Menyikapi Hidup Ala Filsafat Stoisisme (Dijamin Tenang!!)


Hallo readers! How was your Iman? How's your Iman today? How's your doa? Semoga setiap hari lebih banyak bahagia yang bisa kita bagi ✨

Nah, tulisan ana kali ini akan memperbincangkan tentang refleksi dan (mungkin) panduan bagaimana kita meramu (tips) menjalani kehidupan yang membahagiakan (mensyukuri setiap apa yang diberi Tuhan, setiap hari).

Setidaknya untuk ana ingat sendiri suatu waktu lupa dan yang pasti ditujukan pada pembaca tercinta. Apalagi yang tertarik mempelajari filosofi Yunani Kuno (khususnya stoicism) untuk bisa digunakan menjadi panduan kehidupan zaman sekarang. Masa sekarang masa big data. Cepat khawatir, merasa useless, marah, kecewa, dan pesakitan lainnya. Heyyy! Kita benar-benar harus bahagia di dunia nyata bukan pamer bahagia di media sosial belaka!

Let's start...

Sebagaimana orang duga bahwa filsafat melulu dikaitkan dengan pembahasan yang berat, rumit, kumpulan teori yang membosankan, dan hanya membuat scholar (readers) kebingungan. Tapi, akan saya perkenalkan (atau ingatkan kembali) dengan salah satu aliran filsafat yaitu stoisisme. Filsafat itu menyenangkan, akan jadi apakah hidup jika hanya menjalankan rutinitas belajar dan bekerja, memenuhi kehidupan domestik yang tiada habisnya atau kongkow yang sarat pemaknaan. 

Apa itu Filsafat Stoisisme?

Stoisisme adalah filsafat pragmatis yang memusatkan perhatian kita pada apa yang mungkin dan memberi kita perspektif tentang apa yang tidak penting. Dengan memahami stoisisme, kita dapat belajar menjawab pertanyaan-pertanyaan esensial tentang kehidupan:

Haruskah kita menikah atau berpisah? Bagaimana mengatur dan mengolah keuangan agar tidak krisis terlebih kita sedang diuji pandemi covid-19?
Bagaimana siyasah kita meraih dunia dan menggapai akhirat? Haruskah kita melanjut hidup atau berhenti kapan saja?

Siapapun kita, stoisisme memiliki sesuatu untuk kita. Ingat bahwa Tuhan ada di setiap prasangka hamba-Nya.

Filsafat Stoisisme tidak berkisar pada teori dan wacana yang melangit, melainkan lebih kepada hal praktis, aplikatif sesuai moralitas hingga kita katakan solusi tepat jalani kehidupan di era modern yang bisa membuat kita depresi kapan saja. Banyak alasan yang membuatnya wajar. Semakin kesini, manusia sekarang menjadikan sensasi sebagai prestasi untuk menjulang kesuksesan, popularitas dan meraih cuan. Bekerja mati-matian dapat uang, uang dihabiskan untuk senang-senang sedikit menghilangkan beban.~

Semoga tulisan ini menjadi panduan implementasi filosofi (to help us master the Stoic virtues).

Bagi readers yang suka membaca pasti familiar dengan Filosofi Teras karya Henry Manampiring yang bestseller itu. Ya, inilah buku yang dimaksud oleh Henry Manampiring sebagai genealogi tulisannya yaitu How To Be A Stoic karya Massimo Pigliucci.

Dalam menyikapi hidup, pelajaran penting dari filsafat stoisisme kita diajarkan tentang beberapa hal:

1. Keutamaan dan kepantasan.

Disiplin ilmu yang pertama adalah tentang keinginan - apa yang layak dan apa yang tidak pantas untuk diinginkan. Stoisisme menyuruh kita membedakan apa yang ada dan apa yang tidak ada dalam kekuatan kita, agar pada gilirannya pemahaman ini bisa memberi kita kerangka kerja yang berguna untuk panduan dalam semua keputusan yang kita ambil nantinya.

Penting pula untuk memahami sifat manusia dan tempat kita di alam semesta; letakkan faktor-faktor eksternal (kesehatan, kekayaan, pendidikan), atau kekurangan, dalam perspektif yang tepat.

2. Harapan-harapan dan kenyataan.

Epictetus memberitahu kita agar siap menghadapi berbagai situasi dengan sikap realistis terhadap hal-hal sebagaimana adanya. Tujuan, ambisi, nafsu akan apapun termasuk agama dan amal ibadah 🤣 memang tiga hal tersebut yang membuat manusia bergairah untuk hidup. Tentang sabar, interpretasinya ialah pasca berusaha semaksimal dulu bukan semata sabar artinya menunggu.

3. Kendali diri.

Manusia yang punya tujuan, kemauan setidaknya ia memiliki harapan untuk terus berusaha. Tapi jangan lupa, percuma jika semua pencapaian mu tidak membuat dirimu merasa damai. Apa definisi damai? Adalah mengontrol apa yang dibawah kendali (kita). Apa aja yang dibawah kendali kita? Bisa impuls personal, respon-respon psikologis, fisiologis itu dibawah kendali kita. Jadi cukup kendalikan itu saja. Luaran itu realitas terberi. 

4. Kekaryaan dan pekerjaan.

Stoisisme menyarankan bagaimana kita hidup yang berimbang. Antara kekaryaan dan pekerjaan. Biasanya ini menjadi salah satu sumber penderitaan manusia sekarang. Bagaimana menjalankan dan mendapatkan keduanya. Mengenai sumber penderitaan manusia, Epictetus menjelaskan,

“Yang membuat susah perasaan seseorang bukanlah sesuatu itu sendiri melainkan penilaian mereka tentang hal tersebut.”

5. Self healing dengan prinsip preventive.

Pada akhirnya yang membuat filosofi stoisisme ini memiliki manfaat yang besar adalah kedalaman ajarannya sendiri. Dengan demikian, tidak ada hal diluar kita yang bisa mencelakai, menyakiti kita.

Better to endure pain in an honorable manner than to seek joy in a shameful one.
(Lebih baik menahan rasa sakit dengan cara yang terhormat daripada mencari kegembiraan dengan cara yang memalukan)

Tentang Mager dan Rebahan

Kenapa kita harus banyak membaca? Karena dengan membaca kita menjelajahi banyak hal. Tidak terbatas ruang (tempat atau waktu). Termasuk pada saat saya ngedate bersama Sir Muhammad Iqbal semalam, yang mendorong untuk membaca ulang filsafat stoisisme lantas mengkorelasikannya dengan kehidupan kita sekarang. (Minimal punya legalitas keilmuan saat mager sedang melanda) wkwk alibi aja Sen!!

Tentang perjuangan kita melawan rasa mager atau punya passion rebahan (haha) ternyata ada sejarahnya, Ini kisah tentang kaisar besar Marcus Aurelius. Sebagai kaisar Imperium Romawi dari tahun 161-180 M, Aurelius adalah orang paling berkuasa di dunia, menjelaskan dalam salah satu bagian “Meditasi”, kumpulan tulisannya, bahwa dia sedang berjuang untuk bangkit dari tempat tidur. Dia pun berkata kepada dirinya sendiri,

“Aku bangun untuk melakukan pekerjaan seorang manusia. Lalu, mengapa aku begitu jengkel ketika aku keluar untuk melakukan hal yang ditakdirkan untukku dan merupakan alasan aku ada di dunia ini? Atau aku memang diciptakan untuk ini, berbaring di tempat tidur dan menghangatkan diri di balik selimut?”

Atau pernah di suatu pagi, dia memaksa dirinya bangun dan menjalani hari dengan menegaskan apa yang mungkin dia akan hadapi:

“Katakan kepada dirimu sendiri di awal hari, aku akan bertemu dengan orang-orang usil, tak tahu di untung, brutal, pengkhianat, pendengki, dan tidak ramah.”

Tapi tahu tidak? Mungkin ucapan ini nampak tidak berarti. Padahal, dulu atau sekarang hal-hal yang mungkin akan kita dan Aurelius hadapi sama saja, orang-orang menyebalkan di kantor, di kampus, di sekolah atau sesaat yang bertemu tidak sengaja di lampu merah.

Coba analisis menggunakan metode fenomenologi: dari nomena-nomena yang ada, terdapat eunomena bagaimana ia memusatkan perhatian pada semua kemungkinan negatif dan kesukaran-kesukaran yang mungkin ada, saya melihat sebuah point stoik sangat penting di sini. Mengapa mengingatkan diri prihal kesukaran bisa begitu bermanfaat?

Ancient Wisdom for Modern Life
(Kebijaksanaan Kuno untuk Kehidupan Modern)

Dalam prinsip hidup stoisisme, kita diajak untuk sepenuhnya menggunakan nalar. Emosi negatif lahir dari nalar yang kacau. Kenapa? Sebab pada dasarnya respon nalar dipicu oleh penilaian, opini, dan persepsi kita terhadap sesuatu. Kausalitasnya jika persepsi buruk, maka membuat emosi juga negatif.

A ROAD MAP FOR THE JOURNEY (Sebuah Tips Hidup Tenang)

Ada lima (5) metode stoik yang menentramkan guna menjalani kehidupan di dunia (versiku).

1. Don't worry
Jangan terlalu banyak khawatir. Lakukan apa yang bisa kita lakukan lalu titip dan serahkan semua urusan kita hanya kepada Tuhan.

2. Don't hate
Hati yang penuh dengan kebencian membuat hidup kita sempit. Tapi hati yang berlimpah kasih sayang, cinta itu menjadikan hidup kita lapang.  
ارْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ 
Artinya, "Sayangilah makhluk yang ada di bumi, niscaya yang ada di langit akan meyayangimu"

3. Give more
Banyak-banyaklah memberi, banyak-banyaklah beramal kebaikan sebab disana InsyaAllah kita temukan kebahagian.

4. Expectless
Berharap kepada manusia adalah patah hati yang disengaja. Misal kita mau berharap, ngarepnya sama Allah aja.

5. Live simply
Hidup dengan sederhana. Berdoa kepada Allah semoga kita diberi hati yang terus merasa cukup dengan apapun yang Allah rezeki kan.

Oleh: Sena Putri Safitri.

Tasikmalaya, 10 Februari 2021

Ini Cerita Tentang Lila

 
Sore hari, sedikit hujan, saat kami sekeluarga sedang menonton televisi ada seseorang diluar.

"Assalamualaykum, Tehh... Assalamualaykum.."
"Waalaykumsalam", tak selang lama saya membuka pintu.

Saya terkejut, kudapati perempuan muda yang matanya sembab menampung penuh air mata berdiri di teras rumah.

"Lila, kenapa? Ada apa?", Saya bilang.

Karena didalam ada keluarga, saya tidak membawa Lila masuk dalam rumah. Saya pikir Lila menemuiku sebab tak tahan dengan apa yang membuat ia menangis sampai nyaris tak kuat jalan menuju rumah kami.

Saya ambil kerudung, kemudian mengajaknya ke sebuah ayunan di samping rumah. Dia tak langsung bercerita, lalu menangis sedu sedan sampai tangannya mengepal. Saya tak tahan melihatnya dalam pesakitan yang belum jelas apa penyebabnya.

Saya memeluknya, tak bertanya sampai dia sendiri menentukan waktu untuk bercerita. Saya mengelus kepalanya, memeluknya lebih lama dari biasa kakak memeluk adik perempuannya. Ya! Lila adalah salah satu dari banyaknya adik perempuan saya di kampung halaman. Anak periang dari keluarga terpandang, cantik, taat ibadah dan prestisius di sekolah juga lingkungan keluarganya.

Perlahan dia bercerita, susah payah mulutnya menjelaskan sebab rasa sakit yang menusuk-nusuk dada perempuan itu. Saya menyaksikan bagaimana Lila mengutarakan perasaannya sambil menahan pengap sebab nyeri dari dalam saya lihat.

"Teh... Aku habis berantem sama bapak. Barusan!"
"Bapak menghancurkan hp nya dengan marmer besi besar"
"Tahu gaak kenapa?" (Dia menangis deras)
"Sebab perempuan anjiiiing yang sedang ditaksirnya!" (Sementara Lila mengumpat, air mata saya ikut berjatuhan)

"Teteh, tahu? Sering aku lindungi nama baik (kehormatan) bapak depan ibu tu, aku ingatin berkali-kali bapak, kalo jangan main-main dengan perempuan yang sudah terkenal jablay itu. Perempuan yang hobby nya meminta duit para suami orang lain. Si hina yang setiap keluar dari rumahnya berpakaian limit seperti kurang bahan, mentereng lipstick warna merah dibibir menjijikan nya!!!!" (Ku tahan beberapa pertanyaan, hingga Lila selesai mengeluarkan amarah sebab kecewa)

"Sebenarnya Teh... Sudah lama aku tahu bapak begitu, bermain-main dengan perempuan yang padahal punya suami juga. Ada sekitar 6 bulan mah sejak dia getol main media sosial."

"Nah... Ibu tu gatau awalnya, tapi karena pas kalo lagi ngajar di sekolah, temen-temen gurunya yang lain bilang. Intinya ibu disuruh sabar dan hati-hati sama perempuan nista itu!"
"Ibu ku bingung dong teh, dan ada beberapa orang ngingetin ibu dari kampung sebelah" (tempat perempuan bejad itu tinggal).

"Sudah ada seminggu mah aku sama bapak gak tegur sapa, sebab kejadian waktu hajatan di rumah sodara. Jadi kan kami lagi makan-makan dengan keluarga besar karena sunatan anak Uwa, nah tahu gak teh pas lagi makan-makan tetiba perempuan jalang itu dateng pake baju yang belahan dada sama paha nya kemana-mana. Bayangin teh dia datang ke acara hajatan orang tanpa malu begitu. Banyak ajengan (kiyai) yang mau ngisi ceramah juga. Yang membuat aku murka, ternyata itu bapak yang ngundang!! Karena seluruh keluarga ku tahu kalo perempuan dan bapak tu ada main. Teteh percaya itu makan-makan gagal berantakan. Gara-gara perempuan gak tahu diri itu. Ibu ku, uwa, bibi, kakek apalagi aku boro-boro mau makan padahal laper banget karena emang sengaja ga makan biar enak, barengan kata Ibuku.

"Saat lagi makan uwa (kakaknya bapak) tanya ke perempuan tu,
"Suamimu kemana mbak? Kenapa gak ikut"
"Ada. Dia lagi makan-makan juga sama temennya di rumah" (sambil cengengesan!)
"Lho terus kenapa kamu malah kesini? Kali di rumah mu ada acara. Masa ninggalin suami?"
"Kan diundang sama Pak Johan (bapaknya Lila) buat kesini" (Dengan lancang dia bilang gitu Teeeeh dihadapan semua keluarga pas lagi makan)
"Semuanya langsung diam. Mata uwa, Bibi dan sepupuku yang sudah pada berumah tangga hanya saling pandang. Brengsek betul kupikir bapak ku, hilang laparku Teh. Keknya tubuhku tersusun dari amarah saja waktu itu." Lila menangis sambil marah! Badannya bergetar. Emang perempuan gak tahu malu, setelah menghancurkan acara keluarga orang lain dia malah ngobrol panjang sampai larut malam bukannya pulang."

"Singkat waktu, acara itu selesai kami pun pulang dari rumah Uwa. Di mobil aku bilang ke bapak
"Besok kalo mau mempermalukan diri gausa ajak-ajak aku dan keluargaku, Pak!" Bapak nyaut bilang "Mempermalukan apa? Tadi bapak undang Mbak itu dengan suaminya"
"Terus kenapa dia datang sendiri? Padahal jelas-jelas di rumahnya juga lagi ada acara? Kalo bapak mau ngundang, undang semua! Jangan perempuan jalang itu doang. Toh Uwa Punya makanan jauh lebih cukup untuk orang se kampung tadi" (andai perempuan itu punya otak, dia akan menolak undangan makan itu, setidaknya karena 2 hal: 1. Rasa hormat terhadap suaminya. 2. Menghormati keluarga oranglain). Namun sayang dia ibarat hewan gak tahu malu"

"Bapak ku diam aja teh, gak sama sekali terlihat bersalah apalagi minta maaf. Karena memang yang lain gak ada yang diundang!. Sedangkan ibu ku, seperti biasa hanya diam (menahan aja terus). Tak pernah mau mengurai permasalahan. Tak baik padahal menyimpannya sendirian. Tidak ada pelajaran", tutur Lila.

"Belum lama sejak acara itu, ku blokir media sosial perempuan itu dari akun bapak ku Teh dah gedekkkk aku Teh. Nah bapak ku tumben gak ada reaksi biasanya langsung nanya aku apa bukan yang blokir. Hari masih berjalan diam-diam an sampai hari ini tiba. Bapak juga sering marah-marah dan membentak ibu! Setan memang." Apapun Lila ucapkan, barangkali itu akan membuat amarahnya mereda sedangkan aku tahu selain ini, Lila tidak pernah terang-terangan mengumpat.

"Hari yang selalu aku khawatir kan, hari yang selalu membuat aku ketakutan, hari yang membuat tubuh ku bergetar, tangan dan kaki ku mengepal tak bisa dilepas. Hari kedua yang secara sadar aku ketahui lambat laun puncaknya amarah akan kukeluarkan. Tepat hari ini, pertengkaran terhebat ayah dan putrinya. Untuk pertama kali seumur hidup ku Teh. Bukan sebab apa-apa, Miris sekali ini terjadi bukan karena aku berbuat salah atas hidup atau mencederai nama baik keluarga, tapi karena perempuan sialan penggoda bapak milik ibu ku! Akhirnya aku bertengkar hebat!"

"Tadi bapak, menghancurkan hp android terbaru yang belum lama dibelinya, puncak kekesalan yang mungkin dia tahan selama seminggu (itulah kenapa dia gak nanya aku siapa yang nge blokir akun perempuan itu) hari ini dia ekspresikan amarahnya dengan mengambil marmer besi besar lalu membantingnya beberapa kali ke ponsel barunya. Makanya keramik rumahku sekarang pecah hancur berantakan. Hari ini bapak menghancurkan keduanya; hp dan keluarganya!"

"Kubiarkan saja. Padahal Ibu berusaha melerai bapak, kubilang dengan santai sambil masih menonton TV "Sudah bu biarkan saja, toh bapak bekerja... Kan gampang tinggal beli hp lebih baru".
Bapak ku bilang "Tuh sekalian aja gak usah di blokir, hancurkan aja sama hp nya!" Bapak ku pikir dengan menghancurkan hp itu bisa menghilangkan barang bukti, history chat dengan perempuan sialan itu.
Ku bilang, "Nih bapak mau hancurkan hp ku juga?" Biar bapak kira kami puas kalo bapak dengan heroik menghancurkan hp? Silahkan! Nih hancurkan."

"Teh, meskipun kuliahku jurusan Matematika, aku gangerti hukum tapi aku tahu gimana caranya mengamankan bukti-bukti bahwa bapak ku curang terhadap kami. Jadi aku menyimpannya lewat data g-drive. Jangankan hp, aku tiada pun itu bukti tidak akan hilang."

"Karena gatahan, aku nangis. Aku tahu bapak marah ke aku doang. (Saat itu hanya ada aku, ibu dan kakak ku di rumah. Adik ku lagi sekolah agama). Nah kakak dan adik ku gak tahu kelakuan bapak. Aku dan ibu pun yang tahu, tidak pernah membahasnya lebih jauh, aku takut ibu sedih apalagi terluka. Ibu juga mungkin gak mau kalo suaminya dipandang buruk oleh anak-anaknya. Ibu selalu menahan ini sendirian. Menyembunyikannya rapat-rapat. Dan tidak pernah mengadu ke orangtuanya tentang bagaimana bapak."

"Ada satu tempat buat ibu merefleksikan semuanya, kadang sampai menangis, yaitu ibu dari bapak ku Teh, nenek ku yang sudah beberapa tahun meninggal. Tempat curhat ibu. Tentu setelah nenek meninggal. Ibu hanya punya aku sebagai sedikit tempat bercerita. Itu pun jarang! Selain Tuhan ibu gak percaya siapa-siapa. Aku selalu meyakinkan ibu, kalo bapak tidak seperti yang orang duga. Ibu jangan khawatir "namanya laki-laki ya begitu, tak pernah puas dengan satu pasangan!". Hanya saja ada yang dilakukan terang-terangan, namun banyak yang diam-diam. Sembari aku terus ingatin bapak."

"Teh... Aku bilang ke bapak saat kami bertengkar hebat tadi, kalo ada apa-apa dengan hidupku (hidup atau mati), sukses atau belangsak, itu semua gara-gara bapak! Bapak yang sudah menghancurkan hidupku! Nyaris aku mau menamparnya tadi Teh sebab dia menyakiti aku secara terang-terangan dengan mempermalukan kami semua dan bermain-main dengan perempuan lain! Bahkan saat marah ku puncak Teh, aku menyesal untuk ucapan ku itu buat bapak. Aku gak mau satu pun kalimatku bisa menoreh luka dihatinya."

"Seburuk-buruknya dia tetap bapak ku. Terus aku bilang ke bapak bahwa, Demi Allah sampai aku mati aku gak mungkin melupakan ini. Bapak yang tidak pernah tidak aku hormati, aku sayangi, menghianatiku dan keluarganya hanya demi perempuan hina. Aku bilang ke bapak ku jika aku tidak menikah suatu kelak, itu karena aku melihat sosok laki-laki seperti bapak!
Aku minta dia berhadapan langsung denganku. Namun bapak mengelak, dan malah tiduran. Aku tahu persis kalo dia merasa salah, membuatku menangis gara-gara perempuan sialan."

Adzan maghrib pun berkumandang, ndak kerasa Lila menangis sudah tiga jam. Aku memeluknya lagi. Mengusap punggungnya. Melerai tangannya hingga tidak mengepal. Tak banyak yang bisa ku katakan. Apalagi semacam saran. Aku hanya akan menjadi tempat untuk Lila melerai sesak. Membagi isak. Membuatnya sedikit lega dengan mengamini semua umpatannya.

Saya sebenarnya mau Lila menginap saja, takut dia oleng saat perjalanan pulang, berkendara motor dengan penuh amarah jelas membuatku khawatir banyak-banyak. Tapi saat dipikir ulang, ndak baik jika ia menginap tanpa izin orangtua. Tawaran untuk mengantarkannya pulang dia sanggah dengan alasan tidak mau merepotkan. Akhirnya, saya antar Lila sampai ke depan, ku masukan coklat disaku jaketnya. Sambil ku godai Lila "Besok Teteh bawa marmer besi juga kalo ada yang membuat mu menangis lagi. Hati2 di jalan. Kasi tahu kalo dah sampai yak", dia tersenyum (jijik sepertinya) 😂

Apapun itu yang penting misi ku adalah saat Lila pulang dia harus berhenti menangis. Minimal saat diperjalanan. Saya takut bendungan air mata menghalangi penglihatannya, hingga dia celaka."

Pagi ini, sebelum saya menjalankan rutinitas WFH, saya melihat Lila dijalan mengantarkan adiknya ke sekolah. Matanya bengkak, apalagi yang membuatnya begitu? sudah pasti karena menangis semalaman. Dia klakson. Ku teriakan "nanti kita nyeblak"...

Selesai sudah kisah Lila, sedikit banyak tidak kujabarkan lewat tulisan, rasa nyeri yang lebih dalam biar jadi sumber kekuatan untuk Lila dan ibunya. Kenyataannya memang ini bukan kisah sedih baru yang mengejutkan, banyak Lila-Lila lain diluar kita mengalami drama serupa bahkan berakibat menghilangnya sebuah nyawa. Pengguguran bayi sebab perselingkuhan misalnya.

Lila adalah gambaran interpretasi perempuan menghadapi bermacam soal kehidupan, terlebih pria. Ibunya yang membuat ia kuat melahap nanar sendirian. Mengingatkan bahwa ujian Tuhan tidak mengenal perbedaan. Setiap dari kita diuji dengan kesengsaraan, pesakitan, kenikmatan hidup yang bervariasi.

Pesan untuk ku juga Lila dan perempuan lainnya, tentang sebuah pernikahan. Betapa pun paradoksnya... Mamah ana suatu waktu bilang "Kalau Teteh mau berkaca, berkacalah pada kaca yang ndak retak" begitu juga pernikahan.

Tasikmalaya, 9 Februari 2021

Willen En Weten


The same related on:

What do you think about cheating?
Why would someone cheat on a loyal partner?
Can a men ever be loyal again after cheating?
Why do you cheat on your boyfriend or girlfriend?
Why do people cheat on their partners?
Why it is that a women who is loyal and faithful, always get done wrong or cheated on?
Why is it morally wrong to cheat on your partner if your partner will never know?
Do loyal people cheat?
"I'm angry that my cheating ex-husband has remained loyal in his new relationship." Why didn't he do that while we were married?
Why do people cheat when you are loyal in every way possible?
Why did he cheat on me even after I was so loyal to him?
Why is it that you can be the most perfect loyal partner and still get in cheated on?
Why does a cheating husband Insist on denying his behavior and expact loyalty from his wife?
Do men cheat on the loyal ones and why?
Can someone really love their significant other if they cheat on him or her?
How do cheaters feel after they cheated on a loyal spouse?
Why do you think people cheat after promising to stay loyal?
Do all guys cheat? Is there such a thing as a faithful men that will never cheat?
Why do cheating men love loyal women?
Since cheating is so common now, should I risk being faithful as a young woman in her 20s?

So, how to keep a man?

Without communication;
There is no realtionship.

Without respect;
There is no love.

Without trust;
There is no reason to continue?

Tasikmalaya; February 8, 2021

I've Had Enough...


Tulisan pertama di tahun 2021. Saya dedikasikan untuk mamah yang mengajariku cara mendengar dan appa yang membuatku menulis cerita-cerita.

Tahun Temaram

Januari gerbang awal penuh duka. Perlahan temaram tenggelamkan beribu upaya. Ya Tuhan, semoga Januari tidak menerus hujan musibah dan wabah. Apa yang lebih duka dari sebuah peristiwa bernama kehilangan?
Dua tahun yang dimulai dengan luapan. Terlalu banyak kehilangan; corona, banjir Jakarta-Kalimantan-Manado, gempa Sulawesi-Jabar, longsor Sukabumi, semburan lava gunung merapi-semeru atau wafatnya para alim ulama di setiap sudut negeri.

Diantara rentetan daftar kedukaan, saya ucapkan turut berduka cita atas musibah jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air SJ-182 PK-CLC (Jakarta-Pontianak). Do'a terbaik untuk seluruh awak dan penumpang pesawat yang masih dalam proses pencarian. Pula, semoga surga tanpa hisab untuk Syeikh Ali Jaber ulama penuh rasa cinta. Bersamaan dengan itu, hari ini saya genap men-dua-puluh-tiga. Maha besar Allah dengan segala kebaikan waktu dan isinya. Salah satunya sebab Appa.

My Favorite Human
Appa, one of my favorite human!. Saya nyaris tidak pernah merasakan mununggu senin sampai sabtu hanya untuk menyambut rindu untuk appa, sosok lelaki pembelajar yang hampir bisa mengerjakan segala hal. Sungguh jadi parameter kehadiran laki-laki setelahnya di bila-bila masa tiba dalam kehidupan. Sedari kecil meski appa beberapa kali kerja ke luar kota saya tidak pernah merasa ditinggalkan. Ajaib memang bagaimana cara Appa memantrai kami dengan treatment kanyaahnya. Kalau mamah kan memang selalu di rumah.

Malam minggu lalu, tidak ada rencana keluar untuk berpergian. Tapi, sore hari saya sempat bilang kalau ada senior semasa sekolah yang mau silaturahmi ke rumah setelah menahun ndak jumpa sebab jauh cari ilmu di negeri sebrang. Boleh tak? Biasanya Appa tanya mau apa? Siapa? Kali ini tidak. Cuma diam saja.

Tak lama kemudian, usai wiridan maghrib Appa bilang "Teteh ganti baju, malam mingguan hayu" tanpa menjawab ana langsung ganti baju 😂 mamah cuma senyam-senyum. Di jalan yang belum punya tujuan, ana terkejut dengan ucapannya, "Dari pada diapelin orang, mending sama bapak keluar jalan" banyak tangis haru yang ibu tidak tahu. Beliau juga yang mengajariku bagaimana menyembunyikannya rapat-rapat. Singkat waktu, setelah beli-beli, kongkow kami pulang jam 9.30 an di rumah dengan bakso kemot yang menggantung depan motor.

Perjalanan pengertian yang sungguh lama sejak saya mulai mengenal konsep bapak dalam perkembangan pengetahuan anak. Sama seperti bapak-bapak yang lain, Appa ingin membahagiakan keluarganya sampai memindah kaki jadi kepala kepala jadi kaki. Tapi, sama seperti Appa... ana ingin kelak hidup bersama lelaki yang menyenangkan orang lain tentu dengan dorongan dari dirinya sendiri bukan semata keharusan legitimasi agama atau negara sebagai kepala keluarga. Mengindahkan perjuangan.

Di Januari yang telah habis separuh... Ya Allah beri ana dan adik-adik waktu untuk bisa membahagiakan orangtua kami sedari dunia.

Merawat Cinta Sena
Dari setiap perayaan kelahiran, ajuan pertanyaan "ambisi, bagaimana ambisimu?" Lebih menarik ana rasa ketimbang harapan-harapan yang ada di kepala. Gantian membludak minta ditunaikan.
Prihal ambisi, sekarang hidup ndak terlalu ambis! (As like over achiever) Sedapetnya aja, hidup full time dreamer and part time achiever. Good enough is not enough. Sedikit ambisi bisa menghembuskan kapal ke layar, jika terlalu banyak bisa meyebabkan kapal tenggelam. Meskipun tetap saja menang ketagihan kalah penasaran, kadang saya merasa harus meminta maaf sebab itu~

Banyak cara manusia merawat cinta, banyak dengan kesetiaan, pendapatan, perhatian-pengertian, relasi kuasa saling menguntungkan, ketersediaan kehadiran, dan lebih banyak lainnya. Diantara kemuliaan cara manusia merawat cinta, kurawat cintaku dengan bekal mencintai Tuhan (iman) lagi tulisan. Abadi dalam karya (kehidupan). Without much argument. Verba Volant, Scripta Manent bahwa “Apa yang terkatakan akan segera lenyap, apa yang tertulis akan menjadi abadi." Setidaknya di catatan kehidupan masing-masing.

Suatu relasi nikmat dijalankan jika lahir dari Ikatan yang sah menurut agama dan negara.

2* Ain't Easy.
Di usia yang baru, semoga bertambah dewasa.
Di usia yang baru, semoga berlipat gembira.

Semoga tumbuh - menua dengan bijaksana.
Selamat ulang tahun, Sena.

2* ain't easy. You lose your friends, you make mistakes, you fall, you fail, you realise things, you hit reality, you lose yourself, you go through different phases of insecurity, loneliness and frustrations, you go through heart break. Thank you Allah, family, friends and everyone who loves me.

Tasikmalaya, 21 - 01 - 2021

Language Is Luxury And Loaded


Tsm, 23 December 2020

Someday, silence was something I was considering a lot, in terms of how we value and think about different types of communication and how being articulate or loud can glean its own rewards. You know... ‘language is luxury, loaded and sometimes it’s nice'. Thinking about it now, I’m in a place where I’ve also been thinking about how loaded and luxurious silence can be, how (as you said) I don’t want to romanticise silence, but still have this appreciation of silence and what it can hold and how it can create space?

I liked that we focused on how we wanted to feel/ offer others to feel, let ourselves be really simple and playful about it rather than conceptualising too hard. I think it helped that there was already an emphasis on silence and space with the brief we were given, that it’s not boring but also, it’s fine to be a bit boring...

I think similar about language and being articulate...  of course there’s value there.. At the same time I feel it’s way more socially impressive and attached to smartness than I wish it was maybe. It might be a bit of a tangent to go into this! LOL... I’ll just leave it at that thought for now.

I’m not sure how to directly relate this back to the piece but I guess it comes back to bigger ways of being with each other that are less pressured and transactional... Where you’re not being immediately held to whatever energy you bring and how you articulate yourself within a small window of interaction or whatever... and value not being contingent on what you give/unconditional posi vibes... that kind of thing. Thinking  where there’s room for silence and thought processing but also the less clear-cut wavy emotional and sensory processing... not sure I have the specific words for this... but it’s huge when there’s space for it.

It’s nice feeling reminded of these things through making this with you, not necessarily just for the piece but also personally.

Also yeah :) I think appreciating silence isn’t necessarily romanticising, and being calmly romantic about things can be okay and fun too... Was more thinking about the popular thing of glorifying ~the unsaid~ as if it represents some god-tier level of intimacy above communicating needs and feelings...

Lots of love and hope your feeling better.


Sena.

You’ve Made It This Far!


Enggak kerasa waktu bergulir kian cepat. Dahulu, atau sekarang setiap menuju malam kami selalu berebut peluk mamah sebelum terlelap. Di ruang tengah, mamah, appa, dan kedua adik laki-laki yang menggagalkan saya menjadi anak sematawayang tentunya, selalu menikmati waktu dengan santai kadang juga serius tergantung kebutuhan. 😂

Bahaya! Lama tinggal di rumah, ternyata menalikan keterikatan cinta lebih kuat dari biasanya. Cinta, sebagaimana pun membahagiakannya jangan lupa dengan satu celah pahit bernamakan perpisahan. Menjadi bara dalam sekam. Atau sesederhana menjadi aduh yang mengusik tenang kita. Begitupun cinta saya terhadap keluarga, saya sadar cepat atau lambat ini akan segera selesai, pergi dan membangun keluarga sendiri. Tanpa Mamah yang lebih besar dari sabar. Lebih lama dari selamanya.

I'm learning what I'm doing.
Lintang usia benar-benar menuntunku pada jauhnya perbedaan. Saat periode umur belasan, hidup penuh dengan ambisi-membabi-buta, dan bukan berarti sekarang enggak, tapi ya mungkin harus dikendalikan jadi lebih buta! Wahahahaha… (enggak lucu, Sen. Stop.) Jadi keinget ucapan teman "I think it’s clear why men are intimidated by us" wkwk
Yang pasti berhenti bertingkah kurang pertimbangan.

What do you expect?
Masa paling gamang... Menghirup kebebasan diam-diam, menghela nafas dalam-dalam. Orang-orang berubah, pun nilai-nilai. Buktinya, kita lebih banyak memahami pelajaran dari buku catatan kehidupan masing-masing, dari segala yang datang lalu hilang. Diri sendiri adalah satu-satunya kawan yang paling menyenangkan, heran kan! Bekawan kok sama diri sendiri, apa gak bosan? 🤣

Hanya, pada suatu hari—semoga kamu mengampuni pengungkapan perasaan yang berlebihan ini—Saya malu pada orang-orang yang telah berharap banyak pada saya, pada orang-orang yang pernah kagum pada sedikit pencapaian saya.

Pada titik tersebut, saya mulai memikirkan ulang motif-motif yang melatari ambisi dan pencapaian-pencapaian tersebut. Sebenarnya apa yang tengah saya cari? Dalam satu bagian di film dokumenter, sastrawan Seno Gumira Ajidarma dengan sinis nyeletuk:

“Kalau orang sekarang itu kan kalau ngomong, ‘kita harus bermimpi!’, ‘Bawalah mimpimu!’ Tapi impiannya apa sih? Paling-paling sukses, kan? Dan sukses itu, selalu harus ada kaya-nya, atau ada terkenalnya.” (Anak Sabiran: Di Balik Cahaya Gemerlapan)

Agak tertawa miris mendengarnya, sebab ada hari-hari dimana segala sesuatu berjalan dengan ringan dan begitu menyenangkan. Apapun terasa mungkin tak ada batas. Tapi tak sedikit juga hari-hari yang menyebalkan hidup terasa berkurang dengan urusan domestik yang tak ada habisnya, mimpi-mimpi terasa semakin jauh, juga omong kosong prihal cinta dari seorang lelaki!.

Kalau saja kesedihan itu seperti lelucon, mestinya kita hanya menangisinya sekali saja. Bukannya manusia tidak akan tertawa berkali-kali untuk lelucon yang sama?

Bila-bila masa tiba, kau temuiku di sudut itu lagi. Ah! Percayalah bahwa aku tak pernah beranjak pergi semenjak kesetiaan kujaga rapi.

Tasikmalaya, 23 December 2020

Memecah Kebisuan


Mau kah kamu mendengarkan?

Aku tidak tahu mana yang paling menyakitkan; antara sekuat mungkin bertahan atau seikhlas mungkin melepaskan.

Kita telah menyelami kedalaman lalu terombang-ambing di permukaan. Kita telah terbang membelah awan lalu terhempas jauh dari ketinggian. Namun hal-hal yang kita pikir jawaban justru selalu menghasilkan lain pertanyaan. Bahkan, kita diam tanpa jawaban. Saat hati bertanya apakah mati rasa adalah sebuah perasaan atau akhir segala pengharapan?

Akhirnya kau duduk berduka dan membiarkan dirimu sebatang kara (lagi). Menutup mulut dengan linangan air mata karena merasa sudah terlalu banyak berbicara hingga percuma bersuara.

Tak ada kalah atau menang. Kau tidak lemah ataupun terbuang. Merelakan sungguh tidak semudah lisan.

Kejujuran menyelamatkan - Kau bilang "Ada atau tidak adanya kau itu tak berarti apa-apa". Menoreh luka, bahwa ternyata kehadiran ku tidak membantu mu apa-apa. Sekalimat menyakitkan.

Kejujuran menyelamatkan - menyelamatkan waktu kita. Kau bilang "Aku adalah tempat mu pulang" padahal kau tau aku benci tempat yang ramai. Sudah tak cukup tempat untuk ku disana. Kesendirian ku adalah untuk keselamatanmu.

Kau kembali bertanya dan terus bertanya berharap jatuh untuk kemudian menangis bersama-sama. Menerus mencari jawaban kesana kemari tapi tetap bungkam dan tentu tidak mengerti.
Larutlah!... dalam kerinduan tak bertuan.
Leburlah!... dalam kesedihan yang tidak beralasan.

Terakhir...

Silahkan abaikan ku lagi.
Sampai kau akan benar-benar mengerti,
bahwa pintu bisa terkunci dari dua sisi.

Tasikmalaya, 22 December 2020