Self-Talking 7


Isn't this just the most beautiful place within
Everywhere I go 
It’s your scent that follow
The miraculous birth of life after we throw
Away our fucked up strings and turn 'em into one beautiful song

After a chaos we‘ll be enlightened
After a chaos we‘re gonna be lifted

Go with it
Trust the process
Go hand in hand with the pain
Cos it facilitates you
Just like a wing only in an uglier lookin' fur
It will take you higher

The more you trust the devils
The faster they will take you to see the light

Good and bad are all the help
Paradox
The whispers of the sinners are one with the lord of the heavens

Open your eyes and surrender

Cos isn't this just the most beautiful place within
Everywhere I go it is your scent that follow
The miraculous birth of life after we throw
Away our fucked up strings and turn 'em into one long beautiful song

You are not ordinary, no.
You are a starlight, like an aurora you glow.

Now tell me isn't this just the most beautiful place
Isn't this just the most beautiful place
Isn't this just the most beautiful place..

Within.

Yogyakarta, 1 January 2020

Within


Ialah ia sepasang perasaan yang liar, tumbuh begitu saja di dada, tak perlu dekat untuk menatap, tak perlu tempat untuk menetap.
Memaksa hadir meski tak pernah tampak di depan mata.

Begitu kah kurang lebih yang kau rasa?
Ialah ingin yang saling menemukan, menjadikan nyata rasa yang ada, agar tak hanya tumbuh di dada tapi juga hadir berhadapan.

Ialah ingin yang saling menjemput, tapi apakah kita juga ikut arus kemudian hanyut?
Barangkali, kita hanya pikir yang mengarahkan karena sebuah kesempatan?
Sebatas hakikat manusia yang seharusnya berdua?

Kemenangan yang layak disuguhkan?
Atau memang kalkulasi transendental?
Ah begitu rupanya.
Jangan menyalahkan garis hidup yang mendekat hanya karena belum siap dan belum pernah bahkan kucoba.
Kau tidak pernah mau kehilangan apa-apa kan? Hak mu.

Kau tak perlu bertaruh apa-apa.
Terlebih mencemaskan aku ada dan bersama siapa. Tanggung jawabku.

Kehidupan akan tetap dijalankan dan baik-baik saja ada aku atau tidak. Bersama ku atau dia.
Apalagi masalah rindu; aku saja yang kalah. Ndak papa.

Sebab; Aku mungkin tak pernah bisa memastikan ada.
Apalagi menjanjikan 'selamanya'.
Sesampainya saja.

Yogyakarta, 1 Januari 2020

Self-Talking 6


I told him yesterday when we have troubles, disagreements, or communication issues, I feel sick. I so much want this type of continual unity in our relationship and sometimes no matter how long we try talk it out, how much we try to muscle through it, how much we desire to understand each other, we still can’t. 
But when we get to that point where we realize there’s no amount of human understanding that can bring us in unity, WE FALL BACK ON OUR FOUNDATION. We fall back on the ONE thing we can never disagree on. The ONE act we both agree to.

For the future, hopefully it's easier.

Yogyakarta, 11 November 2019

Self-Talking 5


Banyak sekali yang Engkau urus Ya Rabbi. Diantara hitungan, semoga senantiasa Engkau hadirkan cinta yang berlimpah dalam hati anak perempuan atas nama Sena Putri Safitri, keluarga dan keturunannya.
Luruskan raga; jiwa; dan ruh nya agar senantiasa berimbang menjalankan kehidupan sementara dan abadinya kelak dengan jalan minimal tidak kesusahan.
Terhadap kekuasaan dan penguasaan atas keinginan diri sendiri dan pencapaian dunia. Innalillahi wa Innalillahi raaji'un. Segala sesuatu yang berasal dari Mu maka akan kembali pula kepada Mu.

Yogyakarta, 3 November 2019

Mari Perpanjang Malam Shopya


Ada malam yang jatuh di kepala, memperpanjang waktu lebih lama, membiarkan mata terbuka, enggan terpejam.

Apa yang sedang kau ingat? Otakmu juga butuh istirahat, paling tidak jangan biarkan air matamu jatuh, kau aja benci melihat diri sendiri yang tak patuh.

Bagaimana kalau malam ini kita perpanjang lagi, dengan dialog-dialog; membahas tentang mimpi, mungkin banyak hal tentang yang baik-baik di masa yang akan datang, atau bercerita hal baik tentang melupakan.

Paling tidak nanti, kita sepakat untuk tidak saling mengkhawatirkan, jangan seenaknya membiarkan kenangan buruk hadir tanpa permisi.
Batas penyesalan?

Kubiarkan malam jatuh di kepala lebih lama, tapi tidak dengan air mata.
Berlebihan!.

Yogyakarta, 1 November 2019

Kita adalah hati-hati yang jernih.


Ialah ia sepasang perasaan yang liar, tumbuh begitu saja di dada, tak perlu dekat untuk menatap, tak perlu tempat untuk menetap.
Memaksa hadir meski tak pernah tampak di depan mata.
Begitu kah kurang lebih yang kau rasa?

Ialah ingin yang saling menemukan, menjadikan nyata rasa yang ada, agar tak hanya tumbuh di dada tapi juga hadir berhadapan.

Ialah ingin yang saling menjemput, tapi apakah kita juga ikut arus kemudian hanyut?

Barangkali, kita hanya pikir yang mengarahkan karena sebuah kesempatan?
Sebatas hakikat manusia yang seharusnya berdua?
Kemenangan yang layak disuguhkan?
Atau memang kalkulasi transendental?
Ah begitu rupanya.

Jangan menyalahkan garis hidup yang mendekat hanya karena belum siap dan belum pernah bahkan kucoba.

Kau tidak pernah mau kehilangan apa-apa kan? Hak mu.
Kau tak perlu bertaruh apa-apa.
Terlebih mencemaskan aku ada dan bersama siapa. Hak ku.

Kehidupan akan tetap dijalankan dan baik-baik saja ada aku atau tidak. Bersama ku atau dia.
Apalagi masalah rindu; aku saja yang kalah. Ndak papa.

Sebab; Aku mungkin tak pernah bisa memastikan kita
Aku mungkin tak pernah bisa memberi jawaban yang menenangkan dada

Yogyakarta, 31 November 2019

Tikas Diri


Segala bentuk cinta dalam pandangan Nietzsche adalah kegelapan. Ia tidak menentang segala bentuknya, yang ia tolak jenis cinta ‘keawaman’ dan tentu cinta yang bersifat politis. Karena menurutnya, "cinta takkan pernah paham tentang kasih sayang kecuali kebergantungan (perlu) dan kemelekatan." Suatu gelora yang mengisi dan selanjutnya merenggut eksistensi manusia. Cinta yang mampu merenggut manusia hanya akan membuat sang pecinta takkan mampu melihat yang lain kecuali cinta itu sendiri. Itu bodoh, lantas apa gunanya cinta jika kekasih tak terlihat dan tak bisa disaksikan?

Demikian halnya dalam politik bahwa cinta adalah penyatuan dengan orang-orang faqir, orang-orang yang lemah, dan pinggiran. Mencoba menyebarkan cinta agar seluruh lapisan masyarakat menjadi satu warna, sepakat kalau itu kedzoliman? Penderitaan yang dipaksa dipukul rata utuk diterima atas dasar cinta.

Nietzsche bilang, “siapa saja yang membuatmu ketakutan, lenyapkanlah cintamu padanya”. Artinya, memiliki cinta, sama saja meninggalkan nalar dan membuat seseorang tergila-gila dan menjadi gila. Oleh sebab itu cinta adalah sumber kegilaan agar sampai kepada kewarasan. Cinta adalah kewarasan yang berangkat dari kegilaan. Mengerti maksudnya?

Tuhan, cinta lebih agung dari kebergantungan dan kemelekatan. Cinta berakar dari syahwat dan gelora bukan? Begitulah seharusnya hubungan yang sejati dan terjadi secara alamiah dengan ilmiah. Cinta seperti ini akan menghasilkan berbagai ragam warna pengetahuan yang senada dengan perasaan. Berimbang sudah. Memaknai hakikat, sebagai sesuatu yang kita rayakan dan kita saksikan. Sedang syahwat merupakan dasar utama dalam menjalin hubungan dengan tabiat (nature). Maka jaga-lah.

Untuk Pria: Prihal keinginan untuk berkuasa (Will to power) pada hakikatnya bukan untuk kekuasaan agar puas semata, supaya bisa menyempurna sebagai binatang yang memiliki nalar. Engkaulah imam keluarga. Kemudian dari sana akan melahirkan manusia baru yakni manusia yang lebih kuat karena mendasarkan cintanya pada tabiat dan syahwat. Percayalah setiap perempuan memimpikan itu dekat atau lambat disadarinya.
Bukan pelarian diri, bukan jalan menuju diri sendiri.

Berbeda dengan Rumi, ia menitik beratkannya seperti 'rem', Rumi menyampaikan "Cinta sejati justru tidak mungkin diraih dengan syahwat". Sesuatu yang bukan perkara mudah dilukiskan. Begitu transenden. Unsur cinta yang paling utama justru terletak pada kegergantungan dan kemelekatan. Sebab itu cinta seperti ini takkan terwakilkan oleh kata-kata.

Beberapa orang yang mengenal saya mungkin tidak aneh bagi mereka, sering saya ucapkan: "Bagi Saya lebih tabu ngomongin cinta dari pada ngomongin BH di tempat umum". Filosofis sekali kalimat itu, karena jauh dari pengetahuan, pengalaman dan perasaan SAYA MALU ATAS TAFSIRAN APAPUN TENTANG CINTA. Dari bahasa, pena bahkan laju untuk melangkah.

Semacam karekteristik dari sifat Ilahiyah yang gemar manusia ekspresikan. Atau jatuh yang dinikmati sakitnya. Lebam yang mendewasakan. Menuntunnya di kehidupan yang Tuhan janjikan lebih baik.
Berbeda dengan Nietzsche, Rumi justru menempatkan cinta pada kebergantungan dan kemelekatan.

Perhatikan ucapannya;
"Cinta adalah lidah api,
Akan membakar segalanya kecuali Kekasih."
Api di dalam dirinya yang terus bergelora setiap saat dan memurnikan serta menyucikan cinta yang hadir di dalam dirinya. Jika cinta seperti ini yang hadir di dalam diri seseorang maka seluruh pandangannya telah menjadi milik Kekasih sehingga tak mampu lagi melihat yang lain kecuali sang Kekasih. Allah!. Siapa lagi.

Kata Rumi, ketenggelaman seseorang di dalam cinta Kekasih akan membantu dirinya bebas dari ke-aku-an sebab ke-aku-an dirinya menemukan kehidupan baru yakni kehidupan yang semakin transenden. Suatu bentuk kehidupan yang sudah tidak ditemukan lagi tanda-tanda keangkuhan, egoisme, peperangan, dan kebencian.

Diingatkannya dengan syair yang indah;
"Mengapa sejak awal cinta itu luka?
Agar memutuskan segala yang ada di luar."
Pesan untuk kita, bahwa cinta seperti ini hanya bisa terjadi jika objek cinta kita adalah Ilahi, bukan pada makhluk yang memiliki keterbatasan seperti manusia. Jika cinta adalah Ilahi sekaligus Kekasih maka tak ada jalan lain selain jalan kefanaan untuk menemukan cinta seperti ini.
Billahi Fii Sabililhaq Fastabiqul Khairat.

Yogyakarta, 7 Oktober 2019