Keberhargaan Waktu


"She’s a 10 but she spends most of her time laying in bed doing nothing. Life lately."
Why?
Dua April lalu, seorang adek tingkat mengirim pesan padaku, "Teteh... Rekomendasi buku terbaru yang teteh baca dong.... Eh ralat, cara nulis refleksi gimana teh? Aku udah baca semua blog teteh tapi belum ada lagi yang terbaru."

Adek tingkat ku bertanya tentang buku terbaru sebab ia ingin membaca. Dia sudah selesai membaca tulisanku di blog dan bilang tak ada lagi tulisan baru yang bisa dibaca. Ia orang kesekian yang mengeluh, kenapa tidak rutin upload tulisan lagi? Dan sebetulnya ndak cuma di blog, di platform lain misal YouTube beberapa orang minta konten podcast terbaru. Tapi apa daya, hidup kerap membuat ku terlena. Saat ini aku sangat suka menghabiskan waktu setiap saat (meski kadang tidak produktif) dengan suamiku ketimbang menulis, barangkali besok atau tulat.

Menulis bagiku guna melancarkan pikiran. Entah mencatat kekecewaan, mengurai kebahagiaan atau mengambil pelajaran berharga dari perjalanan laku hidup manusia lain. Biasanya, jika hidup adem ayem, lancar jaya, tak banyak tulisan yang dapat kubagi. Berbalik, jika pikiran ruwet, hati kegores, muncul tulisan baru sebagai refleksi. Jelas hidupku tidak mungkin mulus-mulus saja, banyak kejadian yang ku notice tapi aku jarang menulis, sehingga aku berkesimpulan bahwa aku malas menulis. 😂

Sedangkan, tulisan terbaik itu ya tulisan yang selesai! Tunggu, emang kamu masih ingat caranya menulis? Hati-hati lho, kiamat kecil seorang penulis adalah saat ia bingung harus mulai meruntut ide dari mana? Parahnya adalah kamu lupa bagaimana caranya. Bukan soal tulisan rapi atau berantakan. Valuable atau doesn't make sense. Sing penting rampung wes!

Keberhargaan waktu
2023 sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, akan menjadi tahapan selanjutnya dari proses pendewasaan. Pentingnya memelihara harapan dan merangkul memori-memori yang baik atau buruk, yang indah atau memedihkan. Menyoal waktu, ada dua hal yang keterkaitan dengannya: being and time. Maknanya ialah keberadaan dan waktu. Sepenuhnya jiwa kita hadir dalam setiap waktu yang kita jalani.

Saat masih gadis ibu ku bilang begini, "Teteh... perkawinan itu gerbang kehidupan" (bagi mereka yang memutuskan untuk menikah). Kenapa begitu? Sebab jika kamu menikah dengan orang yang tepat maka hidup akan terasa amat cepat. Namun, sebaliknya jika salah pilih orang maka setiap harinya adalah musibah. Dan betul lah, belakangan ini tak terasa tetiba sudah lima bulan saja melewati masa-masa sebagai pasutri. Rasanya masih seperti 2018 silam, berkawan saat sesama menjadi pimpinan bidang keilmuan cabang IMM AR-fakhruddin Kota Yogyakarta. Konsep being and time bagiku setelah menikah tak lain ya suamiku.

Saya tidak sedang membual, saya bahagia dan bersyukur tiap kali Akmal mendaratkan ciumannya ke jidat sebelum tidur, memeluk dan berterima kasih untuk apa-apa yang setiap hari ia terima dariku sebagai istri. Ditengah pasutri lain yang sedang menjalani Long Distance Marriage, saya paham betul beratnya perjuangan mereka. Saya harap juga Akmal bersabar atas tanggung jawab baru yang ia pikul seberat-beratnya sebagai suami. Fiddunya wal akhirah. 

Diantara malam-malam ramadhan, hampir setengahnya kami begadang usai tarawih dengan nugas di Belandongan tercinta, pulang ke rumah jam 1 malam, tak ku turuti rasa kantuk langsung gaskeun masak ayam opor, sayur dan menu lainnya untuk santapan sahur (harus sudah selesai jam 3am). Sat set sat set gini mah dah bisa adu skill ama peserta Galeri Masterchef  RCTI nih, senggol dong!

Gimana kagak, tempaannya nyaris 3x sehari selama 5 bulan 😆 positifnya semakin tajam skill memasak ku, konsekuensinya semakin bertambah juga pekerjaan rumahku sebagai manusia. Selesai urusan diluar (publik) dan berhasil merawat keluarga di dalam (domestik) sebagai istri. 

Berhasil yang ku maksud adalah berhasil melakukan yang terbaik yang ku mau, menyediakan masakan sebagai salah satu  bahasa cinta ku untuk suami. Bukan dalam konteks patriarkis (bias gender bahwa harus melulu perempuan yang memasak.) Meskipun, unconscious bias bisa terjadi dimana saja, be the change you want to be. Normalisasikan bahwa peran tidak dibatasi gender tertentu. Intinya, support each other sesuai minat bakat masing-masing.  Kebetulannya, kami typical pasangan yang suka banget masakan rumahan dan lebih nyaman makan di rumah, meski sering juga makan di luar atau sesekali GoFood. Fleksibel.

Bagaimana puasa mu?
Ramadhan sebagai Syahrut Tarbiyah artinya puasa sebagai bulan pendidikan. Mendidik kita untuk semakin memelihara ikhlas, taat dan taqwa. Sifat Zuhud. Bersabar atas godaan dan bersyukur atas nikmat berbuka. Pertanyaan seperti, "Bagaimana puasa mu?" Jelas berbanding lurus dengan tindak-tanduk kita sebagai entitas hamba Allah yang berlomba mendapat Rahmat-Nya dengan beragam ibadah yang dilakukan.

Dalam kitab-kitab sufistiknya, Rumi menyebut puasa itu sebagai atash atau api. Maka sudahkah ia menjadi api yang membakar nafsu dan keinginan duniawi? Ia menyebut puasa juga sebagai jamuan rohani, maka sudahkah cukup asupan gizi yang dibutuhkan jiwa guna menajamkan spiritual? Rasa-rasanya masih jauh tercapai.

Sementara, ramadhan kiranya akan bergegas pergi kurang dari seminggu sudah hari raya. Puasa sebagai salah satu arkanu al islam al khamsah (unsur-unsur sakral dalam Islam), posisi ke tiga setelah dua kalimat syahadat dan sholat lima waktu. Apakah sejatinya kita bisa "menang" di hari yang Fitri nanti? Menang memaknai Dasein sebagai upaya merawat eksistensi (ibadah) dengan menikmati setiap momentumnya? Bukan rutinitas belaka. 

Dalam filsafat barat, Heidegger menyebutnya dengan “Kemewaktuan Dasein” (Dasein yang menyadari waktu dan keberadaannya). Tidak berlalu begitu saja, momentum kosong tanpa makna.

Sialnya, kebanyakan dari kita menjadi Das Man, artinya menjadi manusia yang terjebak dalam rutinitas keseharian yang banal. Ya gitu-gitu aja, disitu-disitu aja ruang hidupnya, tidak ada yang istimewa, tidak menikmati Ramadhan sebagai bulan pendidikan yang berarti - terlalu sibuk mengagendakan berbuka dengan apa, dimana, sama siapa, dan baju apa yang bagus dipake buat Lebaran.

Penghayatan soal waktu, bukan tafsirannya secara objektif seperti pagi, siang, sore, malam, atau pukul 1-24. Tapi, konstruksi subjektif yang berkaitan dengan kesadaran kita dalam bereksistensi. Misalnya, apakah nikmat ibadah mu bertambah ketika shalat tarawih di mesjid? Apakah tadarus mu lebih bermakna jika khatam 30 juz selama sebulan penuh? Yashhhh ini soal kemewaktuan. Bukan waktu, ruang atau tempat. Waktu yang benar-benar bermakna kita sadari dan rasakan. Memorable.

Waktu yang bertumpu pada suatu kesadaran yang saling berkelindan. Tidak sekadar sadar dimana kita beribadah, bersama siapa dan seberapa sering (kuantitas ibadah) kita namun kesadaran bahwa kualitas ibadah setiap waktunya itu sangat berharga. Hal tersebutlah yang Heidegger katakan sebagai "kesadaran eksistensial". Sebetulnya, dalam beberapa hal keselarasan Islam (peradaban timur) dan pemikiran barat itu kian terasa, kesadaran eksistensial barat itu muaranya adalah istiqomah (dasein=kualitas ibadah). Berbeda dengan istimrar (das men= kuantitas ibadah).

Sebagai halnya ada saat untuk mengucap syukur, memuliakan Tuhan, dan memanjatkan permohonan, tiap ritual keagamaan juga menyediakan waktu dan ruang untuk terus mengasah keihsanan (berbuat baik) dan ketaqwaan (menjaga diri).

Terakhir, may you cry tears of deep gratitude and love towards Him in the depths of the night, and may you see His bounties and His Mercy with every breath you take. May you be chosen to witness Laylatul Qadr, may your name be written as residents of the highest of Jannah and most of all, may Allah SWT accept all of your deeds, forgive all of your sins and be pleased with you!

With all my love and gratitude,
Sena.

Yogyakarta, 15 April 2023

The Importance of Silence


Cheers to many beautiful years ahead!
and
HAPPY BIRTHDAY, ME!

Guezzz.. hallo! I pray you have been well and that you have transitioned into 2023 as gently and swiftly as Allah wills. That sacred moment when everything is still and all you hear is your breath. When nothing is in a rush and your heartbeat steadies. When it is just you and Allah SWT. If I can experience this beautiful pause in my day, even if it's just for one minute, where I do not have to say anything, hear anything, or see anything that will pull me away from Him, I am most grateful. Because silence is a priceless blessing in this often-noisy world.

Many of us don't make space to do cool and good things because we are too busy planning our lives rigidly and too distracted chasing after things we thought we want, when in actual fact, we don't! This leaves us little to no space to pursue and do good things that our souls would actually thank us for.

Think about this:
How do we make space for beneficial knowledge if our minds are overfilled with superficial entertainment?
How do we make space to pursue our passions and hobbies if our time is packed with excuses and procrastination?
How do we make space for wealth if our hearts are crammed with ingratitude?
How do we make space for health if our bodies are stuffed with filth?
How do we make space for love if our thoughts are clogged with envy?
How do we make space for Allah, if our souls are only loaded with the Dunia?

The truth is... if we don't start clearing out the bad, it is hard to make space for the good. It is only the good that we do (our amal) that will stay and remain with us in the grave. Everything... everyone else, will go.

To unlock your full potential and achieve your greatest dreams, you need to take a step back and examine the kind of life you are living.

Questions to ask yourself before getting older:

1. WHERE DO I WANT TO BE IN THE NEXT ONE, FIVE, OR TEN YEARS?
It’s impossible to predict, but it’s essential to have a plan of where you want to be. Asking yourself this question allows you to set goals about what you want to achieve in your life.

2. Will I GET WHAT I WANT IF I CONTINUE DOING WHAT I AM DOING TODAY?
Remember, your future life is dependent on the things you do today. Asking yourself this question helps you identify the things in your life today that are wasting your time.

3. WHAT IS MY WHY?
Without knowing the “why” behind your goals and dreams, you minimize your chances of achieving your goals. You will face challenges that will make you feel like quitting. It becomes easy to quit without a clear picture of why you are going for that goal.

4. WHAT AM I GRATEFUL FOR?
Being grateful doesn’t mean stop trying.
It means we should count our blessings and appreciate the life we have today.
Gratitude is one of the keys to a happy life.

5. WHAT NICE THING CAN YOU DO FOR SOMEONE ELSE TODAY?
Even little things can make a big difference in someone's day.
- Give someone your spot in line, 
- Buy a co-worker his favorite morning drink, 
- Call your mother and mindfully listen to her tell you about her week.

6. WHAT ARE MY VALUES, AND AM I BEING TRUE TO THEM?
It’s important to have values that guide you. Know yourself, see your set of beliefs and ethical principles that guide your behavior. Your values are the essence of who you are.

7. HOW MUCH DO I WORRY ABOUT WHAT OTHERS THINK?
You can’t be at your best self if you’re constantly worried about what other people think of you.
You can never really know what’s in people’s heads, so instead of worrying about it, be your most confident self.

8. WHAT WOULD I DO IF I WASN’T AFRAID OF ANYTHING?
This question can have a very profound impact on your life. 
Fear holds so many people back from going for what they truly want. 
Pondering on this question helps you identify the things that truly matter to you.

9. WHAT WOULD I DO IF TODAY WERE MY LAST DAY?
Imagine today is your last day. 
Would you spend it mindlessly scrolling through Social Media?
No one knows when they’ll die. This means that today could very well be your last day on earth. Why waste it doing useless things?

10. WHY NOT?
We have been brainwashed by society that we need to follow the rules.
Following this path often leads to an average life. 
Sometimes, you need to go beyond the rules and stop playing it safe.

11. WHAT HAVE BEEN MY BIGGEST MISTAKES?
Your mistakes teach you valuable lessons which strengthen your character.
“The bigger the failure, the greater the lesson.”

12. IS MY SOCIAL CIRCLE INFLUENCING MY LIFE POSITIVELY?
Hang out with happy people.
Asking yourself this question allows you to evaluate the social circle you surround yourself with.
Are they people that challenge and encourage you to be a better version of yourself?

14. AM I GIVING THE PEOPLE I VALUE MOST ENOUGH TIME?
You should never be too busy with people who love and care for you. In the end, they are the only ones who matter.
People who spend more quality time with people they value tend to have higher happiness levels.

15. WHAT PART OF THIS SITUATION IS UNDER MY CONTROL?
This is a powerful question because very little is actually under our control.
It’s only by focusing on what you can control that you can actively move the needle.

The answers to these questions will:

- Change your life, 
- Give new meaning to your life,
- Open you up to new experiences,
- Help you tap your hidden potential and
- Help you determine whether your life is headed in the right direction.

However, whatever it may be this year I pray with all my heart that we will be more mindful and proactive in ensuring that we create and make space in our lives to do more good things.

A greatest gift from my dear husband from 1 week ago

Especially,
Dear my husband:
Stay longer in me, take roots.
Forever. My a keeper.
Semoga Allah sibakkan jalan keluar saat engkau dirundung kesukaran…
Allah tenangkan hatimu dari kesedihan yang engkau miliki diam-diam...
Farrij ‘an kulli makrūb…
I kiss your brow and your eyes,
Your dearwife.

Love and ever so grateful that I can still give space in this blog to you,
Sena.

Kaliurang, 21 Januari 2023

Polar Harapan

 

"Tahun baruan nanti sama siapa?"

Hallo! Kalian apa kabar? Tiga bulan tidak bersua yaaaaa. Yes I know, I miss you too a lot!. 😁 Semoga kalian senantiasa sehat dan bahagia yaa.

Jari-jari yang baru siuman

Entah sebab malas, sibuk, tidak ada gairah membagi catatan personal, tulisan-tulisan mengendap hanya dalam draft blog dari September lalu. Tapi itu tidaklah penting, yang penting aku come back gais...

Aku memulai tulisan ini di sebuah tempat ngopi kesukaan kami, namanya Kopi Blandongan. Sering sekali aku dan suami menghabiskan waktu disini; sekedar membaca, menulis seperti hari ini, mengerjakan deadline, bercengkrama atau rapat dengan rekan organisasi.

Lain kali akan kutuliskan secara khusus nama "Blandongan" di blog ini, bukan hanya sebagai tempat ngopi tapi juga madrasah tempat belajar gimana jadi istrinya Muhammad Akmal Ahsan yang kucintai sepenuh hati~ eaaaaaaaakkk *Bucinsolehah

Menjelang malam tahun baru minggu depan, akan ada orang-orang di media sosial yang membagikan capaian dan refleksi hidup mereka sepanjang tahun 2022. Aku hanya berharap kamu tak merasa cemas, takut, menerus merasa was-was, atau perasaan useless lainnya. Aku ingin kamu tahu, kita bisa hidup, bisa sehat, dan tertawa lepas hingga sore ini adalah capaian tersendiri. 

As we know, kecemasan hanya akan melahirkan penyakit baru. Aku tahu kamu kompetitif, kamu ingin bekerja lebih baik, mencapai target, atau memperoleh uang sebanyak-banyaknya. Tapi hidup tidak melulu soal itu, nilai dirimu tidak diukur dari seberapa banyak pekerjaan yang bisa kamu lakukan dalam sehari. Aku berharap kamu yang merasa tak cukup, hari-harimu dipenuhi resah bagaimana memenuhi kebutuhan publik dan domestik akan dikuatkan untuk tetap tegak dan punya alasan untuk bisa merasa utuh bukan untuk orang lain tapi justru berbagi bersama orang lain. Semoga Januari dan setelahnya tidak se-sesak desember yaa.

Aku sudah menikah sekarang!

Melayarkan bahtera rumah tangga membutuhkan banyak sekali kepiawaian. Pada hari-hari panjang pasca menikah kadang aku menyaksikan kemarahan yang berusaha diredam, bergelut dengan perasaan yang berantakan, pasangan yang mendadak menyebalkan, bahkan barangkali konflik yang berkepanjangan - dan pahit, asam, kecut, hambar lainnya.

Biar bagaimanapun, meski bukan ekspektasi paripurna pasti berkelebat bayangan ingin dan akan seperti apa isi perkawinan kita kelak, namun pada saat dijalankan ndak sedikit yang meleset dari bayangan. Boleh sebab komunikasi yang tidak berjalan lancar, kebiasaan dua orang yang bertolak-belakang, celetukan yang mungkin menyinggung perasaan, cerita kita kadang tidak mendapati pendengarnya.

Begitu juga dengan pasangan kita, barangkali sering ia memilih untuk memendam cerita, melewatkan pagi hingga malam tanpa percakapan, enggan merefleksikan keresahan kepada pasangannya. Tidak mau membebani.

Dan itu tak apa... Fase baru=ujian baru=level hidup yang baru.
Makanya Muhammad Iqbal bilang di bukunya Psikologi Pernikahan, "pernikahan adalah proses bersama antar pasangan suami-istri dalam upaya saling memahami sebagai konsekuensi bahwa mereka datang dari kultur yang berbeda." Dalam rumah tangga muda, setiap hari kita adalah pejuang adaptasi gaissss. Semangat sayang!

Overall, I'm so happy with him. How much I glade to have him. Setiap hari berlipat rasa cinta dan sayang untuk suamiku. Bertambah meski dia pulang terlambat, nyaris selalu lupa mematikan lampu dan menutup pintu kamar mandi, naro handuk sembarangan, bahkan bertambah rasa cinta dan syukur ku saat suamiku tergeletak tidak berbaju di tengah rumah sambil main hp dan useless. Pokoknya menjadikan rumah sebagai baiti jannati. 😘

Menjajaki bulan ke-tiga, my dear husband jauh lebih adaptif. Sekarang dia jadi lebih multitasking (berusaha membantah stereotypes kalau laki-laki hanya bisa fokus mengerjakan satu pekerjaan saja - tidak bisa berbarengan). Misalnya, sekarang dia bisa sambil menulis atau WFH sambil merespon ocehanku. Mencuci piring sambil masak air. Atau dengan besar hati memahami apa yang bahkan belum ku sampaikan. Kemajuan yang pesat!

Hormat ku untuk setiap pria yang sudah berlelah-lelah mencari nafkah nan berkah, namun pulang ke rumah masih dengan senyum yang ramah, cinta dan kasih sayang yang tumpah ruah.

Sayang... satu dari berkatku yang luar biasa di masa sekarang adalah mampu menemani langkahmu. Bersamamu tak ada yang sia-sia - kita berjalan dalam derai tawa dan air mata. Semoga sehidup sesurga. Aamiin.

NEW YEAR, NEW PHONE ehh NEW HOPE 🤣

With all my love and prayers,

Sena.

Yogyakarta, 27 Desember 2022

Tasikmalaya


Thank you, August!
Cinta dan personanya jika tidak membawa ku pada seindah-indahnya perjalanan, ia telah membawa ku pada sebaik-baiknya pelajaran.

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ الْعَلِيِّ اْلعَظِيْمِ.
وَاَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِّنِّيْ ەۚ وَلِتُصْنَعَ عَلٰى عَيْنِيْ ۘ

Keping Lain Jiwaku


Jiwa...
Pada akhirnya, peranmu ialah tempat pulang setenangnya.
Tanpa kekasih tanpa keluarga.
Kamu bisa mencipta segalanya disana.
Biarkan orang berlalu-lalang diluar saja.

Jiwa;
Selalu memelukmu lebih lama dari sengaja.
Bersetia hadir menguatkan mu penuh cinta.
Senantiasa mendoakanmu sedalamnya.
Tidak mencari hanya saat perlu saja.
Mustahil pergi meski kau usir jua.

Yaa Rabbi...
Engkaulah yang ubahnya bebatuan menjadi berlian: ubahlah aku.
Engkaulah yang mengubah malam gelap menjadi terang: senangkanlah hatiku.
Engkaulah Maha Pemelihara kehidupan: sembuhkanlah luka ku. 

Mata yang terbuka;
Hati yang tertata;
Kesadaran yang sempurna.

Aku hari mu;
Kau malam ku;
Nyalar menyelimutiku.

Pada setiap tulisanku, terdapat satu keping jiwaku.
Pesakitan membawamu dalam sujudmu.
Bayangkan, Tuhan mengusap kepala mu sambil berkata:
"Coba lagi, kali ini bersamaKu"

Berbahagialah jiwa;
meski cara milik mu jauh lebih sederhana.
Semoga engkau selalu raya.

Love and prayers,

Sena.

Tasikmalaya, 3 Juli 2022

KAFA'AH (Ikhtiar Kesepadanan Jodoh)


"Apapun yang menjadi takdirmu, pasti akan mencari jalannya sendiri untuk menemukanmu." - Ali bin Abi Thalib

Setiap dari kita adalah pemeran utama dalam film masing-masing. Dan setiap dari kita juga merupakan figuran bagi tiap-tiap kisah hidup orang lain. Kelak, orang lain akan memberi kesaksian pasca kematian kita, soal bagaimana hidup dihabiskan atau nilai-nilai hidup yang bagaimana yang sudah kita wariskan. Adakah? Apakah kita memerankan tokoh protagonis, antagonis atau tritagonis. Wallahualam bishawab. Saya jadi teringat mendiang salah satu guru bangsa, seorang cendekiawan muslim sekaligus agamawan Alm. Ahmad Syafii Maarif yang kita kenal dengan Buya Syafii Maarif. Alfatihah untuk beliau.

Konsep Kafa'ah

Pasti banyak pertanyaan di kepala kalian. Semacam, "Apasi sesungguhnya kafa'ah? Sepadan? Sekufu?", "Apakah hal demikian sifatnya dinamis atau tetap? Fakultatif atau mengikat?", "Apakah kesekufuan bisa di ikhtiar kan?".

Sepadan - artinya memiliki nilai (hidup) yang sama. Setara. Serasi, Sebanding dengan. Kesepadanan tidak ditentukan oleh suku, agama, kedudukan, pendidikan, kekayaan, status sosial, keturunan, bangsa, fisik dan sebagainya tapi pada "Khairunnas Anfa'uhum Linnas" (kemashlahatan, ketakwaan, menjadi anugrah seluas-luasnya di muka bumi sebagai khalifah). Pentingnya kesepadanan tak lain untuk menguatkan tauhid secara bersama-sama.
Sepasang - dimulai dari berdua bersama pasangan.

Empat perkara parameter memilih pasangan dalam islam:
1. Hartanya
2. Keturunannya
3. Parasnya
4. Agamanya

Hanya satu standar kafa'ah suami - istri yaitu sepadan yang dikehendaki oleh Allah. Tentu dari empat parameter diatas kita boleh memiliki karakteristik lain, katakanlah kecerdasan, keahlian, atau apapun nilai hidup sebagaimana selera dan standar mu. Catatannya, konsep sekufu manusia itu harus sejalan dengan sekufu menurut Allah. Sekufu yang ideal bagi setiap insan. "Menjadi versi terbaik diri masing-masing". Sepadan secara nilai; cara pandang, visi misi, serta cara hidup. Kesepadanan tidak diukur hanya dari kekayaan, pekerjaan, keturunan, rupa, iman, atau pendidikan. Sebagai contoh, nilai bagaimana menjadi manusia yang terdidik jauh melampaui pendidikan. Ini soal sikap - bagaimana kecerdasan membawa kita pada kebijaksanaan.

Begini:
- boleh kita ingin menikahi atau dinikahi oleh orang yang rupawan? Boleh. Dengan catatan dia harus baik dulu (berakhlak). Jika tidak, boleh jadi kelak dia akan berpaling dengan atau sebab parasnya.
- boleh kita ingin menikahi atau dinikahi oleh orang yang keturunannya ningrat atau mapan secara financial? Boleh. Asal, yang utama, dia harus baik dulu. Jika tidak, maka suatu saat mungkin dia mendapat dukungan untuk berbuat dzolim dari keturunannya dan harta yang membuatnya tidak memanusiakan mu sebagai perempuan - sebagai pasangan.

Nah, begitu juga untuk standar kesepadanan lainnya, semuanya boleh. Asal syaratnya, dia baik dulu. Agamawan yang baik - mereka yang tidak mungkin menindas menggunakan dalil-dalil agama (Ayatisasi). Melafalkan hafalan - lalu menerapkannya dalam konteks sehari-hari. Sholeh secara sosial, membawa spirit spiritual dalam laku keseharian. Pula, orang-orang yang berilmu lainnya, ilmu tidak menjamin adab yang baik dan adil. Baik itu = beradab. Ndak sedikit manusia berilmu yang culas, licik dan menipu.

Pernikahan yang kafa'ah

Pernikahan saya pikir tidak boleh melunturkan atau mencederai amanah kita sebagai khalifah fIl ard di muka bumi. Maka ketika perkawinan isinya mengganti tupoksi manusia, yang sejatinya "subjek" - subjek spiritual, subjek intelektual, subjek seksual kemudian beralih menjadi "objek" - objek seksual (perempuan dilihat sebagai alat pemuas; gairah), objek spiritual (taat yang membabi buta - diperbudak), objek intelektual (menjadikan perempuan sebagai tamu di ruang publik), objek fisik (menjadikan perempuan layaknya pajangan dan mesin reproduksi saja), berikut itu adalah pernikahan yang jahil! Naudzubillah.

Taat pada manusia itu tidak mutlak dan tetap. Kodrat manusia yang pertama itu hanya taat kepada Allah. Dengan konsep piramida: bagian atas yakni spiritual, sisi kiri adalah intelektual dan sisi kanan yaitu fisik. Jadilah manusia yang adil, sebab adil lebih dekat kepada takwa.

Pernikahan erat kaitannya dengan menjadikan perempuan sebagai hiasan. Perempuan harus cantik terus, muda terus, melahirkan banyak anak, serta menggairahkan. Demikianlah sejarah jahiliyah bangsa Arab dahulu. Padahal secara literal, tafsiran Ayat-ayat adil dalam Al-Quran tak lain adalah bermakna soal pemberdayaan perempuan. Konsep saling. Memiliki visi, misi, fondasi, yang sama untuk menjalankan sebaik-baiknya peran-peran kita sebagai manusia (perempuan dan laki-laki) di muka bumi.

Tujuan perkawinan dalam islam adalah untuk mendapatkan ketenangan jiwa, lahir dan batin bagi suami dan istri. (baca: suami dan istri. Bukan suami saja). Tercapainya sakinah - mawadah - warahmah bagi kalian berdua. Laki-laki dan perempuan. Bukan untuk mu, kebahagiaan laki-laki saja, tapi juga bukan bahagia milik perempuan doang.

Pilar pernikahan

Dalam menjalankan, merawat dan menjaga sakinah - mawadah - warahmah, kita perlu mendudukan diri bersama pasangan untuk berikhtiar mewujudkan kemashlahatan. Dengan prinsip:
1. Zawaj (ketenangan jiwa suami dan istri).
Dalam Al-Quran: Al Baqarah: 187, Ar Rum: 21.
2. Mitsaqan Ghalidlan (Janji kokoh; setia, komitmen).
Dalam Al-Quran: An Nisa: 21
3. Mu'asyarah Bil Maruf (Bergaul secara bermartabat - dengan akal dan moral).
Dalam Al-Quran: An Nisa: 19
4. Musyawarah (Tidak instruktif).
Dalam Al-Quran: Al-Baqarah: 233.
5. Taradlin (Saling ridho).
Dalam Al-Quran: Al-Baqarah: 233.

Ujung hidup kita tak lain ialah selalu berkaitan dengan proses. Sebuah ikhtiar. Bagimu laki-laki, bagiku perempuan. Mendapat jodoh, bergerak menyempurnakan akhlaq, meniscayakan musibah dan anugrah, menghendaki seluruh jalan ketentuan Tuhan.

Last but not least...

Dear Jodoh,

Konsiderasi untuk menentukan masa depan berdua, tidak terletak pada siapa ikut siapa, melainkan apa yang kemudian menjadi aspirasi hidup berdua, mana yang lebih konstruktif dan berpeluang, serta bagaimana cara yang paling strategis untuk berdua memperjuangkannya? Works as a unit. Saling berkolaborasi, saling berkontribusi di ruang domestik dan publik.

Perkawinan yang sekufu menurut ku adalah Tim yang teguh memegang komitmen yang kontinu ditengah gempuran dinamisasi. Perkawinan sama sekali bukan penghambaan. Jangan meng-iya-kan kesetaraan (kafa'ah) dalam ucapan tapi manipulatif dalam tindakan.

Kita tahu tidak ada manusia yang sempurna, begitu pun soal fantasi kebahagian dalam karier atau percintaan, kita kadang terlalu sibuk menghitung segala aspek yang melekat di diri pasangan, seberapa cocok dengan standar kualifikasi idealitas kita. Meski demikian, ana harap level cinta yang ku miliki ini tidak didorong oleh nafsu atau pun ego diri. Andai menjadi sepasang ialah misi kemanusiaan, maka yang akan selalu saya utamakan adalah tentang komitmen tanggung jawab serta perasaan cinta dan sayang yang berkepanjangan.

Konsep ideal, standarisasi, merupakan referensi citra materiil. Jangan sampai kita terjebak dalam penjara pikiran, hingga tidak sensitif pada hal-hal batin. Gagal mengenali diri sendiri, lantas gagal mengenali yang sejati. Jangan sampai begitu, kata Mbak Dewi.

Buat setiap anak muda yang hendak berjuang untuk pernikahan, baik yang sudah ada calonnya atau belum tetep semangat! Work in silence, sabar - ikhtiar lalu bertahan (setia) - "kalau uda jodoh gak akan kemana" itu undebatable. 😁 Bagi yang sudah menikah - semoga senantiasa samawa dunia akhirat 💝

Love and prayers,

Sena.

Tasikmalaya, 4 Juni 2022

My Liberation Notes


"Freedom is not a secret. It’s a practice."

Tadi malam, aku bermimpi jatuh!
Dikejar-kejar masa kecilku sendiri.
Waktu terjaga, Aku menemukan dua.
Lututku berdarah!

Ini mengingatkanku:
Suatu hari di usia sembilan belas tahun.
Dan satu tahun lalu sebelum sekarang.
Tubuhku jatuh tersandung bayanganku sendiri.

Ternyata Ibu ku benar;
"sesuatu tak mesti nyata untuk bisa melukai kita.”

Tidak mudah menerima kenyataan dirimu penuh lubang. Berapa besar kemungkinan lubang-lubang itu memberi tempat bagi burung-burung bersarang? Berapa besar kemungkinan kehadiran dirimu mengingatkanmu kepada ketidakhadiranmu?

Jika di suatu persimpangan, entah di mana, masa kecilmu duduk menangis karena tersesat, berapa besar kemungkinan kau masih mengenalinya? Berapa besar kemungkinan dia tidak bertambah sedih menyadari kau masa depannya? Berapa besar kemungkinan kau bisa tumbuh nan tangguh dari semua jawaban yang kau punya sekarang?

Tiga minggu kebelakang, Ana merasa banyak sekali melewatkan hal-hal yang (mungkin) sebenernya rugi jika ku lewatkan... Hal-hal kecil yang barangtentu menjadi "jeda" dari sekedar rutinitas kita sebagai manusia. Merasakan betul fungsi setiap indra dalam tubuh. Mempertebal sens of feel yang membedakan kita dengan artificial intelligence masa kini.

Ana selalu bekerja dan atau mengerjakan sesuatu menyesuaikan dengan waktu. Mengerjakan setiap pekerjaan tidak hanya tepat waktu tapi juga kadang sampai terburu-buru. Lebih cepat... Lebih cepat. Sialnya, gak cuma soal kerjaan! Ana merasa usia ini nyaris kehabisan waktu. (Gilssssss)

Mei, Ana tutup dengan membaca buku yang sungguh menggugah daya baca. The originals judulnya by Adam Grant. Buku yang berisi +-300 halaman tersebut Ana selesaikan 11 hari setiap sebelum tidur. Kemudian, ada satu moment yang (sekali lagi) baru ku sadari bahwa langkahku selalu cepat, semakin cepat dan fokus terhadap hal-hal yang ku genggam (responsibility) dan akan ku genggam berikutnya. Selalu seperti itu. (Mau deh sekali-kali jadi guling - lha kenapa guling si Seeenn!)

Moment yang Ana maksud itu tak lebih dari wangi aroma kopi yang ku seduh Senin pagi minggu lalu sebelum bekerja. Padahal biasanya juga begitu, tapi gak tahu kenapa pagi itu wangi aroma kopi yang khas seolah terapi yang menyadarkan saya, lalu menjadi bekal semangat menjalani hari sebagai manusia biasa.

Hal-hal yang ku tahu:

1. Thank you.

Ana mau berterima kasih kepada orang-orang yang sudah memberikan cinta dan kasihnya untuk ku. Di masa lalu, sekarang atau kalian yang selalu memilikinya tanpa pernah memberitahu ku. Thank you so much from the bottom of my heart. Ana juga minta maaf atas apapun yang tidak pernah terbalas. Satu dua nama muncul begitu saja di kepala.

Semoga kalian Tuhan limpahi banyak cinta 💝 Berbahagialah dengan panjang. Terima kasih telah hidup dengan sebaik yang bisa kamu lakukan.

Ada banyak rupa kiamat kecil. Kiamat tidak harus kerusakan alam, atau berakhirnya usia. Kadang ia berupa; Kebelet berak saat presentasi. Bertemu orang dijalan yang tidak mau kamu sapa. Atau kehilangan atensi dari seseorang yang pernah sangat dekat denganmu.

Dan kamu tahu - Hanya orang yang pernah kehilangan yang tahu rasanya kehilangan. Ada perasaan perih di dada kiri. Tapi ada yang lebih sesal dari pada kehilangan, yaitu berpisah dengan seseorang tanpa sempat dia membicarakan bagaimana perasaannya. (Meskipun bagiku, perpisahan enaknya ya sat set. Tapi ternyata tidak bagi seperempat manusia di bumi ini). Mereka lebih butuh banyak waktu. And it's okay dengan syarat perpisahan mu adalah perpisahan yang layak.

There’s a time you hurt someone you care about because you know what’s best for them and it’s not you. There are so many times in our lives that our hearts will break.

2. I love you.

Ku pikir setiap hubungan pasti punya konsekuensi yang sama. Katakanlah, komitmen. Sepasang, harus komit terhadap segala hal yang telah disepakati bersama sedari awal. Tidak boleh curang ataupun wanprestasi. Bagaimana jika itu terjadi? Pasti terjadi dalam hal-hal kecil atau yang lebih prinsipil. Jawabannya adalah, "atur-atur kalian aja lah enaknya gimana. Pake win-win solution."

Nyawa sebuah hubungan bagiku adalah keberpihakan. Berpihak hanya pada satu. Dari sanalah sepasang belajar prioritas membangun hubungan. Tidak bijak menurut ku hubungan yang di dalamnya terdapat intervensi yang lain. Bahkan keluarga. Sebab yang menjalankannya juga sepasang - kalo lebih dari Dua namanya jamaah. That's why, namanya Undang-undang Perkawinan, bukan Undang-undang kerja kelompok.

Apapun yang baik yang sedang kau cicil, disana juga Ridho ku bermuara. Apapun yang menjadi rintangan, berdua kita selesaikan. Dimanapun kelak kita tinggal, bersamamu saya bersemayam.

3. Yang kubaca

Dari perjalanan rumah tangga Chairil Anwar, kita bisa belajar bahwa rumah tangga bukan sebuah rumah logika tanpa logistik. Idealis boleh, asal jangan apatis. Apalagi sampai lupa kalau kebutuhan keluarga (anak dan atau istri) ndak bisa dipenuhi hanya lewat narasi-narasi di ruang hampa.

Appa Dan Guyonannya.

(Appa mau bilang begini nanti ke suami mu)

"Nak, mulai sekarang simpanlah foto istrimu di dompet. Dan setiap engkau bertemu dengan masalah di kehidupan setelah pernikahan ini, bukalah dompet dan lihatlah foto istrimu. InsyaAllah masalahmu akan terasa ringan."

"Hah? Kenapa begitu?" (Kutanggapi biasa aja)

"Seiring waktu, suami mu akan paham apa yang Appa bilang ni. Karena itu juga yang Appa lakukan dulu bahkan sampai sekarang. Masih menyimpan foto Mamahmu di dompet. Saat ada masalah besar melanda, misal kerjaan menumpuk, usaha (bisnis) gak berjalan, atau diamuk atasan, Appa langsung membuka dompet lalu melihat foto Mamahmu. Ajaib, setelah itu masalah Appa terasa ringan.

"Sebab?" (Ku tanya sedikit lebih penasaran)

"Karena bagi Appa tidak ada masalah yang lebih berat ketimbang dimusuhin orang yang ada di foto itu."

Gubraaaaakkkkk 🤣

Love and prayers,

Sena.

Tasikmalaya, 1 Juni 2022