Showing posts with label buku. Show all posts

Yang Menawan, Yang Memprovokasi Pemikiran


Perjalanan setiap kita itu sifatnya rahasia. Kalaupun kita sama-sama berjalan, perjalananmu bukanlah perjalananku. Apakah setiap pejalan adalah pengembara? Barangkali iya, tentu juga tidak. Setiap hari kita melangkah hanya untuk nunggu giliran: kapan hari-hari indahku tiba? Kenapa hal-hal baik tak kunjung datang? Kenapa yang membahagiakan cepat sekali berubah?. 
Pikiran-pikiran baru yang segar dan menggoda, sungguh aku sudah siap berkemas dan memasukan perbekalan. Kapan petualanganku kembali dimulai?. Sesulit apapun jangan membatalkan permohonan. Jangan jadi pemurung!

“Aku hanya ingin berbahagia”, menerus kau ucapkan. Tak jarang sesuatu yang sepele hadir dari ketakutan yang tak perlu. Kehilangan pekerjaan, putus cinta, kebutuhan rumah tangga, dan masih menjadi beban keluarga di usia yang sungguh tak lagi muda membuat banyak dari kita menjadi suka “ber-pergi-an”. Di satu sisi, hal ini membuat orang mendapati pelajaran, sisi lainnya membuat mereka tersesat dan sulit menemukan jalan keluar. Mereka menjadi pemilik pengalaman yang tidak menyenangkan. Berasa menghabiskan waktu dalam labirin belaka. 

Jika kamu penasaran, apa yang bisa kita lakukan untuk menemukan kebahagiaan? Coba mulai memberi nama pada setiap kebahagiaan yang kita inginkan. Aku berbahagia setiap dialog bersama suamiku, maka aku lebih banyak menyimak dan mendengarnya. Berarti nama kebahagianku adalah berselancar membaca setiap isu terkini pada beranda handphone ku. Andai pasanganku membuka obrolan dengan topik apapun, aku tahu dan menikmatinya. Coba lakukan dengan caramu.

Alih-alih didekap kekhawatiran, hidup adalah serangkaian pilihan-pilihan dengan konsekuensi yang menunggu. Kamu takut patah hati, maka jangan sesekali niat jatuh cinta. Dalam rupa-rupa hidup yang paradoksial, semoga kamu mujur dicintai orang yang kamu cintai. Sebab kita punya keterampilan untuk menjalani kehidupan, sudah selayaknya menghargai hidupmu. Uang, kesenangan, spiritualitas, keluarga dan Mirota hanya hidangan pembuka, lalu apa dan dimana letak kebahagiaan sejati? Apakah aku sanggup meraih kebahagiaan sejati? Kebahagiaan yang acap kali menjadi ukuran atau mencerminkan kesejahtraan individual.

Bertahun-tahun bersama filsafat, saat kegetiran hidup mendera, para filsuf pun tidak cukup berhasil meyakinkanku bahwa semua baik-baik saja. Menurut Marcus Aurelius, kebahagiaan adalah keberuntungan yang diberikan para dewa zaman dulu, sayangnya tidak semua orang beruntung dalam kehidupannya. Di zaman ini, pemikiran mulai bergeser “kebahagiaan tidak hanya didapatkan tapi kebahagiaan juga diciptakan”. Dan saya bersama jutaan orang modern lainnya, sudah berusaha. 

Arthur Schopenhauer, seorang filsuf Jerman penulis “Wisdom of Life” bilang bahwa kebahagiaan tidak hanya ada dalam diri kita tapi juga di luar sana. Atau lebih tepatnya, garis antara di luar sana dan di dalam sini tidaklah ditentukan setegas seperti yang kita kira. Banyak orang merasa bahwa mengutamakan yang di dalam lebih penting dari pada yang diluar dan yang lain berpikir bagian luar lebih harus didahulukan dari pada bagian dalam untuk kita bisa berbahagia. Padahal yang sebenarnya terjadi, kedua sisi ini berjalan bersama. Kita tidak bisa mendapat “di dalam sini”, kecuali kita mempunyai “di luar sana”. Dengan kata lain, dimana kita adalah sangat penting bagi siapa kita, untuk berbahagia.

Setelah ini semoga kamu sadar bahwa kita sudah terlalu lama hidup menggabungkan kebahagiaan dengan lingkungan, kebudayaan, niat, spiritualitas, geografi, dan moral-moral yang seolah ada. Moral membuat batasan seolah tidak boleh ada kebahagiaan dalam kemiskinan atau kedukaan. Menyimpan kebahagiaan seolah ada diatas atlas, kita bisa menemukannya jika kita memiliki peta. 

Tahukah kamu bahwa saking seriusnya orang mencari kebahagiaan dengan barbagai cara, seorang professor Belanda bernama Ruut Veenhoven: Bapak Riset Kebahagiaan dia mengelola sesuatu yang disebut database kebahagiaan dunia (World Database of Happines - WDH). Ini bukan lelucon, Veenhoven telah mengumpulkan ilmu pengetahuan, lokasi, alasan, orang, dan hal-hal diluar sana yang bisa membuat orang bahagia. Jika memang ada, peta jalan kebahagiaan diluar sana: peta kebahagiaan, maka Veenhoven ingin mengetahui, membuat kompilasinya lalu menyebarkannya sehingga tidak ada lagi orang yang mati dengan alasan mencari kebahagiaan.  

Perenungan tentang kebahagiaan tentu saja bukan hal baru. Orang Yunani dan Romawi Kuno telah banyak menyelaminya. Para filsuf memeras otak memikirkan pertanyaan-pertanyaan abadi, kemudian orang-orang yang berkulit lebih pucat yang jauh dari Yunani dan Romawi bergabung merenungkan dan mengemukakan pendapat tentang kebahagiaan, seperti: Kant, Nietzsche, Mill, Larry David, dan lainnya. Begitu juga dengan saya, disela-sela hidup dengan segala tuntutannya, saya dan suamiku banyak menghabiskan waktu di Blandongan (tempat ngopi) merenungkan dan menulis betapa banyak kesulitan hidup yang tidak mungkin dilepaskan. Seperti saat saya membuat catatan ini.

Selamat menyibukan diri dengan apa yang orang Prancis sebut, la chase au bonheur atau “Perburuan kebahagiaan”.
 
Yogyakarta, 21 Februari 2024

Keberhargaan Waktu


"She’s a 10 but she spends most of her time laying in bed doing nothing. Life lately."
Why?
Dua April lalu, seorang adek tingkat mengirim pesan padaku, "Teteh... Rekomendasi buku terbaru yang teteh baca dong.... Eh ralat, cara nulis refleksi gimana teh? Aku udah baca semua blog teteh tapi belum ada lagi yang terbaru."

Adek tingkat ku bertanya tentang buku terbaru sebab ia ingin membaca. Dia sudah selesai membaca tulisanku di blog dan bilang tak ada lagi tulisan baru yang bisa dibaca. Ia orang kesekian yang mengeluh, kenapa tidak rutin upload tulisan lagi? Dan sebetulnya ndak cuma di blog, di platform lain misal YouTube beberapa orang minta konten podcast terbaru. Tapi apa daya, hidup kerap membuat ku terlena. Saat ini aku sangat suka menghabiskan waktu setiap saat (meski kadang tidak produktif) dengan suamiku ketimbang menulis, barangkali besok atau tulat.

Menulis bagiku guna melancarkan pikiran. Entah mencatat kekecewaan, mengurai kebahagiaan atau mengambil pelajaran berharga dari perjalanan laku hidup manusia lain. Biasanya, jika hidup adem ayem, lancar jaya, tak banyak tulisan yang dapat kubagi. Berbalik, jika pikiran ruwet, hati kegores, muncul tulisan baru sebagai refleksi. Jelas hidupku tidak mungkin mulus-mulus saja, banyak kejadian yang ku notice tapi aku jarang menulis, sehingga aku berkesimpulan bahwa aku malas menulis. 😂

Sedangkan, tulisan terbaik itu ya tulisan yang selesai! Tunggu, emang kamu masih ingat caranya menulis? Hati-hati lho, kiamat kecil seorang penulis adalah saat ia bingung harus mulai meruntut ide dari mana? Parahnya adalah kamu lupa bagaimana caranya. Bukan soal tulisan rapi atau berantakan. Valuable atau doesn't make sense. Sing penting rampung wes!

Keberhargaan waktu
2023 sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, akan menjadi tahapan selanjutnya dari proses pendewasaan. Pentingnya memelihara harapan dan merangkul memori-memori yang baik atau buruk, yang indah atau memedihkan. Menyoal waktu, ada dua hal yang keterkaitan dengannya: being and time. Maknanya ialah keberadaan dan waktu. Sepenuhnya jiwa kita hadir dalam setiap waktu yang kita jalani.

Saat masih gadis ibu ku bilang begini, "Teteh... perkawinan itu gerbang kehidupan" (bagi mereka yang memutuskan untuk menikah). Kenapa begitu? Sebab jika kamu menikah dengan orang yang tepat maka hidup akan terasa amat cepat. Namun, sebaliknya jika salah pilih orang maka setiap harinya adalah musibah. Dan betul lah, belakangan ini tak terasa tetiba sudah lima bulan saja melewati masa-masa sebagai pasutri. Rasanya masih seperti 2018 silam, berkawan saat sesama menjadi pimpinan bidang keilmuan cabang IMM AR-fakhruddin Kota Yogyakarta. Konsep being and time bagiku setelah menikah tak lain ya suamiku.

Saya tidak sedang membual, saya bahagia dan bersyukur tiap kali Akmal mendaratkan ciumannya ke jidat sebelum tidur, memeluk dan berterima kasih untuk apa-apa yang setiap hari ia terima dariku sebagai istri. Ditengah pasutri lain yang sedang menjalani Long Distance Marriage, saya paham betul beratnya perjuangan mereka. Saya harap juga Akmal bersabar atas tanggung jawab baru yang ia pikul seberat-beratnya sebagai suami. Fiddunya wal akhirah. 

Diantara malam-malam ramadhan, hampir setengahnya kami begadang usai tarawih dengan nugas di Belandongan tercinta, pulang ke rumah jam 1 malam, tak ku turuti rasa kantuk langsung gaskeun masak ayam opor, sayur dan menu lainnya untuk santapan sahur (harus sudah selesai jam 3am). Sat set sat set gini mah dah bisa adu skill ama peserta Galeri Masterchef  RCTI nih, senggol dong!

Gimana kagak, tempaannya nyaris 3x sehari selama 5 bulan 😆 positifnya semakin tajam skill memasak ku, konsekuensinya semakin bertambah juga pekerjaan rumahku sebagai manusia. Selesai urusan diluar (publik) dan berhasil merawat keluarga di dalam (domestik) sebagai istri. 

Berhasil yang ku maksud adalah berhasil melakukan yang terbaik yang ku mau, menyediakan masakan sebagai salah satu  bahasa cinta ku untuk suami. Bukan dalam konteks patriarkis (bias gender bahwa harus melulu perempuan yang memasak.) Meskipun, unconscious bias bisa terjadi dimana saja, be the change you want to be. Normalisasikan bahwa peran tidak dibatasi gender tertentu. Intinya, support each other sesuai minat bakat masing-masing.  Kebetulannya, kami typical pasangan yang suka banget masakan rumahan dan lebih nyaman makan di rumah, meski sering juga makan di luar atau sesekali GoFood. Fleksibel.

Bagaimana puasa mu?
Ramadhan sebagai Syahrut Tarbiyah artinya puasa sebagai bulan pendidikan. Mendidik kita untuk semakin memelihara ikhlas, taat dan taqwa. Sifat Zuhud. Bersabar atas godaan dan bersyukur atas nikmat berbuka. Pertanyaan seperti, "Bagaimana puasa mu?" Jelas berbanding lurus dengan tindak-tanduk kita sebagai entitas hamba Allah yang berlomba mendapat Rahmat-Nya dengan beragam ibadah yang dilakukan.

Dalam kitab-kitab sufistiknya, Rumi menyebut puasa itu sebagai atash atau api. Maka sudahkah ia menjadi api yang membakar nafsu dan keinginan duniawi? Ia menyebut puasa juga sebagai jamuan rohani, maka sudahkah cukup asupan gizi yang dibutuhkan jiwa guna menajamkan spiritual? Rasa-rasanya masih jauh tercapai.

Sementara, ramadhan kiranya akan bergegas pergi kurang dari seminggu sudah hari raya. Puasa sebagai salah satu arkanu al islam al khamsah (unsur-unsur sakral dalam Islam), posisi ke tiga setelah dua kalimat syahadat dan sholat lima waktu. Apakah sejatinya kita bisa "menang" di hari yang Fitri nanti? Menang memaknai Dasein sebagai upaya merawat eksistensi (ibadah) dengan menikmati setiap momentumnya? Bukan rutinitas belaka. 

Dalam filsafat barat, Heidegger menyebutnya dengan “Kemewaktuan Dasein” (Dasein yang menyadari waktu dan keberadaannya). Tidak berlalu begitu saja, momentum kosong tanpa makna.

Sialnya, kebanyakan dari kita menjadi Das Man, artinya menjadi manusia yang terjebak dalam rutinitas keseharian yang banal. Ya gitu-gitu aja, disitu-disitu aja ruang hidupnya, tidak ada yang istimewa, tidak menikmati Ramadhan sebagai bulan pendidikan yang berarti - terlalu sibuk mengagendakan berbuka dengan apa, dimana, sama siapa, dan baju apa yang bagus dipake buat Lebaran.

Penghayatan soal waktu, bukan tafsirannya secara objektif seperti pagi, siang, sore, malam, atau pukul 1-24. Tapi, konstruksi subjektif yang berkaitan dengan kesadaran kita dalam bereksistensi. Misalnya, apakah nikmat ibadah mu bertambah ketika shalat tarawih di mesjid? Apakah tadarus mu lebih bermakna jika khatam 30 juz selama sebulan penuh? Yashhhh ini soal kemewaktuan. Bukan waktu, ruang atau tempat. Waktu yang benar-benar bermakna kita sadari dan rasakan. Memorable.

Waktu yang bertumpu pada suatu kesadaran yang saling berkelindan. Tidak sekadar sadar dimana kita beribadah, bersama siapa dan seberapa sering (kuantitas ibadah) kita namun kesadaran bahwa kualitas ibadah setiap waktunya itu sangat berharga. Hal tersebutlah yang Heidegger katakan sebagai "kesadaran eksistensial". Sebetulnya, dalam beberapa hal keselarasan Islam (peradaban timur) dan pemikiran barat itu kian terasa, kesadaran eksistensial barat itu muaranya adalah istiqomah (dasein=kualitas ibadah). Berbeda dengan istimrar (das men= kuantitas ibadah).

Sebagai halnya ada saat untuk mengucap syukur, memuliakan Tuhan, dan memanjatkan permohonan, tiap ritual keagamaan juga menyediakan waktu dan ruang untuk terus mengasah keihsanan (berbuat baik) dan ketaqwaan (menjaga diri).

Terakhir, may you cry tears of deep gratitude and love towards Him in the depths of the night, and may you see His bounties and His Mercy with every breath you take. May you be chosen to witness Laylatul Qadr, may your name be written as residents of the highest of Jannah and most of all, may Allah SWT accept all of your deeds, forgive all of your sins and be pleased with you!

With all my love and gratitude,
Sena.

Yogyakarta, 15 April 2023

My Liberation Notes


"Freedom is not a secret. It’s a practice."

Tadi malam, aku bermimpi jatuh!
Dikejar-kejar masa kecilku sendiri.
Waktu terjaga, Aku menemukan dua.
Lututku berdarah!

Ini mengingatkanku:
Suatu hari di usia sembilan belas tahun.
Dan satu tahun lalu sebelum sekarang.
Tubuhku jatuh tersandung bayanganku sendiri.

Ternyata Ibu ku benar;
"sesuatu tak mesti nyata untuk bisa melukai kita.”

Tidak mudah menerima kenyataan dirimu penuh lubang. Berapa besar kemungkinan lubang-lubang itu memberi tempat bagi burung-burung bersarang? Berapa besar kemungkinan kehadiran dirimu mengingatkanmu kepada ketidakhadiranmu?

Jika di suatu persimpangan, entah di mana, masa kecilmu duduk menangis karena tersesat, berapa besar kemungkinan kau masih mengenalinya? Berapa besar kemungkinan dia tidak bertambah sedih menyadari kau masa depannya? Berapa besar kemungkinan kau bisa tumbuh nan tangguh dari semua jawaban yang kau punya sekarang?

Tiga minggu kebelakang, Ana merasa banyak sekali melewatkan hal-hal yang (mungkin) sebenernya rugi jika ku lewatkan... Hal-hal kecil yang barangtentu menjadi "jeda" dari sekedar rutinitas kita sebagai manusia. Merasakan betul fungsi setiap indra dalam tubuh. Mempertebal sens of feel yang membedakan kita dengan artificial intelligence masa kini.

Ana selalu bekerja dan atau mengerjakan sesuatu menyesuaikan dengan waktu. Mengerjakan setiap pekerjaan tidak hanya tepat waktu tapi juga kadang sampai terburu-buru. Lebih cepat... Lebih cepat. Sialnya, gak cuma soal kerjaan! Ana merasa usia ini nyaris kehabisan waktu. (Gilssssss)

Mei, Ana tutup dengan membaca buku yang sungguh menggugah daya baca. The originals judulnya by Adam Grant. Buku yang berisi +-300 halaman tersebut Ana selesaikan 11 hari setiap sebelum tidur. Kemudian, ada satu moment yang (sekali lagi) baru ku sadari bahwa langkahku selalu cepat, semakin cepat dan fokus terhadap hal-hal yang ku genggam (responsibility) dan akan ku genggam berikutnya. Selalu seperti itu. (Mau deh sekali-kali jadi guling - lha kenapa guling si Seeenn!)

Moment yang Ana maksud itu tak lebih dari wangi aroma kopi yang ku seduh Senin pagi minggu lalu sebelum bekerja. Padahal biasanya juga begitu, tapi gak tahu kenapa pagi itu wangi aroma kopi yang khas seolah terapi yang menyadarkan saya, lalu menjadi bekal semangat menjalani hari sebagai manusia biasa.

Hal-hal yang ku tahu:

1. Thank you.

Ana mau berterima kasih kepada orang-orang yang sudah memberikan cinta dan kasihnya untuk ku. Di masa lalu, sekarang atau kalian yang selalu memilikinya tanpa pernah memberitahu ku. Thank you so much from the bottom of my heart. Ana juga minta maaf atas apapun yang tidak pernah terbalas. Satu dua nama muncul begitu saja di kepala.

Semoga kalian Tuhan limpahi banyak cinta 💝 Berbahagialah dengan panjang. Terima kasih telah hidup dengan sebaik yang bisa kamu lakukan.

Ada banyak rupa kiamat kecil. Kiamat tidak harus kerusakan alam, atau berakhirnya usia. Kadang ia berupa; Kebelet berak saat presentasi. Bertemu orang dijalan yang tidak mau kamu sapa. Atau kehilangan atensi dari seseorang yang pernah sangat dekat denganmu.

Dan kamu tahu - Hanya orang yang pernah kehilangan yang tahu rasanya kehilangan. Ada perasaan perih di dada kiri. Tapi ada yang lebih sesal dari pada kehilangan, yaitu berpisah dengan seseorang tanpa sempat dia membicarakan bagaimana perasaannya. (Meskipun bagiku, perpisahan enaknya ya sat set. Tapi ternyata tidak bagi seperempat manusia di bumi ini). Mereka lebih butuh banyak waktu. And it's okay dengan syarat perpisahan mu adalah perpisahan yang layak.

There’s a time you hurt someone you care about because you know what’s best for them and it’s not you. There are so many times in our lives that our hearts will break.

2. I love you.

Ku pikir setiap hubungan pasti punya konsekuensi yang sama. Katakanlah, komitmen. Sepasang, harus komit terhadap segala hal yang telah disepakati bersama sedari awal. Tidak boleh curang ataupun wanprestasi. Bagaimana jika itu terjadi? Pasti terjadi dalam hal-hal kecil atau yang lebih prinsipil. Jawabannya adalah, "atur-atur kalian aja lah enaknya gimana. Pake win-win solution."

Nyawa sebuah hubungan bagiku adalah keberpihakan. Berpihak hanya pada satu. Dari sanalah sepasang belajar prioritas membangun hubungan. Tidak bijak menurut ku hubungan yang di dalamnya terdapat intervensi yang lain. Bahkan keluarga. Sebab yang menjalankannya juga sepasang - kalo lebih dari Dua namanya jamaah. That's why, namanya Undang-undang Perkawinan, bukan Undang-undang kerja kelompok.

Apapun yang baik yang sedang kau cicil, disana juga Ridho ku bermuara. Apapun yang menjadi rintangan, berdua kita selesaikan. Dimanapun kelak kita tinggal, bersamamu saya bersemayam.

3. Yang kubaca

Dari perjalanan rumah tangga Chairil Anwar, kita bisa belajar bahwa rumah tangga bukan sebuah rumah logika tanpa logistik. Idealis boleh, asal jangan apatis. Apalagi sampai lupa kalau kebutuhan keluarga (anak dan atau istri) ndak bisa dipenuhi hanya lewat narasi-narasi di ruang hampa.

Appa Dan Guyonannya.

(Appa mau bilang begini nanti ke suami mu)

"Nak, mulai sekarang simpanlah foto istrimu di dompet. Dan setiap engkau bertemu dengan masalah di kehidupan setelah pernikahan ini, bukalah dompet dan lihatlah foto istrimu. InsyaAllah masalahmu akan terasa ringan."

"Hah? Kenapa begitu?" (Kutanggapi biasa aja)

"Seiring waktu, suami mu akan paham apa yang Appa bilang ni. Karena itu juga yang Appa lakukan dulu bahkan sampai sekarang. Masih menyimpan foto Mamahmu di dompet. Saat ada masalah besar melanda, misal kerjaan menumpuk, usaha (bisnis) gak berjalan, atau diamuk atasan, Appa langsung membuka dompet lalu melihat foto Mamahmu. Ajaib, setelah itu masalah Appa terasa ringan.

"Sebab?" (Ku tanya sedikit lebih penasaran)

"Karena bagi Appa tidak ada masalah yang lebih berat ketimbang dimusuhin orang yang ada di foto itu."

Gubraaaaakkkkk 🤣

Love and prayers,

Sena.

Tasikmalaya, 1 Juni 2022

Untuk Kekasih...

 

"Kerinduan selalu menapaki jalan, menuju mu"

Sayang, Ana ndak tahu kamu sedang apa, merasakan bagaimana, apakah hari mu hari ini menyenangkan atau justru orang-orang masih annoying seperti biasa?

Ana harap kamu tidak sedang dalam rasa lapar, bersedih hati, kehujanan, gundah-bingung, atau begadang tak bisa tidur sebab mengerjakan banyak tugas dan atau hanya sedang memikirkan bagaimana menyelesaikan tanggung jawab-tanggung jawab yang mustahil habis as long as we are still breathing - still alive.

Ga-pa-pa... kamu ndak sendirian, setiap dari kita yang bernyawa - setelah kematian pun nanti masih dan akan terus bertanggung jawab atas apa-apa yang pernah kita dapat disini.

Ana menulis pesan ini, biar bisa kamu baca kapan saja - selamanya. Selama blog ini masih ada berbeda dengan penulisnya yang bisa Tuhan ambil dari mu kapan saja. Sayangku, ini bukan seperti amaran, pesan ini ku tulis sebagai senandung kasih agar kau (kita) tetap terjaga. Terjaga dari segala hal duniawi yang menggoda.

Alih-alih bulan suci Ramadhan, kesempatan untuk semakin memperluas cinta, cinta ilahiyah. Cinta sebagai sifat dan wujud batinnya Tuhan. Begitu juga Ana, percaya bahwa cinta merupakan asas dan legal standing daripada keimanan. Tanpanya, kita akan rapuh dan mudah runtuh.

Di lain hal sayangku, dalam mencapai rahasia pesan ini jalan cinta melengkapi jalan pengetahuan. Cinta membuat dorongan. Dorongan menimbulkan kehendak, hasrat dan kerinduan. Demikian ia menggerakan manusia berikhtiar sekuat tenaga dengan segala kemampuan yang ada.

Seiring perjalanan kita tumbuh - tidak mungkin ada kekasih yang menginginkan kekasihnya celaka. Tidak ada kerelaan untuk penderitaan kekasih. Cinta memiliki kekuatan transformatif. Merubah jiwa seseorang menjadi lain. Kekuatan merubah keadaan jiwa manusia yang negatif menjadi positif. Ditengah suasana yang diliputi keputus-asaan, cinta yang transendental selalu menunjukkan jalan ketentraman.

Syekh Ahmad Hatif menuturkan, "jika kau menyerahkan segenap yang kau miliki pada cinta ilahiyah, kau tak akan kehilangan sedikit pun dari yang kau miliki."

Sayang, kau menyaksikan betapa jiwa kita berubah. Ana berkeinginan menyaksikan "waktu" dari segala sesuatu yang tidak bertempat, membuang sempitnya dimensi hidup duniawi, maka kita akan mendengar juga menyaksikan apa yang mungkin sebelumnya kita pernah sangsikan.

Ana selalu berdo'a:
1. Semoga jenis cinta yang kamu miliki adalah cinta yang membebaskan diri mu dari rasa terpisah dan kesebatangkaraan diri. Membawa rasa damai dan kecukupan pada jiwa mu.
2. Semoga cinta yang kamu miliki adalah cinta yang intuitif. Memberi keimanan secara teologis. Membawamu mengenal hakikat kekasih secara mendalam. Memandang jauh ke balik dunia rupa. Menembus hakikat segala sesuatu.
3. Semoga cinta yang kamu miliki berangkat dari diri yang satu menuju ke diri yang lain. Dari satu menuju satu.

Kekasihku, salah satu Divan Rumi yang mengagumkan, ialah:
 
Jangan bangun rumahmu di tanah orang lain.
Bekerjalah demi cita-cita dirimu yang hakiki di Dunia ini.
Jangan sampai kau terjerat oleh bujukan orang asing.
Siapa orang asing itu kecuali nafsumu yang berlebihan pada Dunia?
Dialah sumber bencana dan kepiluan hidupmu.
Selama hanya tubuh yang kau rawat dan kau manjakan.
Jiwamu tidak akan subur, juga tidak akan teguh.
Hawa nafsu ialah ibu semua berhala. Menghancurkan berhala itu mudah, namun menganggap mudah menghancurkan hawa nafsu itu tolol.
4. Semoga cinta yang kamu miliki menjelma Raushan Damir yang berarti memiliki penglihatan ruhani yang tajam hingga mampu membaca rahasia hati dan peristiwa-peristiwa yang tersembunyi. Memang begitu mestinya, cinta yang kamu rawat adalah cinta yang membuat kita selalu berbenah.
5. Semoga cinta yang kamu miliki memiliki tenaga pembebasan dan pencerahan. Maka tidak mudah goyah jika diri dilanda nihilisme dan krisis keputus-asaan yang hebat datang.
6. Semoga cinta yang kamu miliki ialah surga bagi Qalbu. Yang dalamnya terdapat Telaga Salsabil dan seperti Sungai Nil di Mesir yang menyegarkan bagi mereka yang sanggup mengendalikan diri.
7. Semoga cinta yang kamu miliki memiliki kiblat keberuntungan. Yang membuat anak-anak berpaling. Serta, semoga cinta yang kamu miliki memiliki ka'bah harapan. Yang dikitari oleh ratusan pemurah. Pemilik kepiawaian. Semoga begitu dan seterusnya. Allahumma Aamiin.

Sayang, terima kasih. Kesabaran adalah kunci kesenangan. Rantai yang sukar dibuka, akhirnya terlepas tanpa banyak kata. Walaupun syarah yang disusun lidah menerangkan, namun cinta yang tidak berlidah lebih terang penjelasannya.

8. Semoga cinta yang kamu miliki melindungimu dari hal-hal mengejar bayang-bayang, lari jauh sampai jatuh kehabisan tenaga. Sedang, kamu tidak mengetahui bahwa yang dikejar hanyalah pantulan cahaya burung di udara. Melindungimu dari melepaskan anak panah untuk berburu bayang-bayang... jelas usahamu sia-sia. Dan jika iri hati menguasai dirimu, itulah iblis yang sifatnya melampaui batas kecemburuan. Keirian itulah yang membuat iblis memandang rendah Adam, melawan kebahagian.
Beruntunglah, orang-orang yang tidak dikawanin rasa iri hati.

Sayangku, sungguh Ana tidak menyukai yang mudah tenggelam!
9. Semoga cinta yang kamu miliki memiliki bahasa yang menyatu dalam hati. Itu lebih baik dibanding bahasa yang hanya menyatu dalam lidah. Seseorang yang tidak mudah percaya dan menerima. Apalagi sampai teperdaya.
10. Terkakhir, sayangku...
Semoga cinta yang kamu miliki bersedia memikul rasa hormat yang sanggup mendapatkan kehormatan jua.

Kekasih mu,

Sena.

Tasikmalaya, 23 April 2022

Luka adalah Pintu Masuk Cahaya

 

Sekitar tahun 2018 saya nyaris ndak bisa berangkat student exchange ke Inti International University Malaysia (IIUM). Waktu yang mepet menjadi alasan saya sulit membuat passport untuk keberangkatan, sebab KTP yang hilang (beserta dompet dan seluruh isinya) pada waktu itu. Sebagaimana kita ketahui sistem di negara ini, bahwa surat permohonan pembuatan passport tidak bisa dilakukan tanpa kartu identitas diri (KTP). Saya harus mengurus surat kehilangan dan berbagai prosedur yang berbelit-belit (pada masa itu) untuk membuat KTP yang baru padahal saya sudah harus segera berangkat.

Saya ingat betul, di tahun terakhir saya kuliah yang hectic dengan praktik hukum acara (Pidana, Perdata, Tata Usaha Negara, dll) di berbagai Pengadilan (jurusan saya hukum), bekerja sebagai asisten dosen beberapa mata kuliah, Pimpinan di satu organisasi mahasiswa (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) membuat 24 jam dalam seminggu menjadi begitu padat. Dari bangun tidur sampai mata menutup lagi kemudian kembali bangun dan begitu setiap hari saya menghabiskan tahun akhir studi S1 di kampus Muda Mendunia yang penuh kenangan tersebut.

Tak ada solusi lain selain pulang ke rumah dan membuat permohonan kartu identitas (KTP) baru. Hari Sabtu, setelah kelas usai, exam week kelar, kerjaan rapi saya dengan cepat menuju Stasiun Kereta Api Jogja-Tasik dengan rencana hari Senin langsung mengurus KTP hilang dan pembuatan passport. Anw, terima kasih untuk sahabat Appa saya dan anaknya yang bersedia membantu saya seharian full hari itu.

Dengan perasaan hati yang ‘hancur’, perasaan takut gagal mengusahakan pembuatan passport tepat waktu sehingga tidak bisa berangkat, malam sebelumnya saya I’tikaf mengikuti acara doa Nisfu Say’ban di sebuah masjid dekat rumah. Di situ lah, saya benar-benar merasa terdesak dan tak mampu melakukan apapun selain mengharap pertolongan Tuhan. Ajaibnya, esok harinya dengan lancar jaya saya mendapatkan KTP baru dan sebuah surat pengambilan passport. (Mengingat hari selasa saya harus segera kembali lagi ke Jogja, jadi passport tersebut akan dikirimkan melalui fax mail). Hari itu, tak ada kalimat yang bisa saya ucapkan selian “Allah Maha Baik”. Selalu.

Saya yakin, readers di sini tentu punya pengalaman serupa, prihal bagaimana memperoleh apa yang sangat diharapkan di tengah situasi terdesak.

Sore ini, ditengah angin kencang dan hujan lebat saya membuka lagi kitab Matsnawi dan menemukan penjelasan dari cerita-cerita ‘keajaiban’ yang acap kali kita alami di situasi terdesak. Hal terpenting sebenarnya, bukan tentang terkabulnya sebuah permintan tapi bagaimana rasa ‘hancur’ itu dapat menjernihkan sinyal koneksi kita dengan Tuhan. Allah Ta'ala.

Dalam kitab Matsnawi bait ke 3204 jilid 3 kitab Rumi mengatakan, “Keterdesakan dan luka yang dirasakan Maryam, mendorong bayi Isa as untuk berbicara”

Karim Zamani, salah seorang penafsir terbaik Matsnawi menjelaskan dalam cerita Maryam ini, Rumi hendak mengatakan kepada kita bahwa seseorang tidak akan benar-benar memperoleh apa yang ia inginkan sampai ia terluka lalu luka tersebut memunculkan dorongan kuat dalam dirinya. Karena dalam luka dan keterdesakan itulah muncul kesadaran, penyerahan dan totalitas kita manusia sebagai seorang Hamba.

Penjelasan Rumi di bait selanjutnya ialah, sebagaimana Isa yang meskipun tanpa diminta memberikan pembelaan kepada Maryam, maka seluruh wujud kita pun akan mendukung sebuah tekad yang dibangun dengan kuat. Barangkali, ini yang dalam istilah kekinian disebut “Di dukung semesta” 

Dengan dua bait puisinya di atas, Rumi ingin memberikan harapan kepada kita bahwa ‘cahaya’ itu bisa kita raih, sebagaimana kita pernah merasakan kilatannya di saat-saat ‘terdesak’. Perbedaan kita dengan para sufi, jika pengalaman ‘hancur’ kita bersifat eksidental, berbeda dengan para sufi yang dapat mengkondisikan setiap rasa ‘hancur’  lalu mengubahnya menjadi rasa cinta. Dua bait itu juga sekaligus menjadi pengingat kita untuk tidak menyakiti sesama, karena kita tidak pernah tahu dimana hati yang ‘hancur’ itu terletak dalam diri seseorang, tempat Tuhan bersemayam di sana. 

So, it only takes one second to say; I apologize, you were right, I love you, can we talk?, I don't wan't to be at odds, stop letting pride and ego hold you hostage from the happiness in life. Therefore, I apologize to all of you if I ever gave you unintentional pain.

Love and prayers,

Sena.

Tasikmalaya, 9 Februari 2022

Filosofi Perempuan (12)


Dear... Every single man.

Pernikahan.
Pernikahan akan membuatmu mengenal perempuan lebih dari apa yang kamu sangka. Kamu akan mengenal kekhawatirannya dan mengapa itu terjadi. Kamu akan berhenti menilainya lemah setelah melihat bagaimana ia bekerja setiap hari. Kamu akan semakin mencintai ibumu, seketika kamu melihat betapa berat perjuangannya ketika mengandung dan melahirkan anakmu.

Pernikahan akan mengajarkanmu tentang perempuan. Setelah selama ini kamu hanya mengenalnya dari mata, kata, dan dari buku-buku mutakhir terpercaya yang kamu baca. Perempuan lebih kompleks dari sekedar yang kamu lihat di aku hari ini dan kamu akan mempelajarinya setiap hari. Ya! Ambil waktu dan mulai membaca ku. Kamu akan belajar tentang air mata yang tidak melulu bermakna sedih sebab para puan memang mudah menangis untuk hal-hal yang menyentuh hati. Kebahagiaan pula kesedihan.

Pernikahan akan membuat pria mengerti bahwa keberadaan kami mampu membuatmu memiliki energi yang banyak sekali, berkali lipat lebih besar dari sebelumnya. Sesuatu yang tidak kamu dapatkan dari hubungan-hubungan dengan perempuan sebelum ku. Atau sebelum perempuan yang membersamai mu kini.

Pernikahan juga akan membuatmu mengerti bahwa cintamu kepadanya mungkin tidak akan pernah bisa sebesarnya cintanya kepadamu. Dengan segala kerendahan hati, kamu mungkin perlu mengakui itu. Dan untuknya, sudah seharusnya kamu bersyukur. Harus pandai bersyukur. Atas istri mu. Atas anak-anak yang lahir dari rahim istri mu.

Pernikahan membuat sepasang belajar memaknai dan menjalankan apa itu kata "c-u-k-u-p".

Senantiasa sehat, bermanfaat, cerdas dan trengginas wahai para puan! Semoga Tuhan hanya beri pilihan-pilihan terbaik 🥂

Sudah beberapa buku aku rampungkan, namun buku nikah belum mau aku dapatkan! 😁
#selamatharibukunasional

Seperti halnya buku, hidupmu layak untuk dibaca.

Tasikmalaya, 17 Mei 2021

Tak Ada Jarak Untuk Perempuan dan Tuhan



Di Ramadhan yang nyaris habis, saya mencoba istiqomah mengkhatamkan beberapa buku. Sebagian sudah selesai, sebagian yang lain masih otewe. Tapii, jangan terlalu berbaik sangka dulu setelah mengkhatamkan drakor Mas Vincenzo yang bikin hidup jadi berwarna saya juga berencana melanjut Law School yang tak kalah nambah adrenaline 🤣 istiqomah berat bund yang enak cuma istirahat~

Syukurlah, di penghujung Ramadhan ini saya bisa mengkhatamkan tiga buku, salah satunya adalah catatan tentang sufi agung yang namanya melalang buana di seluruh penjuru dunia, Jalaluddin Rumi. 

Rumi memanglah populer, namanya menjadi perbincangan masyarakat dunia tak lekang identitas, baik di masyarakat Barat (Amerika, Eropa, dll) juga di Timur. 

Membicarakan syair-syair Rumi adalah membicarakan tentang konsep tunggalnya, tentang cinta. Bukan, bukan hanya soal cinta kepada manusia, melainkan cinta kepada seluruh entitas kehidupan sebagai pancaran dari hikmah Tuhan. Karena sejatinya hakekat Tuhan terejawantahkan pada setiap makhluk-Nya.

Buku ini ditulis oleh Afifah Ahmad salah satu penulis keren perempuan. Syair-syair Rumi diurai begitu apik, dengan menggabungkan beberapa perspektif modern yang relevan. Syair-syair Rumi diajak untuk berkelana hingga menemukan konteksnya. Ia tak lagi berupa rangkaian kata-kata yang ada di dalam teks-teks bisu, namun ia bergerak melintasi batas-batas spiritualitas.

Di awal catatan, penulis membawa pembacanya untuk terlebih dahulu menelusuri konsep utama yang hendak disampaikan Rumi, yaitu tentang cinta dan manusia.

Barulah kemudian pembaca diajak untuk lebih luas lagi memahami bait demi bait syair Rumi yang juga membicarakan kesetaraan perempuan, teosofi kesetaraan, etika sosial, perdamaian, hingga perjalanan spiritual Rumi bersama karya-karya sufi lainnya dalam perjalanan sufistiknya. 

Siyaha dalam Tradisi Sufi

Saya membayangkan perjalanan penulis dalam merangkai buku ini sungguhlah bermakna spiritual. Saya senang menyebutnya dengan istilah siyaha. (Saya sepakat dengan mbak Maria tentang konsep Siyaha)

Penulis menulis catatan ini langsung dari bumi Persia. Tak ayal kemampuannya membaca bahasa Persia menjadi satu kekuatan penting, di mana ia bisa langsung merujuk kepada sumber primer yg tak lagi perlu perantara. Perempuan cerdas nan bermanfaat. Otentik dan pandai membaca kebutuhan zaman tanpa mengabaikan orisinalitas keilmuan dan sejarah.

Siyaha dalam tradisi sufi bisa diartikan sebagai suatu perjalanan spiritual, perjalanan yang dilakukan dengan berguru, mencari hakekat kehidupan, hakekat Tuhan melalui pergerakan-pergerakan batin yang sangat intim.

Siyāha biasa dilakukan dengan pengembaraan ke berbagai wilayah yang bertujuan untuk memperoleh pengetahuan. Praktek ini dianggap sebagai upaya untuk meningkatkan perjalanan spiritualitas bagi para salik untuk mencapai derajat tertentu.

Siyaha yang dilakukan penulis mengingatkan saya akan tradisi siyaha yang juga banyak dilakukan oleh sufi-sufi perempuan zaman dahulu. Dan sekarang saya menemukannya dalam profil Afifah yang selalu haus akan pengetahuan-pengetahuan baru khususnya dalam memahami perjalanan spiritual dan intelektual.

Salah satu sufi perempuan yang gemar melakukan siyaha adalah Fatimah al Nishapur (d. 223/838). Ia dikenal sebagai sufi perempuan yang paling masyhur di Khurasan yang hidup pada abad 9 M. As-Sulami, seorang master sufi kenamaan bahkan menyebutnya sebagai seorang Gnostik yang agung. 

Dalam beberapa catatan dikisahkan Fatimah al- Nishapur sering dikunjungi oleh Syeikh ternama sufi Abu Yazid Al-Bistami (d. 260/874) dan juga sufi kenamaan Mesir Syeikh Dzul Nun Al-Misri (d. 245/859). Kedua sufi besar ini menyebut Fatimah sebagai perempuan suci utusan Tuhan dan dianggap sebagai guru dalam perjalanan spiritual mereka. 

Fatimah al Nishapur seringkali melakukan perjalanan spiritualnya sendiri ke berbagai kota. Sesuai pengakuan Dzul Nun Al-Misri, Fatimah kerapkali melakukan perjalanan spiritual ke berbagai daerah untuk berguru kepada para guru-guru sufi ternama di kota tersebut.

Dzul Nun Al-Misri pernah menjumpainya saat ia melakukan perjalanannya (siyāha) sendiri ke Jerussalem. Tak hanya berguru, Fatimah juga melakukan perjumpaan dengan masyarakat-masyarakat kurang beruntung di kota kota yang ia kunjungi untuk mengajarkan praktek dan ajaran-ajaran sufisme.

Selain Fatimah, Al-Sulami juga mengabadikan cerita Umm al-Fadl, seorang sufi perempuan yang datang ke Nishapur pada pertengahan abad ke sepuluh. Umm al-Fadl sedang melakukan pengembaraan dari kota ke kota untuk memperoleh pengetahuan dan kebijaksanaan dari para guru guru sufi ternama di kota tersebut yang kemudian ia sampaikan kepada murid-muridnya di tempat asal Umm al-Fadl. 

Fatimah dan Umm al-Fadl adalah dua di antara banyaknya tokoh-tokoh sufi perempuan lainnya yang disebutkan Jacques dalam "Women Mystics in Medieval Islam: Practice and Transmission" tentang peran dan partisipasi mereka di ruang-ruang publik.

Banyak diantaranya para sufi perempuan ini yang juga memiliki murid baik laki-laki dan perempuan. Seperti halnya, Prof Alimatul Qitbiyah, Dr. Nur Rofiah, dan perempuan-perempuan era sekarang yang mahsyur dibidangnya. Mereka berperan aktif di ranah sosial masyarakat, mendirikan lembaga pendidikan dan keilmuan, bahkan harus melakukan pengembaraan sendiri untuk mencapai level spiritualitas tinggi sebagai syeikhah.

Membaca Matsnawi Ma'nawi dalam uraian yang tak bertele-tele, padat dan bermakna, membuat saya seperti membaca karya besarnya Rumi secara langsung. Saya amat senang karena dapat menikmati syair-syair Rumi lewat tangan penulis perempuan sebagai perantara perjalanan spiritual bagi ruh-ruh dalam jiwa manusia yang berkelana tak tentu arah.

Syair-syair Rumi tak lagi saya pahami sebagaimana yang kerapkali muncul di laman media sosial. Kata-kata yang seolah berdiri sendiri, sunyi dan kehilangan konteks. Namun dalam buku ini seolah syair-syair Rumi baru diciptakan di momen ketika kita membacanya hari ini. Afifah menafsirkannya dengan sangat pas, kontekstual dan relevan.

Anw, buku ini benar-benar mantik saya untuk menekuni perempuan-perempuan hebat lainnya (selain Fatimah Nishapur) seperti Sayidah Nafisah (guru Imam Syafi’i), Fathimah Almutsanna (guru Ibnu Arabi), dan yang terakhir Hayati Kermani, sufi perempuan pemilik divan dari silsilah Syeikh Nikmatullah Wali (yang InsyaAllah selanjutnya akan saya tuliskan)

Yaa Rabbi... Terima kasih untuk setiap ilmu dan pengetahuan yang masih bisa saya raih. Semoga setiap scholar Allah dilindungi dari ilmu yang tidak bermanfaat dan memadharatkan.

Tasikmalaya, 6 Mei 2021


Why Smart Men Marry Smart Women


Hi... readers! Tulisan ini bertajuk isu yang bagi saya seksi sekali untuk dibahas. Yup! seperti judul artikelnya "Mengapa pria pintar menikahi wanita pintar". Bagaimana tidak, disetiap perkumpulan laki-laki apalagi perempuan baik di kantor, kampus, sekolah, kafe (atau tongkrongan akamsi: anak kampung sini) bahkan warung makan sekalipun bahasannya pasti berujung ngomongin cowok, masa depan, perjuangan sampai keinginan untuk menikah~

Tulisan ini saya harap sebagai bentuk perlawanan atas kepercayaan luas (mitos) bahwa wanita terpelajar berisiko hidup dalam kesendirian dan miskin. Sebaliknya, ini membuktikan gagasan tentang perempuan mampu memadukan pencapaian mereka di dunia kerja, romansa, pernikahan, dan keibuan.

Diantara kalian pasti pernah denger atau ngucapin hal serupa "eh coba lihat kalian tahu gak, si Fulan ini yak udah cakep, pinter, sederhana, sholeh, plus udah dapet penghasilan sendiri "(mapan)". Gila gak? Pengen deh sama dia".

Sedikit gambaran tentang indikator 'pria idaman' kaum perempuan pada umumnya. Ya iya lah siapa yang akan menolak value lengkap ada dalam satu orang. Sekalipun itu, laki-laki atau perempuan "player" pasti kalo prihal pasangan mah maunya yang terbaik~

Partner of life, tema ini selalu menjadi perbincangan nyaris setiap cerita manusia. Rasanya tiada bosan pembahasan digelar di berbagai tempat dan kesempatan. Ada sebuah pepatah kuno, bilang:

"Hidup itu bagaikan memasuki sebuah perpustakaan. Bahagia atau tidak, bergantung pada buku yang ingin dibaca."

Tampilan gambar dan warna buku yang menarik belum tentu memberikan cerita yang diinginkan. Banyak orang yang tidak tahan saat membaca bab ke dua, ke lima bahkan hanya menarik lembar pertama dan menyerah melanjut baca.

Menjadi pertanyaan, apa buku yang polos akan lebih menarik? Sebab membuat calon pembaca menerka - bebas menebak? Memang ada rasa ragu yang mengganggu, tapi bukankah buku ini paling berbeda dari banyaknya buku yang tersedia?

Prosesi ini sangat menarik! Ketika manusia sedang tumbuh. Tumbuh itu adalah sebuah seni menghadapi kehidupan, berbuat kesalahan hingga memperbaikinya membuat kita sadar, bahwa kita sedang belajar. Kita belajar dari tiada ke tiada. Sebab mengapa kita ada. Tumbuh!

Apa itu teman hidup?

Apa ia yang akan selalu bersamamu 24+7?  (24 jam selama 7 hari dalam seminggu). Apa ia yang kiranya punya kemampuan cenayang bagaimana mendeteksi keresahan sebelum kita bilang? Yang saat bersamanya hidup mu sudah pasti baik-baik saja?

**
Interpretasi partner (pasangan) hidup bagiku adalah:
1. Dia yang bisa (berupaya) mengimbangiku dalam segala lini kehidupan.
2. Berimbang. Sebagai kawan berfikir dan lawan bicara. Berimbang. Dari mulai perasaan sampai pikiran hingga tidak pecah kongsi dalam laku perbuatan.

Bukan, bukan yang mengucap kata sayang setiap malam. Bukan yang akan memeluk, mencium hanya karena sebab modal relasi kuasa. Atau pamer kebersamaan di depan ribuan orang.

Teman hidup adalah dia yang bersedia membuka setiap lembar buku yang ingin kamu baca. Membuka setiap pintu yang ingin kamu masuki dalamnya. Dia yang mendorong ingin juga anganmu.
Dia yang menjadikan sepasang matanya adalah pintu; untuk kamu memasuki perjalanan yang lain. Tanpa ayah, tanpa ibu. Meninggalkan rumah dan masa kanak-kanak. Dan dia yang menuliskan cerita hidupnya hanya dalam hidupmu.

Ada salah satu sub bab dalam buku partner in life karya Giegyn yang menjelaskan bahwa jodoh kita nanti ndak akan jauh-jauh dari kita. Dari segi rupa, kecerdasan, derajat, keimanan, kehormatan, dan lainnya.

Jawabannya adalah kembali membenturkan kepala sendiri. Andai kita memiliki keinginan mendapatkan pasangan yang mendekati indikator sosok idaman, apakah kita sudah menjadi pribadi yang layak menerima kebaikan Tuhan? Dengan diberi pasangan sesuai harapan.

***
Pertimbangan...

Lelaki mandiri, berprestasi, baik hati, cerdas, sholeh, dan berwawasan luas akan sulit memilih dan memutuskan hidup bersama perempuan "manja" (hanya mau menerima saja tanpa berdikari berupaya) dan lemah imannya.

Begitu pula, wanita yang cerdas, baik hati, berprestasi, sholehah tidak akan menjatuhkan hatinya pada lelaki pemalas, jarang ibadah dan tidak memiliki semangat (ghiroh) dalam membangun keluarga yang SAMAWA.
That's the reason why smart men marry smart women.

****
Yang harus kita lakukan...

So ladies, berfikir, intropeksi dan bergerak lah!. Naikan level dengan dorongan usaha dan doa sebisa yang kamu lakukan. Kita hanya harus menjadi bintang di setiap level kita. Bukan mencederai diri dengan bersikap insecure sebab kelebihan perempuan lainnya. Then which of the favours of your Lord would you deny?

Berusahalah untuk menjadi yang terbaik jika kamu menginginkan yang lebih dan lebih baik. Karena kamu yang baik hati akan dijatuhkan pada sosok lelaki yang juga baik hatinya. Cantik rupa, pikiran juga iman mahkotanya. Apapun masa lalu mu. At the end, people are not always going the way you want them to.

Yours truly,
Sena Putri Safitri.

Tasikmalaya, 12 Februari 2021

Menyikapi Hidup Ala Filsafat Stoisisme (Dijamin Tenang!!)


Hallo readers! How was your Iman? How's your Iman today? How's your doa? Semoga setiap hari lebih banyak bahagia yang bisa kita bagi ✨

Nah, tulisan ana kali ini akan memperbincangkan tentang refleksi dan (mungkin) panduan bagaimana kita meramu (tips) menjalani kehidupan yang membahagiakan (mensyukuri setiap apa yang diberi Tuhan, setiap hari).

Setidaknya untuk ana ingat sendiri suatu waktu lupa dan yang pasti ditujukan pada pembaca tercinta. Apalagi yang tertarik mempelajari filosofi Yunani Kuno (khususnya stoicism) untuk bisa digunakan menjadi panduan kehidupan zaman sekarang. Masa sekarang masa big data. Cepat khawatir, merasa useless, marah, kecewa, dan pesakitan lainnya. Heyyy! Kita benar-benar harus bahagia di dunia nyata bukan pamer bahagia di media sosial belaka!

Let's start...

Sebagaimana orang duga bahwa filsafat melulu dikaitkan dengan pembahasan yang berat, rumit, kumpulan teori yang membosankan, dan hanya membuat scholar (readers) kebingungan. Tapi, akan saya perkenalkan (atau ingatkan kembali) dengan salah satu aliran filsafat yaitu stoisisme. Filsafat itu menyenangkan, akan jadi apakah hidup jika hanya menjalankan rutinitas belajar dan bekerja, memenuhi kehidupan domestik yang tiada habisnya atau kongkow yang sarat pemaknaan. 

Apa itu Filsafat Stoisisme?

Stoisisme adalah filsafat pragmatis yang memusatkan perhatian kita pada apa yang mungkin dan memberi kita perspektif tentang apa yang tidak penting. Dengan memahami stoisisme, kita dapat belajar menjawab pertanyaan-pertanyaan esensial tentang kehidupan:

Haruskah kita menikah atau berpisah? Bagaimana mengatur dan mengolah keuangan agar tidak krisis terlebih kita sedang diuji pandemi covid-19?
Bagaimana siyasah kita meraih dunia dan menggapai akhirat? Haruskah kita melanjut hidup atau berhenti kapan saja?

Siapapun kita, stoisisme memiliki sesuatu untuk kita. Ingat bahwa Tuhan ada di setiap prasangka hamba-Nya.

Filsafat Stoisisme tidak berkisar pada teori dan wacana yang melangit, melainkan lebih kepada hal praktis, aplikatif sesuai moralitas hingga kita katakan solusi tepat jalani kehidupan di era modern yang bisa membuat kita depresi kapan saja. Banyak alasan yang membuatnya wajar. Semakin kesini, manusia sekarang menjadikan sensasi sebagai prestasi untuk menjulang kesuksesan, popularitas dan meraih cuan. Bekerja mati-matian dapat uang, uang dihabiskan untuk senang-senang sedikit menghilangkan beban.~

Semoga tulisan ini menjadi panduan implementasi filosofi (to help us master the Stoic virtues).

Bagi readers yang suka membaca pasti familiar dengan Filosofi Teras karya Henry Manampiring yang bestseller itu. Ya, inilah buku yang dimaksud oleh Henry Manampiring sebagai genealogi tulisannya yaitu How To Be A Stoic karya Massimo Pigliucci.

Dalam menyikapi hidup, pelajaran penting dari filsafat stoisisme kita diajarkan tentang beberapa hal:

1. Keutamaan dan kepantasan.

Disiplin ilmu yang pertama adalah tentang keinginan - apa yang layak dan apa yang tidak pantas untuk diinginkan. Stoisisme menyuruh kita membedakan apa yang ada dan apa yang tidak ada dalam kekuatan kita, agar pada gilirannya pemahaman ini bisa memberi kita kerangka kerja yang berguna untuk panduan dalam semua keputusan yang kita ambil nantinya.

Penting pula untuk memahami sifat manusia dan tempat kita di alam semesta; letakkan faktor-faktor eksternal (kesehatan, kekayaan, pendidikan), atau kekurangan, dalam perspektif yang tepat.

2. Harapan-harapan dan kenyataan.

Epictetus memberitahu kita agar siap menghadapi berbagai situasi dengan sikap realistis terhadap hal-hal sebagaimana adanya. Tujuan, ambisi, nafsu akan apapun termasuk agama dan amal ibadah 🤣 memang tiga hal tersebut yang membuat manusia bergairah untuk hidup. Tentang sabar, interpretasinya ialah pasca berusaha semaksimal dulu bukan semata sabar artinya menunggu.

3. Kendali diri.

Manusia yang punya tujuan, kemauan setidaknya ia memiliki harapan untuk terus berusaha. Tapi jangan lupa, percuma jika semua pencapaian mu tidak membuat dirimu merasa damai. Apa definisi damai? Adalah mengontrol apa yang dibawah kendali (kita). Apa aja yang dibawah kendali kita? Bisa impuls personal, respon-respon psikologis, fisiologis itu dibawah kendali kita. Jadi cukup kendalikan itu saja. Luaran itu realitas terberi. 

4. Kekaryaan dan pekerjaan.

Stoisisme menyarankan bagaimana kita hidup yang berimbang. Antara kekaryaan dan pekerjaan. Biasanya ini menjadi salah satu sumber penderitaan manusia sekarang. Bagaimana menjalankan dan mendapatkan keduanya. Mengenai sumber penderitaan manusia, Epictetus menjelaskan,

“Yang membuat susah perasaan seseorang bukanlah sesuatu itu sendiri melainkan penilaian mereka tentang hal tersebut.”

5. Self healing dengan prinsip preventive.

Pada akhirnya yang membuat filosofi stoisisme ini memiliki manfaat yang besar adalah kedalaman ajarannya sendiri. Dengan demikian, tidak ada hal diluar kita yang bisa mencelakai, menyakiti kita.

Better to endure pain in an honorable manner than to seek joy in a shameful one.
(Lebih baik menahan rasa sakit dengan cara yang terhormat daripada mencari kegembiraan dengan cara yang memalukan)

Tentang Mager dan Rebahan

Kenapa kita harus banyak membaca? Karena dengan membaca kita menjelajahi banyak hal. Tidak terbatas ruang (tempat atau waktu). Termasuk pada saat saya ngedate bersama Sir Muhammad Iqbal semalam, yang mendorong untuk membaca ulang filsafat stoisisme lantas mengkorelasikannya dengan kehidupan kita sekarang. (Minimal punya legalitas keilmuan saat mager sedang melanda) wkwk alibi aja Sen!!

Tentang perjuangan kita melawan rasa mager atau punya passion rebahan (haha) ternyata ada sejarahnya, Ini kisah tentang kaisar besar Marcus Aurelius. Sebagai kaisar Imperium Romawi dari tahun 161-180 M, Aurelius adalah orang paling berkuasa di dunia, menjelaskan dalam salah satu bagian “Meditasi”, kumpulan tulisannya, bahwa dia sedang berjuang untuk bangkit dari tempat tidur. Dia pun berkata kepada dirinya sendiri,

“Aku bangun untuk melakukan pekerjaan seorang manusia. Lalu, mengapa aku begitu jengkel ketika aku keluar untuk melakukan hal yang ditakdirkan untukku dan merupakan alasan aku ada di dunia ini? Atau aku memang diciptakan untuk ini, berbaring di tempat tidur dan menghangatkan diri di balik selimut?”

Atau pernah di suatu pagi, dia memaksa dirinya bangun dan menjalani hari dengan menegaskan apa yang mungkin dia akan hadapi:

“Katakan kepada dirimu sendiri di awal hari, aku akan bertemu dengan orang-orang usil, tak tahu di untung, brutal, pengkhianat, pendengki, dan tidak ramah.”

Tapi tahu tidak? Mungkin ucapan ini nampak tidak berarti. Padahal, dulu atau sekarang hal-hal yang mungkin akan kita dan Aurelius hadapi sama saja, orang-orang menyebalkan di kantor, di kampus, di sekolah atau sesaat yang bertemu tidak sengaja di lampu merah.

Coba analisis menggunakan metode fenomenologi: dari nomena-nomena yang ada, terdapat eunomena bagaimana ia memusatkan perhatian pada semua kemungkinan negatif dan kesukaran-kesukaran yang mungkin ada, saya melihat sebuah point stoik sangat penting di sini. Mengapa mengingatkan diri prihal kesukaran bisa begitu bermanfaat?

Ancient Wisdom for Modern Life
(Kebijaksanaan Kuno untuk Kehidupan Modern)

Dalam prinsip hidup stoisisme, kita diajak untuk sepenuhnya menggunakan nalar. Emosi negatif lahir dari nalar yang kacau. Kenapa? Sebab pada dasarnya respon nalar dipicu oleh penilaian, opini, dan persepsi kita terhadap sesuatu. Kausalitasnya jika persepsi buruk, maka membuat emosi juga negatif.

A ROAD MAP FOR THE JOURNEY (Sebuah Tips Hidup Tenang)

Ada lima (5) metode stoik yang menentramkan guna menjalani kehidupan di dunia (versiku).

1. Don't worry
Jangan terlalu banyak khawatir. Lakukan apa yang bisa kita lakukan lalu titip dan serahkan semua urusan kita hanya kepada Tuhan.

2. Don't hate
Hati yang penuh dengan kebencian membuat hidup kita sempit. Tapi hati yang berlimpah kasih sayang, cinta itu menjadikan hidup kita lapang.  
ارْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ 
Artinya, "Sayangilah makhluk yang ada di bumi, niscaya yang ada di langit akan meyayangimu"

3. Give more
Banyak-banyaklah memberi, banyak-banyaklah beramal kebaikan sebab disana InsyaAllah kita temukan kebahagian.

4. Expectless
Berharap kepada manusia adalah patah hati yang disengaja. Misal kita mau berharap, ngarepnya sama Allah aja.

5. Live simply
Hidup dengan sederhana. Berdoa kepada Allah semoga kita diberi hati yang terus merasa cukup dengan apapun yang Allah rezeki kan.

Oleh: Sena Putri Safitri.

Tasikmalaya, 10 Februari 2021

Mula-Mula Jatuh Diantara 2 Pria, Lalu Cinta Berakhir Untuk Indonesia (Ir. Soekarno dan Muh. Hatta)


Katanya perdebatan itu mengeraskan hati, meninggalkan kebencian selepasnya (Al-Hadist). Tapi asal pembaca tahu, Indonesia itu diciptakan melalui dialektika yang panjang penuh bidasan. Kesepakatan yang matang bukan tanpa persetujuan antar penggagas. Tercatat dalam Memoar nya Hatta sosok Ir. Soekarno tidak pernah tidak memikirkan indonesia. (catat bukan karena saya debater), prihal dialektik-argumentatif saya rasa semua orang (tidak melihat dia siapa dan darimana asalnya) harus mampu memperjuangkan sudut pandang pokok pikirannya tentu dengan rasionalitas yang paling sederhana serta yang utama santun dalam menyampaikan. Sifat legowo akan intrupsi lawan bicara juga harus menjadi kebiasaan. Biasa saja. Namanya juga bertukar pikiran. Turunkan kadar reaksioneritas, optimalkan solusi yang aplikatif, pro terhadap rakyat, keadilan dan kebenaran.

Sebaik-baiknya cinta adalah yang mencintai tanpa pertemuan sebelumnya tapi mengimani kelak mungkin Tuhan persatukan (Panutan Umat Islam Rasul Muhammad Sollallahu 'Alaihi Wassalam). Teladan politikus, pebisnis, guru, ulama, semua manusia sampai akhir zaman. Tapi, sedari sore saya baca buku ini (mengingat melihat tema ILC malam ini adalah tentang relasi negara dan agama) saya terdorong menghabiskan bacaan dengan niatan gak bego-bego banget saat para intelektual itu berbicara di layar kaca 😂 dan ternyata apa yang saya dapat? Dari halaman pertama saya sudah jatuh dengan gagasan-gasan Hatta untuk indonesia, bukan hanya pengetahuan yang saya dapat (padahal niat sebelum membaca siapa tahu ada korelasi nya dengan tema) tapi kedua tokoh yang orang sebut sebagai nasionalis (Soekarno) dan sosok agamis (Hatta) beliau saling memuji dengan saling memberi anti-thesa dalam tulisan. Misal gagasan pertama prihal "Ir Soekarno menginginkan negara ini adalah negara yang sekular" (searching artikel-artikel Soekarno tahun 1973, salah satunya yang berkaitan dengan pernyataan negara dan agama tidak boleh dicampur-aduk kan dengan alasan demokrasi).
Tak kalah cerdas, Hatta kemudian mempublikasikan pemikiran anti-thesis nya terhadap kawan berfikir dan lawan bicaranya itu bahwa tidak boleh negara dan agama dijauhkan; dipisah. Dua hal yang beriringan.

Kalo bahasa anak Hukum Tata Negar nya, jadilah Indonesia yang sekarang sudah berumur 74 Tahun, adalah negara hukum (pasal 1 ayat 3) yang beragama. Bukan negara agama, bukan negara sekular. Tapi sungguh dekat nilai-nilai agama (yang ada di Indonesia juga beragam kepercayaan yang ada) dibawalah dalam implementasi sistem pemerintahan. Apa namanya? Pancasila (ideology; falsafah negara). 

Nyaris mustahil ideology bangsa dirubah (di amandemen). Bukan karena sayangnya hasil perjuangan para pendahulu bangsa tapi karena esensinya sebagai fondasi berupa 5 sila yang di kristalisasi dari nilai-nilai Ketuhanan dan menjadi ruh dari setiap produk peraturan perundang-undangan sejak indonesia ada. Merdeka.

Kesimpulan nya tidak perlu banyak dan jelas tidak membingungkan, pengetahuan adalah cinta, saya rasa agama dan negara seperti jiwa dan raga ndak boleh; ndak bisa di pilah; dipisah. 
Negara dan agama adalah dua nilai yang sama, tidak patut sebagai seorang pembelajar men-duel-ethics-an nilai yang sama.

Indonesia itu milik kita semua, milik warga negara indonesia (WNI) titipan Tuhan yang harus dijaga, dirawat (bukan bukan mendidik oligarki meraih posisi hingga bisa lalu lenggang eksploitatif). Semoga panjang usia negeri ini serta mendapat cinta kasih yang tulus dari penghuninya (Kita, warga negaranya). Jangan merasa paling indonesia, paling pancasilais, paling kanan (agamis) / kiri (komunis) macam grak jalan perayaan kemerdekaan 17 Agustus masa sekolah 😂

Namanya juga demokrasi ndak bisa asal senang sendiri!.

Sena Putri Safitri, S.H. (Pegiat Hukum Tata Negara)

Tasikmalaya, 23 Pebruari 2020

Tikas Diri


Segala bentuk cinta dalam pandangan Nietzsche adalah kegelapan. Ia tidak menentang segala bentuknya, yang ia tolak jenis cinta ‘keawaman’ dan tentu cinta yang bersifat politis. Karena menurutnya, "cinta takkan pernah paham tentang kasih sayang kecuali kebergantungan (perlu) dan kemelekatan." Suatu gelora yang mengisi dan selanjutnya merenggut eksistensi manusia. Cinta yang mampu merenggut manusia hanya akan membuat sang pecinta takkan mampu melihat yang lain kecuali cinta itu sendiri. Itu bodoh, lantas apa gunanya cinta jika kekasih tak terlihat dan tak bisa disaksikan?

Demikian halnya dalam politik bahwa cinta adalah penyatuan dengan orang-orang faqir, orang-orang yang lemah, dan pinggiran. Mencoba menyebarkan cinta agar seluruh lapisan masyarakat menjadi satu warna, sepakat kalau itu kedzoliman? Penderitaan yang dipaksa dipukul rata utuk diterima atas dasar cinta.

Nietzsche bilang, “siapa saja yang membuatmu ketakutan, lenyapkanlah cintamu padanya”. Artinya, memiliki cinta, sama saja meninggalkan nalar dan membuat seseorang tergila-gila dan menjadi gila. Oleh sebab itu cinta adalah sumber kegilaan agar sampai kepada kewarasan. Cinta adalah kewarasan yang berangkat dari kegilaan. Mengerti maksudnya?

Tuhan, cinta lebih agung dari kebergantungan dan kemelekatan. Cinta berakar dari syahwat dan gelora bukan? Begitulah seharusnya hubungan yang sejati dan terjadi secara alamiah dengan ilmiah. Cinta seperti ini akan menghasilkan berbagai ragam warna pengetahuan yang senada dengan perasaan. Berimbang sudah. Memaknai hakikat, sebagai sesuatu yang kita rayakan dan kita saksikan. Sedang syahwat merupakan dasar utama dalam menjalin hubungan dengan tabiat (nature). Maka jaga-lah.

Untuk Pria: Prihal keinginan untuk berkuasa (Will to power) pada hakikatnya bukan untuk kekuasaan agar puas semata, supaya bisa menyempurna sebagai binatang yang memiliki nalar. Engkaulah imam keluarga. Kemudian dari sana akan melahirkan manusia baru yakni manusia yang lebih kuat karena mendasarkan cintanya pada tabiat dan syahwat. Percayalah setiap perempuan memimpikan itu dekat atau lambat disadarinya.
Bukan pelarian diri, bukan jalan menuju diri sendiri.

Berbeda dengan Rumi, ia menitik beratkannya seperti 'rem', Rumi menyampaikan "Cinta sejati justru tidak mungkin diraih dengan syahwat". Sesuatu yang bukan perkara mudah dilukiskan. Begitu transenden. Unsur cinta yang paling utama justru terletak pada kegergantungan dan kemelekatan. Sebab itu cinta seperti ini takkan terwakilkan oleh kata-kata.

Beberapa orang yang mengenal saya mungkin tidak aneh bagi mereka, sering saya ucapkan: "Bagi Saya lebih tabu ngomongin cinta dari pada ngomongin BH di tempat umum". Filosofis sekali kalimat itu, karena jauh dari pengetahuan, pengalaman dan perasaan SAYA MALU ATAS TAFSIRAN APAPUN TENTANG CINTA. Dari bahasa, pena bahkan laju untuk melangkah.

Semacam karekteristik dari sifat Ilahiyah yang gemar manusia ekspresikan. Atau jatuh yang dinikmati sakitnya. Lebam yang mendewasakan. Menuntunnya di kehidupan yang Tuhan janjikan lebih baik.
Berbeda dengan Nietzsche, Rumi justru menempatkan cinta pada kebergantungan dan kemelekatan.

Perhatikan ucapannya;
"Cinta adalah lidah api,
Akan membakar segalanya kecuali Kekasih."
Api di dalam dirinya yang terus bergelora setiap saat dan memurnikan serta menyucikan cinta yang hadir di dalam dirinya. Jika cinta seperti ini yang hadir di dalam diri seseorang maka seluruh pandangannya telah menjadi milik Kekasih sehingga tak mampu lagi melihat yang lain kecuali sang Kekasih. Allah!. Siapa lagi.

Kata Rumi, ketenggelaman seseorang di dalam cinta Kekasih akan membantu dirinya bebas dari ke-aku-an sebab ke-aku-an dirinya menemukan kehidupan baru yakni kehidupan yang semakin transenden. Suatu bentuk kehidupan yang sudah tidak ditemukan lagi tanda-tanda keangkuhan, egoisme, peperangan, dan kebencian.

Diingatkannya dengan syair yang indah;
"Mengapa sejak awal cinta itu luka?
Agar memutuskan segala yang ada di luar."
Pesan untuk kita, bahwa cinta seperti ini hanya bisa terjadi jika objek cinta kita adalah Ilahi, bukan pada makhluk yang memiliki keterbatasan seperti manusia. Jika cinta adalah Ilahi sekaligus Kekasih maka tak ada jalan lain selain jalan kefanaan untuk menemukan cinta seperti ini.
Billahi Fii Sabililhaq Fastabiqul Khairat.

Yogyakarta, 7 Oktober 2019

Haru

Sindoro; pengulum rindu penikmat terjal