kamu adalah orang yang ingin terus kupilih.
Hari ini, besok, dan seterusnya.
Happy birthday, Ayang.
I love you, forever and beyond. 💋
Jakarta, 22 September 2026

Biar Nggak Pekok-Pekok Amat, Membacalah (Walau Cuma Pelarian~)

''Membaca itu sebuah rahmat. membaca adalah sebuah kebahagiaan" -Goenawan Mohamad
Belakangan, saya merasa membaca adalah pelarian. Medium paripurna untuk membebaskan pikiran. Proses memerdekakan pikiran dari hal-hal yang sungguh wajib dikerjakan. Membaca apa saja yang penting bukan urusan pekerjaan dan kuliah (semua saya lakukan kecuali tugas-tugas itu LOL). Itulah mengapa saya menyebutnya pelarian. Lagipula, membaca memang butuh nyali buat membedah subjek-subjek asing yang berpotensi menggugat pandangan mapan di kepala kita. Pandangan yang saking asingnya, acap kali memancing kebencian, ketakutan, dan prasangka begitu memasuki alam pikiran. Kamu kapan terakhir membaca?
 
Tapi, ya gak apa-apa. Minimal banget kamu masih sudi mengeja huruf! Melewati proses yang tadinya tidak kamu ketahui menjadi kamu pahami. Biar gak pekok, gak sok tahu dan ngangong-ngangong pada saat bercengkrama dengan orang lain. Inget kata Ayahanda Richard Feynman, “When you are dead, you don’t know you are dead. It’s pain only for others. It’s the same thing when you are stupid.
 
Pun, dalam ajaran seperti Buddhisme ketidaktahuan atau kebodohan spiritual (avidya) itu dianggap sebagai akar utama penyebab penderitaan manusia (Buddha on ignorance: the darkness that rules you). Kebodohan adalah dosa besar selain perzinahan dan pembunuhan sebab ia seperti menyulitkan dirinya sendiri dan orang lain. Lalu apa sebetulnya indikator seseorang dikatakan bodoh? Adalah pada saat individu gagal melakukan proses berpikir. Tidak ada tahapan berpikir di kepalanya, setiap informasi ditelan mentah-mentah, dibantah serampangan dan di hakimi secara ekstrem. (lain kali kita bahas soal bagaiamana cara berpikir yang baik dan benar sesuai tahapan dan siklusnya).
 
Omongan diatas mungkin terdengar satire, tapi resapi saja pelan-pelan. Sebab faktanya, orang bisa menulis karena banyak membaca, orang bisa bertanya karena rajin membaca (mengamati dan dan memahami), barulah bisa punya tiket untuk berdiskusi dengan orang lain. Berdiskusi itu sudah ada di level yang berbeda, ia seperti belajar mengendarai sepeda. Kamu harus terjatuh berulang kali, bangun, dan mencobanya terus sampai berhasil mengayuh dengan lancar. Begitu kurang lebih maksud Larry King dalam bukunya “Seni Berbicara”.
 
Tentu saya juga masih dan akan terus belajar. Soal kesemuanya: Membaca, menulis, berbicara dan berdiskusi pada level tertentu. Saya percaya Siapapun individu yang tidak menyadari keterbatasan akan dirinya, perlahan ia akan sulit mengerti dan tidak mau mengakui kelebihan orang lain. Padahal tidak ada kemampuan atas diri untuk sampai, namun wajib ada padanya perjuangan untuk kembali dalam perjalanan pulang. Walau tidak pernah sampai. Kepada Rumi, saya berterimakasih telah mengiringi perjalanan saya sejak muda.
 
Untuk kamu yang sudah di tahap menjadikan “membaca sebagai minat”, goodjob! Tapi tolong, jangan arogan, kita masih harus belajar menjadi tidak penting, sebab tanpa kita pun, dunia dan seisinya akan baik-baik saja. Justru karena kita lah dunia ini seringkali kerepotan.

Jadi, buku atau cerita apa yang selanjutnya akan kamu baca?
 
Jakarta, 10 September 2026
 
Love and Prayers,
Sena.

 

Marriage Life 6 (Unicorn "Fantasi Yang Mustahil")

Apa yang membuat seseorang cocok berpasangan? Latar belakang ekonomi yang sama? Cara pandang terhadap politik yang serupa? Sama-sama punya daya tarik? atau pola asuh yang mirip? misal: sama-sama dari "keluarga besar yang berbahagia." Artinya, Persepsi yang kita butuhkan "untuk punya keluarga besar yang berbahagia" tak melulu harus pernah melihat atau membuktikannya.
 
Apakah yang miskin, kecanduan wanita, berlatar cara pandang arogan, manipulatif dan pemakai narkoba dapat mendapatkan pasangan yang sebaliknya? Kira-kira orang seperti apa yang mau bersama dengan entitas tersebut?
Apakah berkencan adalah suatu kalkulasi? Bagaimana dengan cinta? Seperti apa rasanya berelasi dengan seseorang yang under qualified? Pernah ada yang bilang, "rasanya seperti menjadi orangtua". Akui saja. Lelahkan? 😂
 
Bisakah kita membenci pasangan yang berkualifikasi rendah? Atau justru dengan memiliki pasangan yang demikian, kamu perlahan membenci dirimu sendiri? "Aku ingin membuatmu bahagia" dan "ya! itu cukup membuatku merasa berbahagia". Dari sanalah biasanya datang kebencian; dari kemiskinan, penderitaan, pesakitan, dan ketidakmampuan.
Pernah kah kamu melihat itu dari orangtua mu? Sebab umumnya anak-anak meniru cara orangtuanya berbahagia dan bertengkar.
 
Sekarang gantian, kapan kamu mulai menyukai pasangan mu? Apakah saat mereka membayar tagihan mu? Dengan cepat. Tanpa ragu. Tanpa takut. Banyak diluar sana yang berhasil mendapatkan unicorn "fantasi yang mustahil" atau pasangan idaman yang sempurna orang menyebutnya. Meski peluangnya kecil mereka saling bersabar dan menemukan.... Dan dapat!

Mereka yang memiliki kecerdasan, pendapatan yang ideal, pendidikan ideal, gaya hidup yang ideal, tinggi ideal, rupawan, tubuh bagus dan menawan, dilahirkan, dibesarkan dan masih mewariskan kekayaan. Sempurna untuk setiap kategori. Paket komplit tanpa diskon. Misal sekarang kamu sudah bersama pasangan yang plusnya lebih banyak dari plus mu, berarti selera nilai mu sama dengannya. 

Menurut mu, apakah orang-orang dengan ciri tersebut masih butuh "mahar" sebagai kompensasi kategori dari pasangannya? Jika tidak, bagaimana perhitungan "ketulusan" itu berlangsung? Siapa dan dimana marketnya? Apakah paket mahar komplit tersebut kamu butuhkan? Meski kamu berada di leverage yang sama.

Bapak ku pernah berpesan, "kelak kalau kamu mau berpasangan dan menikah, terimalah laki-laki yang memahami bagaimana dunia bekerja biar tidak miskin! Dia yang akan selalu kamu hormati dengan begitu dia akan selalu hati-hati, yang kamu percayai, yang membuat mu merasa aman dan nyaman, dan harus pandai sepertimu. Jangan bersama seseorang hanya karena aset material, karena memungkinkan kamu salah menghitung nominalnya. Selain itu, nilai aset material murah dan tak bertahan lama". Apa jangan-jangan Bapak ku jelmaan Ronald Dworkin~

Appa tenang, aku selalu menjadi ratu di kerajaan ku sendiri! Tidak menikahi raja di kerajaan orang lain hanya untuk menjadi ratu. Akan kujaga kerajaan kami biar tetap jaya di dunia sampai akhirat.

And yaaa... Bersama Akmal, aku mewujudkan aset tak berwujud ku!. Tidak menurun nilainya malahan semakin ku pertajam. Lagian sebelum menikahinya pun aku sudah melengkapi diriku dan cukup untuk kami berdua. Semoga menerus menjadi rekan berkasih sayang, mengamalkan cinta yang realistis juga bersetia. Jika boleh ku definisikan, bersama Akmal itu seperti bersama bapak ku. Aman, nyaman, berharga, bebas, kalau sudah mencintai seseorang tak ada lagi kalkulasi. Cinta yang rasional and persona yang potensial.

Cinta Akmal di usia muda yang penuh romansa, beralih bentuk menjadi cinta yang rasional berupa tanggung jawab dalam perkawinan. Tiada cinta yang bisa diikat tanpa perkawinan: dalam ikatan saja masih bisa bubar apalagi relasi tanpa kesepakatan se-iya - se-kata di hadapan Tuhan dan negara.

So, apa sebenarnya yang membuat dua manusia cocok satu sama lain? Apakah sesuai thesis awal: persamaan ekonomi, agama, selera, politik? atau ada hal lain seperti aku dan suamiku. 

Yogyakarta, 16 Februari 2026

“Tangguh” Bukan Kehormatan, Tapi Cara Bertahan

"Penghargaan yang membuatku sungkan~" 
Barangkali ini bukan sesuatu yang bisa dibanggakan. Tapi saya agak terharu hari ini, bukan karena merasa hebat, tapi justru karena merasa bingung dan sungkan. Dalam dunia gerakan perempuan, saya lebih lama di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Tapi, setelah menikah saya coba menjalankan keduanya. Korps IMMawati IMM Dewan Pimpinan Pusat dan Nasyiatul Aisyiah.
 
Beberapa waktu lalu, saya dihubungi salah satu Yunda PWNA, katanya ada undangan acara Milad ke-94 Nasyiatul Aisyiyah. Saya pikir ini undangan biasa: datang, duduk, dan nikmati snack yang disediakan panitia, sukur-sukur pulang dapat totebag. Wkwk Ternyata, saya dapat undangan sebagai penerima penghargaan. Loh kok isho?
 
Lama saya bergumam dalam hati, "Apa yang saya telah lakukan hingga layak dapat penghargaan. Apakah dilihat dari jumlah kasus yang saya respon selama saya di Nasyiah, atau inovasi apa yang kemudian saya torehkan hingga dapat apresiasi ini. Sedangkan, saya yakin di luar sana banyak sekali perempuan tangguh sesungguhnya yang lebih progresif dan justru jauh dari sorot dan pengakuan.” Jadi sebetulnya saya sangat sungkan.
 
Penghargaan ini bikin saya mikir. Apa sebenarnya parameter “perempuan tangguh” itu? Tentu saja bukan hanya soal sebarapa banyak kasus yang saya dan tim advokasi, bukan jumlah forum yang saya dihadiri, juga bukan soal seberapa besar saya bersabar dengan situasi yang kompleks, tidak menangis meski dituduh bawa agenda asing gara-gara membela korban kekerasan seksual atau sering dibilang tidak becus bahkan oleh sesama perempuan!. Dalam konteks ini, saya sering merasa "Siapapun tolong advokasi saya!" haha
Lucunya, semakin saya mencoba menganalisis alasan kenapa saya dapat apresiasi ini, semakin saya sungkan. Tapi bukankah itu ironi paling manusiawi? Bahwa justru yang layak diakui adalah mereka yang tidak mengejar pengakuan itu sendiri?
 
Saya bukan siapa-siapa tanpa tim! Saya berada di antara banyak perempuan yang memilih tidak berdiam diri dan menikmati hidup dengan tenang, mapan dan nyaman. Di antara mereka yang tak tertulis dalam narasi-narasi publik, tak tercetak dalam pamflet, namun langkahnya inovatif, sabar dalam keterbatasan SDM dan anggaran, dan itu saban hari. Ketika negara gagal melindungi, mereka hadir menyediakan perlindungan alternatif.
 
Tentu saya bersyukur. Penghargaan ini semacam pengingat bahwa perjuangan masih sangat Panjang. Kerja-kerja sunyi yang kita lakukan kadang dinegasikan tapi juga ternyata ada yang memperhatikan. Saya harus bilang: perempuan-perempuan tangguh itu banyak. Yang lebih tajam, lebih lantang, lebih berani dan lebih nekat dari saya. Tidak sedikit yang tidak pernah dapat sorotan tapi justru jadi panggung buat orang lain. Kalau saya hari ini yang dapat penghargaan, mungkin karena yang lain sedang sibuk bertahan meski dunia bilang, “sudah menyerah saja!”
 
Terakhir, saya persembahkan apresiasi ini buat seluruh perempuan muda utamanya kader Nasyiatul Aisyiah Kota Yogyakarta dan siapa pun yang masih percaya bahwa advokasi sosial bukan hanya tentang kertas kerja dan diskusi belaka, terima kasih. Mustahil kita bisa menyelamatkan semesta. Tetapi, setidaknya kita berusaha tidak menjadi bagian dari yang merusaknya.
 
Kita semua sedang berjuang. Dengan cara kita masing-masing. Dengan lelah yang sama, dan cinta yang mungkin diam-diam saling menguatkan. Saya lebih senang memaknai "tangguh", ya kata lainnya keras kepala. Sebab dunia gak dirubah oleh orang yang menerima-menerima saja.
 
Yogyakarta, 28 Juni 2025

 

 



Kemungkinan yang Terbuka (GKR Hemas)

 
Ada hal-hal yang tak bisa kita tolak, bukan karena kita orang gak enakan, tapi karena kita tahu: kehadiran kita sangat dibutuhkan.
 
Hari ini setelah jadwal mengajar saya buru-buru menuju Kraton Kilen Yogyakarta, tempat pertemuan empat mata antara Jokowi dengan Sultan Hamengkubuwono X. Bersama ketiga teman pergerakan ku di Nasyiatul Aisyiah kami duduk di antara pilar-pilar sejarah, berbincang dan berdiskusi soal banyak hal memenuhi undangan Ibu Gusti Kanjeng Ratu Hemas (istri Sultan Hamengkubuwono X Yogyakarta).

Sebuah kehormatan dapat melihat sedikit banyaknya isi Kraton Kilen, jantung Daerah Istimewa Yogyakarta. Bukan untuk menyaksikan pertunjukan budaya atau upacara simbolik namun duduk satu meja dengan GKR Hemas dan membicarakan bagaimana perempuan harus bergerak serta menyoal hal-hal yang barangkali dianggap terlalu “kasar” untuk ruang-ruang berlapis sejarah: kekerasan seksual, ketimpangan relasi kuasa, dan hal-hal yang hanya boleh disebutkan dengan pelan. Ya! Kraton Yogyakarta, tempat segala narasi tentang kuasa dan budaya berkelindan menjadi satu.

Saya datang tanpa ekspektasi apa-apa. Berangkat dari kegelisahan sudut-sudut organisasi akar rumput yang berupaya mengambil peran dalam setiap tantangan zaman. Out of expectations, GKR Hemas membuka ruang tabu itu dengan cara yang sederhana: mendengarkan, lalu merespon tanpa menggurui. Tidak menyepelekan, intens dan lumayan consent dalam isu ke-perempuan-an. Bagiku, dalam lanskap sosial yang masih sangat patriarkis seperti Yogyakarta, ini adalah sikap langka yang luar biasa. Tidak hanya berwawasan tapi beliau juga punya karakter yang open minded serta asertif.

GKR Hemas, seorang pemimpin perempuan yang tidak hanya hadir sebagai simbol, beliau ada sebagai sosok yang terbuka pada kritik, pada perbedaan pendapat, dan pada suara generasi yang jauh lebih muda seperti kami. Misalnya, perempuan nomor satu di DIY itu sudah aktif mengadvokasi soal kekerasan seksual terhadap perempuan itu sejak tahun 1980. Bahkan, Ibu Ratu memiliki peta bagaimana pola kekerasan ini terjadi khususnya di DIY. Beliau sadar betul bahwa advokasi tidak cukup berhenti pada narasi. Ia butuh struktur. Mekanisme pengaduan yang aman. Layanan pemulihan yang profesional. Anggaran yang berpihak. Kebijakan yang tidak hanya berbunyi “melindungi perempuan”, tapi juga bekerja untuknya dalam praktik nyata.

Saya tidak sedang meromantisasi pertemuan ini. Yang jelas saya melihat persis bagaimana beliau menanggapi secara jernih setiap isu yang coba kami gagas, serta membuka ruang kolaborasi utamanya dalam kerja-kerja advokasi. Bagiku, diundang ke Kraton bukan tentang pengakuan. Lebih dari pada itu tentang kemungkinan. Bahwa ruang-ruang yang selama ini terasa jauh sulit dicapai, tertutup, terlalu formal, tidak ramah anak muda, ternyata bisa loh diakses dan diisi. Bahwa pertemuan antara tradisi dan gerakan aktivisme perempuan tidak selalu berujung benturan. Kadang, ia bisa jadi titik temu yang progressif!

Dari titik temu itulah, kita bisa mulai merancang jalan yang lebih panjang. Jalan yang lebih adil. Jalan yang mendengar dan melibatkan perempuan—bukan sebagai angka, bukan sebagai korban, tapi sebagai subjek yang berpikir, berbicara dan bergerak secara massif.

Hari ini saya pulang dari Keraton dengan perasaan ringan. Bukan karena persoalan telah selesai. Tapi karena saya tahu, satu ruang telah terbuka. Dan itu cukup untuk kembali bekerja dengan keyakinan bahwa perubahan, seberapa kecil pun, tetap mungkin diperjuangkan. Plus bonus foto bareng! Penting ini wkwkwk

Yogyakarta, 27 Mei 2025

Otakku Wis Mbutek, My Brain Needs A Break, Please!


Hari-hari belakangan ini berasa seperti rangkaian tabrakan kecil antara waktu, tanggung jawab, dan tenaga yang mulai tandas. Memang, ada kepuasan dalam kesibukan, tapi juga kelelahan yang merayap pelan, menggerogoti batas-batas kesabaran.

Pernah gak kepala mu penuh—bukan oleh ide, tapi oleh deadline yang datang bersamaan. Membagi fokus dan prioritas, aku mulai kehilangan batas mana yang lebih dulu harus ku selesaikan. Ada juga yang gagal dikejar padahal sudah dipersiapkan. Yaa, mau di apaa 😂

Rasanya tu kayak hidup dalam tab browser yang terlalu banyak dibuka dan semuanya memutar loading bar bersamaan. Overheat! Otakku terasa seperti rice cooker yang kelamaan dicolok, lampunya masih nyala tapi nasinya udah mengering. 🤣

Meski begitu, batinku bilang "Alon alon waton kelakon". Di tengah dunia yang terus bergerak cepat, bisikan itu terdengar seperti pelampung di arus deras. Toh hidup kan bukan soal seberapa cepat kita sampai, tapi apakah kita masih bisa tersenyum dan enjoy ketika tiba di sana. Aseeeek! Alibi-alibinya wkwk

Tapi tetep kerjain si Sen!

Yogyakarta, 20 Mei 2025

Marriage Life 5 (Minggu Bersama Akmal)

 

Berbekal komitmen dan tanggung jawab yang diiringi pembuktian, saya dan Akmal menjalankan ibadah perkawinan di tahun ke-tiga ini dengan long distance marriage atau pernikahan jarak jauh. Tidak ada jadwal khusus atau pasti kapan waktu untuk sejoli ini bertemu, kadang saya yang geser ke Jakarta sering juga Akmal yang bolak-balik Jogjakarta.
 
Setelah berpisah di stasiun Tasikmalaya beberapa hari lalu, hari ini pertemuan pertama kami selepas lebaran. And of course, I love seeing my dear husband whenever and wherever i can!.
Perjalanan pulang Akmal kali ini bukan karena rindu, tapi karena tugas dinas kantor yang kebetulan searah rumah. Wkwk
 
“Deket banget yah Jogja-JKT udah kayak kostan” ungkapnya sambil memeluk ku saat baru tiba di rumah dini hari kemarin. Tentu saja kepulangan ini harus dirayakan dengan ngedate bareng. Pergi nonton film horror kesukaan, makan burger kesukaan, pijat reflexology favorite lalu ditutup dengan ibadah ngopi (masih sambil kerja) favorite juga. Alhamdulillah.
Qodrat 2 (film suamiku Akmal G Bastian). 10/10 ges.
Gofood cheese burger favorite
My briliant husband
 
Bicara soal LDM setidak-tidaknya ada dua catatan yang menurutku penting sebagai refleksi.
 
Pertama, biaya bolak-balik. Jarak antara suami dan istri kerap menuntut pengorbanan materi. Satu kali biaya kereta perjalanan Akmal dari JKT - Jogja sekitar Rp 500.000-Rp 800.000. Bayangkan jika pulang minimal 2 kali dalam setiap bulan. Besarnya modal untuk menebus perjumpaan membuat kami melakukan beragam pekerjaan. Kadang yo buruh riset, mengajar, selain bekerja tetap di suatu instansi pemerintahan. Bagi kami saat ini, rasanya lebih tepat menambah pendapatan ketimbang mengurangi jumlah pertemuan. Ehe~
 
Hubungan sakinnah, mawaddah, warohmah membutuhkan cara mengatur keuangan yang tepat.
Tak heran kami menjadi pasutri yang kaya. Kaya mental maksudnya!~ Haha. 
 
Kedua, kaya secara mentalitas. Pernikahan jarak jauh sangat dibentuk sekaligus membentuk mentalitas suami istri. Prof. Tina Afiatin seorang Psikologi Perkawinan dan Keluarga mengatakan “Relasi pasangan suami istri (pasutri) serta perselingkuhan menjadi salah satu persoalan dalam keluarga. LDM turut disebut sebagai pemicu.” Jangan bosen mengasah skill komunikasi kita sebagai person untuk merawat hubungan yang jauh secara fisik. Iman dan komunikasi yang excelent mutlak mendekatkan batin semakin lekat dan menjauhkan jin dasim dalam bentuk orang ketiga misal.

Hubungan jarak jauh bukan maut bagi rumah tangga. Dengan syarat ada komitmen, effort, tanggung jawab dan konsekuensi, target dan tujuan bersama, kepercayaan, serta rasa syukur. Jarak tak berarti apa-apa, utamanya dihadapan  financial maturity sebuah hubungan (rumah tangga).

Menjalani hubungan jarak jauh justru menjadi petualangan romantis asalkan tidak terjebak dalam power relation, insekuritas, atau hal-hal untuk menyabotase diri yang bakal merusak hubungan.
Hati-hati di jalan, suamiku. Semoga selamat sampai tujuan dan segera pulang lagi ke Jogja 😅
 
Yogyakarta, 13 April 2025.