Yang Menawan, Yang Memprovokasi Pemikiran


Perjalanan setiap kita itu sifatnya rahasia. Kalaupun kita sama-sama berjalan, perjalananmu bukanlah perjalananku. Apakah setiap pejalan adalah pengembara? Barangkali iya, tentu juga tidak. Setiap hari kita melangkah hanya untuk nunggu giliran: kapan hari-hari indahku tiba? Kenapa hal-hal baik tak kunjung datang? Kenapa yang membahagiakan cepat sekali berubah?. 
Pikiran-pikiran baru yang segar dan menggoda, sungguh aku sudah siap berkemas dan memasukan perbekalan. Kapan petualanganku kembali dimulai?. Sesulit apapun jangan membatalkan permohonan. Jangan jadi pemurung!

“Aku hanya ingin berbahagia”, menerus kau ucapkan. Tak jarang sesuatu yang sepele hadir dari ketakutan yang tak perlu. Kehilangan pekerjaan, putus cinta, kebutuhan rumah tangga, dan masih menjadi beban keluarga di usia yang sungguh tak lagi muda membuat banyak dari kita menjadi suka “ber-pergi-an”. Di satu sisi, hal ini membuat orang mendapati pelajaran, sisi lainnya membuat mereka tersesat dan sulit menemukan jalan keluar. Mereka menjadi pemilik pengalaman yang tidak menyenangkan. Berasa menghabiskan waktu dalam labirin belaka. 

Jika kamu penasaran, apa yang bisa kita lakukan untuk menemukan kebahagiaan? Coba mulai memberi nama pada setiap kebahagiaan yang kita inginkan. Aku berbahagia setiap dialog bersama suamiku, maka aku lebih banyak menyimak dan mendengarnya. Berarti nama kebahagianku adalah berselancar membaca setiap isu terkini pada beranda handphone ku. Andai pasanganku membuka obrolan dengan topik apapun, aku tahu dan menikmatinya. Coba lakukan dengan caramu.

Alih-alih didekap kekhawatiran, hidup adalah serangkaian pilihan-pilihan dengan konsekuensi yang menunggu. Kamu takut patah hati, maka jangan sesekali niat jatuh cinta. Dalam rupa-rupa hidup yang paradoksial, semoga kamu mujur dicintai orang yang kamu cintai. Sebab kita punya keterampilan untuk menjalani kehidupan, sudah selayaknya menghargai hidupmu. Uang, kesenangan, spiritualitas, keluarga dan Mirota hanya hidangan pembuka, lalu apa dan dimana letak kebahagiaan sejati? Apakah aku sanggup meraih kebahagiaan sejati? Kebahagiaan yang acap kali menjadi ukuran atau mencerminkan kesejahtraan individual.

Bertahun-tahun bersama filsafat, saat kegetiran hidup mendera, para filsuf pun tidak cukup berhasil meyakinkanku bahwa semua baik-baik saja. Menurut Marcus Aurelius, kebahagiaan adalah keberuntungan yang diberikan para dewa zaman dulu, sayangnya tidak semua orang beruntung dalam kehidupannya. Di zaman ini, pemikiran mulai bergeser “kebahagiaan tidak hanya didapatkan tapi kebahagiaan juga diciptakan”. Dan saya bersama jutaan orang modern lainnya, sudah berusaha. 

Arthur Schopenhauer, seorang filsuf Jerman penulis “Wisdom of Life” bilang bahwa kebahagiaan tidak hanya ada dalam diri kita tapi juga di luar sana. Atau lebih tepatnya, garis antara di luar sana dan di dalam sini tidaklah ditentukan setegas seperti yang kita kira. Banyak orang merasa bahwa mengutamakan yang di dalam lebih penting dari pada yang diluar dan yang lain berpikir bagian luar lebih harus didahulukan dari pada bagian dalam untuk kita bisa berbahagia. Padahal yang sebenarnya terjadi, kedua sisi ini berjalan bersama. Kita tidak bisa mendapat “di dalam sini”, kecuali kita mempunyai “di luar sana”. Dengan kata lain, dimana kita adalah sangat penting bagi siapa kita, untuk berbahagia.

Setelah ini semoga kamu sadar bahwa kita sudah terlalu lama hidup menggabungkan kebahagiaan dengan lingkungan, kebudayaan, niat, spiritualitas, geografi, dan moral-moral yang seolah ada. Moral membuat batasan seolah tidak boleh ada kebahagiaan dalam kemiskinan atau kedukaan. Menyimpan kebahagiaan seolah ada diatas atlas, kita bisa menemukannya jika kita memiliki peta. 

Tahukah kamu bahwa saking seriusnya orang mencari kebahagiaan dengan barbagai cara, seorang professor Belanda bernama Ruut Veenhoven: Bapak Riset Kebahagiaan dia mengelola sesuatu yang disebut database kebahagiaan dunia (World Database of Happines - WDH). Ini bukan lelucon, Veenhoven telah mengumpulkan ilmu pengetahuan, lokasi, alasan, orang, dan hal-hal diluar sana yang bisa membuat orang bahagia. Jika memang ada, peta jalan kebahagiaan diluar sana: peta kebahagiaan, maka Veenhoven ingin mengetahui, membuat kompilasinya lalu menyebarkannya sehingga tidak ada lagi orang yang mati dengan alasan mencari kebahagiaan.  

Perenungan tentang kebahagiaan tentu saja bukan hal baru. Orang Yunani dan Romawi Kuno telah banyak menyelaminya. Para filsuf memeras otak memikirkan pertanyaan-pertanyaan abadi, kemudian orang-orang yang berkulit lebih pucat yang jauh dari Yunani dan Romawi bergabung merenungkan dan mengemukakan pendapat tentang kebahagiaan, seperti: Kant, Nietzsche, Mill, Larry David, dan lainnya. Begitu juga dengan saya, disela-sela hidup dengan segala tuntutannya, saya dan suamiku banyak menghabiskan waktu di Blandongan (tempat ngopi) merenungkan dan menulis betapa banyak kesulitan hidup yang tidak mungkin dilepaskan. Seperti saat saya membuat catatan ini.

Selamat menyibukan diri dengan apa yang orang Prancis sebut, la chase au bonheur atau “Perburuan kebahagiaan”.
 
Yogyakarta, 21 Februari 2024

Marriage Life 4


Menginjak 1 tahun usia perkawinan, tidak ada perayaan spesial apalagi bermewah-mewahan hanya mengajak beberapa teman untuk melaksanakan pengajian kecil-kecilan di rumah.

Pengisi kajiannya pun Suami sendiri (biar hemat anggaran bahkan tidak ada anggaran) ya Ustadz @Akmal 🤣 Tuhan selalu punya jawaban atas segala persoalan. Yah... namanya juga pasutri newbie bisa hidup setiap hari tanpa hutang, kelaparan dan kehausan saja Alhamdulillah di tahun sekarang.

Bicara soal kebutuhan dan keinginan tidak mungkin ada habisnya begitu juga rumah tangga kami. Ada banyak sekali impian yang sedang kami upayakan (lewat perbuatan maupun doa). Kami ingin punya uang banyak, agar setiap tahun terhindar dari perasaan was-was harus membayar rumah kontrakan. Berkeliling ke berbagai tempat, berbagi kapan pun, ke siapa pun tanpa tedeng aling-aling. Membeli apapun tanpa perasaan tak enak hati. Dan berkurang - hilang serupa resah lainnya. Pokok e turah-turah!

Kendati realitasnya, masih "merepotkan" beberapa teman untuk membantu memasak misalnya atau orangtua dan mertua untuk beberapa hal. Sebagai sesama pasutri baru, temanku guyon, "Ya Tuhan, aku gak nyangka loh kalau rumah tangga pemula ternyata selucu (dan segetir) ini." Sembari tertawa, saya melihat nampak sekali gurat-gurat keraguan di wajah teman-teman kami yang belum menikah. 🤣 Yuk bisa yuk! Wkwk

Bersama @Akmal ketakutan berkurang, kebahagiaan bisa didapatkan kapan dan dimana saja.

Kepada Mamah dan Appa, Bapa dan Ibu, dan semua orang yang selalu bermurah hati dan rezeki terima kasih... 

Yogyakarta, 23 Oktober 2023

Marriage Life 3 (On The Anniversary of Our First Wedding)

(Catatan Kehidupan Sebuah Keluarga)

We loved each other in this house.

Not falling in love, but growing in love
Sayang, Have you ever heard the saying, "To be independent, you have to find the right person to be dependent to."

Seeing you bloom, made me realize that I can too. I didn’t fall in love with you. I grew into it. Instead of finding an ideal person that checked off all of my naive expectations, I realized that I held a rarer lens than that — a lens that allows you to see a person’s true form and still love them, just as the work in progress that they are. I saw a person with a valuable past, a rich and admirable present, and an exciting future. It was imperfect, it took practice, it was the most human kind of love. A kind of love with no end destination. Only constant growth. It was like slowly steeped tea that becomes more fragrant over time.
 
There was no grand realization that you and I were intensely kindred spirits. I don’t know when I started missing you. I can’t pinpoint the first time my gaze went soft for you and I started staring into your eyes a few seconds longer. And getting longer. I don’t know when your hair started to feel different in my hands. Or when you dance cutely, shirtless, passionately and especially touching you are always my favorite. I don't know when we transmitted to each other the passion and ambition of a new life.
 
I don’t know when I realized how much I enjoyed listening to you. I became enamored by the way your face would light up when you talked about the things you loved. Your eyes would get wide and you’d interrupt frequently. Your volume would increase. You’d excitedly fidget in your seat. Listening to you helped me learn about you, and I liked that it made you feel good to get those thoughts out. The more I learned, the more I felt my love grow, little by little, story by story.
I don’t know when I started to notice all of your awkward quirks, and when each one made my heart swell a little more everyday.
 
I don’t know when my love for you started to feel lush and overgrown. Wet and dewey. Like roots bursting through the bottom of a potted plant. Like a betel leaf plant, sprawling and strangling a stone wall. Protective like the shade of a tree. We don't know when we were able to let go of each other's ego. We patiently learn how to love without expectation. It teaches us how to be pure and present in the moment without distraction or disappointment. How can someone possibly disappoint you if you expect nothing from them? We never feel or assume that I know you best or that you understand me best, because we grow and evolve vis-à-vis each other being mirrors for each other. I see who you are today, and I get excited to see who you are in the future and so do I.
 
Learning from each other
“Pernikahan itu bukan untuk hubungan yang bertahan tapi bagaimana kita menikmati hubungan”
Seberapa banyakpun harta berlimpah, wajah pasangan yang rupawan, berketurunan, andai isi dari perkawinan kita tidak bahagia maka semuanya sia-sia. Rumah besar terasa dingin, kosong dan hampa. Maka berbahagialah, nikmati pasangan mu setiap harinya.

1. Berhenti saling menyalahkan (intropeksi diri).
Berhenti menuntut pasangan mengerti sedangkan kita tidak mengkoreksi diri, sedangkan kita tidak mudah untuk rendah hati dan mengucapkan “Sayang, maaf saya yang salah”. Mulai secara sadar genapi kewajiban masing-masing dan layani kebutuhan serta kemauan pasangan kita. Tanya pasangan, “Sayang, apa kamu berbahagia hidup bersamaku?”. Pernah ndak?
2. Saling menjadi teladan satu sama lain.
Jika pasanganmu terdapat kekurangan, maka do’akan lantas contohkan dengan perbuatan jangan malah ditinggalkan. Lakukan pemulihan dalam hubungan itu dengan mulai mencontohkan dalam laku keseharian, dari hal-hal kecil sampai bagian prinsipil, bukan gempuran tuntutan kepada pasangan.
3. Saling menghargai dan paham fungsi.
“Kasihilah istrimu seperti kamu mengasihi diri sendiri dan hendaklah istri menghormati suaminya”.
Berbicara yang baik dengan cara yang baik dan diwaktu yang baik kepada pasanganmu sebagai sesama khalifah fil ard supaya doa-doa kita tidak terhalang. Suami adalah sumber aktif penyedia bagi keluarga sehingga sampai pada tujuan bersama dunia-akhirat. Istri yang cakap ialah mahkota bagi suaminya, jangan menjadi istri yang ibarat penyakit - membusukan tulang suaminya. 

“الْـحَÙŠَاءُ Ù…ِÙ†َ الإيْÙ…َـان - Rasa malu itu sebagian dari iman.” Sungguh, rasa malu adalah pakaian sepasang suami istri yang melindungi dari segala hal yang keliru. “Malu adalah bagian dari iman dan iman itu ada di dalam surga” (HR. Tirmidzi).

Keindahan (rupawan) lahiriah mungkin membuat pasangan dan orang lain bangga, namun keindahan batiniah itu yang membuat pasangan mu betah. Nikmatilah pasanganmu, seumur hidupmu, itu bagian dari umurmu yang sebentar di muka bumi. Jangan sering melihat pasangan orang lain (pria atau wanita). Jangan sering melihat hal-hal yang haram. Sebab demikian, yang halal bagimu Allah cabut kenikmatannya. Setan itu jenius, sebelum menikah pasangan kita itu adalah yang paling ideal, namun setelah menikah kekasih orang itu terlihat istimewa. Begitu juga yang belum berpasangan, hati-hati terkadang "pasangan orang jauh lebih menantang" katanya. Padahal sama saja tergantung seberapa tebal rasa syukur mu padaNya. Percaya diri boleh, tapi tahu diri jauh lebih penting.

Sayang, happy anniversary yakk... so grateful for every second. I love you and we continue.

Bonus: Terimakasih buat tmn2 yang semalam meramaikan pengajian kecil2an plus games hadiah jutaan rupiah haha

Yogyakarta, 23 October 2023

Are You Emotionally Mature?


@coffeewaejogja
There’s a difference between being mature and being emotionally mature. So, what does it mean to be emotionally mature? when someone is emotionally mature they can manage their feelings in nearly any situation.  They possesses empathy for others  and often how to deescalate a conflict if necessary.  They're the person you go to when you have a tough issue you need to talk about. Sounds great, right?

Well... to help you get a grasp on your emotions, here are ways to become more emotionally mature. 
1. Identify your emotions
How can we get a grasp on our emotions if we don't first know what we're feeling. It might seem silly that you must identify your emotions, but before you get into a heated fight or start breaking down into a sob,  do you know what led you there? Every time you feel sad, angry, or empty, ask yourself why you felt that way. Being aware and understanding why you feel these things can help you manage your emotions. remind yourself that your feelings are valid but you don't have act on them. Stay aware of emotions.
2. Take your responsibility
Have you ever denied something just because you didn't want to admit you were wrong? sometimes reality can be hard to face but it's more mature to take responsibility for our actions instead of brushing them away. If we simply ignore that we were wrong during an argument  or don't take action on things that are our responsibilities, we can never learned and grow from our mistakes. Being aware, holding yourself accountable, recognizing you were wrong, and learning from your mistakes shows that you're emotionally mature. Not only that, next time you're in the same situation, you won't make the same mistake twice.
3. Find a role model
If you struggle with how quickly you react negatively in stressful situations, try looking toward someone you admire as a guide. What would they do? You don't wanna become your role model and lose yourself. You just wanna learn how they handle situations so well. Maybe they have a great work ethic that you admire and try it out. 
4. Learn to be open-minded
Emotionally mature people understand they don't have all the answers. That's why it's best to open our minds to other perspectives besides simply our own. We may have a strong opinion on certain subjects but it doesn't hurt to actively listen to another's opposing opinion instead of thinking about ways we can persuade them that they're wrong. It's best not to judge someone or something right away. If we learn to be open-minded even with the little things, we give ourselves the chance to try something new. 
5. Set Limits, establish boundaries, focus on solutions not problems.

You! Always check your own attitude too. It’s not always the world around you, sometimes you are the toxic person. Understand that you make mistakes and can hurt people. Apologize, unlearn and relearn, that's growth. Understand that there are things you need to work on, that's enlightenment, striving for continuous improvement, instead of faking perfection!

Yogyakarta, 13 July 2023

Marriage Life 2 (The Alpha Wife)


Ada satu momen dalam hidup, ketika realitas lebih baik daripada apa yang dibayangkan. Ialah perkawinan ku.

Namun, entahlah semua diuji berdasarkan waktu. Satu yang pasti saat ini, Akmal ku yang menjadi suamiku, adalah pria yang cukup bisa membuat rutinitas keseharian perkawinan tak terasa seperti "pengorbanan patriarki yang menjemukan". Sebelumnya, aku tidak akan tahu sebelum aku mencobanya. 

Akan selalu ada godaan diluar rumah, manusia yang lebih rupawan, lebih mapan, lebih seksi, lebih berdaya pikat. Tapi itu tak seberapa dibandingkan dengan memiliki pasangan yang sejati. Rekan satu team di domestik maupun publik. Untuk segala kejutan dalam hidup. Ditengah beragam hasrat yang berbeda, ada banyak cara untuk menjadi feminim dan maskulin dalam arti masing-masing dirimu.

Ada banyak sekali hal yang bisa membuatmu berdebar. Hal-hal apapun itu, senantiasa berubah. Kita semua tahu, hidup terdiri dari sejumlah pilihan. Dan ini adalah pilihan ku. Sangat tak terbayang, bagaimana masa depan tanpa suamiku. Karibku.

Jika aku tidak salah ingat, Betty Friedan yang mengatakan "kita bisa memiliki semuanya tapi tak bersamaan". Artinya berangsur sembari bersyukur. Lalu, saat aku melihat kehidupan ku secara keselurahan, segala hal yang telah kulakukan, semua orang yang pernah hadir membersamaiku, semua kenikmatan dan kegetiran yang aku minta atau terpaksa aku terima, tak lain bahwa aku bisa sangat sibuk menjalani kehidupan dalam satu masa.
Now... I am SO. DAMN. LUCKY.

Barangkali orang-orang disekitar ku pernah melihat "noda" dalam kehidupan ku, maka aku percaya bahwa setiap kesulitan semakin menguatkan. Kita sudah sampai sejauh ini dan jangan sampai kehilangan apapun.

Coba tebak! Siapa yang sering terjebak dalam sesuatu? Rutinitas, cinta, karier, etc. Terjebak dalam bahasa atau perilaku yang sesuai harapan atau sebaliknya. Adalah perempuan.

Pernah tidak kamu merasa? Mengecilkan diri mu sendiri. Menjadi tak terlalu percaya diri, menjadi tak terlalu mengintimidasi, menjadi tak terlalu berbahaya, dan menjadi tak terlalu asertif. Bagi sebagian orang, terlebih perempuan barangkali begitulah yang terjadi dalam pernikahan. Banyak yang merasa bahwa seolah dengan begitu kita layak dinikahi. Padahal, percayalah menekan jati diri kita adalah perilaku klasik yang tidak sehat bagi kesehatan hubungan. Dampaknya jelas, bisa berujung kemarahan, bisa mencari pelampiasan. Yeah, orang dewasa menyebutnya asimilasi. 

Asimilasi berarti beradaptasi (serta berkompromi) acap selalu menjadi win-win solutions atau jalan tengah untuk bertahan hidup ditengah masyarakat bahkan hubungan personal. Keluarga, lawan jenis juga teman dan tetangga. 

Kamu, apapun kemalangan atau perasaan yang sepantasnya tidak hadir sekali pun harus menghargai hal tersebut. Serta hormati kehadiran mereka dengan validitas penerimaan. Tentu saja tujuannya adalah untuk kembali ke jati diri. Jangan berpura-pura menjadi orang lain hanya agar kamu dicintai, dinikahi. Meski konsekuensinya itu membuat orang-orang di sekitar mu tidak nyaman.

So, apa kalian sudah menemukan yang ku maksud? Kita bertugas mencarinya. Jati diri dalam semua relasi. Hubungan seksual, pekerjaan, kekeluargaan dan hubungan transendenmu dengan Tuhan.
Semakin kamu cari, semakin sulit kamu temukan... Dari suara-suara itu yang mana yang sebetulnya dirimu. I'll miss you!

Love, happiness and prayers,

Sena.

Yogyakarta, 10 Juni 2023

Marriage Life 1 (Love is a drugs)

"Kebahagiaan rumah tangga is not about perfection, it's about connection."

I’m happy to share how I took what I learned from living my best life to connect the dots for the person I love. In fact, all I want to do is share what I’ve learned. Another update on my married life.

Love is a drugs
"Love is a drugs." Begitu kata orang-orang. Dopamin, oksitosin, adrenalin. Kita hanya bisa menikmatinya dengan perasaan yang saling. Bukan yang paling. Coba tutup matamu dan rasakan... (Siapa yang otakmu gambarkan?). Namun, kadang bagi sebagian orang hal ini hanya terjadi di masa lalu. Bagi sebagian yang lain, perasaan mabuk itu dimilikinya saat ini. Nyata. Versi dirimu yang lain yang hanya bisa kamu dan dia yang tahu. 

Sebetulnya, saya bingung bagaimana menyampaikan means of "Love is a drugs" dalam bahasa cinta. Namun bagiku, itu semacam perasaan "saat kau disembah di singgasanamu".

Cinta berwajah banyak. Sesekali ia berupa lelucon garing yang membuat mu merinding tapi membuat mu tetap tertawa terbahak-bahak. Hal-hal yang lebih banyak memberimu ketenangan. Seperti doa khutbah di hari Jum'at atau mencium tengkuk aroma tubuh pasangan mu. Lalu kamu merasa tenang-aman.

Cinta ialah perangai yang menunjukkan rapuhnya emosi dan lemahnya hatimu tanpanya. Sekaligus kekuatan bersama untuk sesama bertahan. Bagi temanku, barangkali cinta adalah "berantem malam hari seperti musuh bebuyutan tapi subuh hari bangun langsung keramasan." 😂🤣Berkali-kali menunggu bangun setelah terlelap. Love is a magical process.

It led me to a question I've been batting around in my head for years now and have recently been coming to close grips with through a number of personal experiences and interactions with others. When will good enough be good enough? You are innately valuable because you exist.

Good husband good life - Happy wife happy life!

My marriage is overall great!. We have our problems like everyone. Finances usually a big one. But we work through it as a team on everything. Even, we've only been married 7 months but if there is any advice I can give to someone or a couple who is having trouble in the marriage is make sure your suppose is your best friend. Have fun with them and above all else, tell the truth. 

John M. Gottman, psikolog dan peneliti hubungan mengatakan banyak faktor yang pasti berkorelasi bagaimana sebuah keluarga bisa stabil, bahagia dan langgeng. Dalam project penelitiannya yang disebut "Lab cinta", Gottman menemukan bahwa hubungan yang paling stabil dan bahagia dalam jangka panjang adalah ketika kita berbagi kekuasaan dengan pasangan. Saling menerima pengaruh. Pastikan rasa hormat kepada satu sama lain turut diikutsertakan pada saat mengambil keputusan. Seperti: memiliki anak, dimana akan tinggal, dll.

We didn't have much money, but we used to dream together. Especially, about education. He was himself an entire world I got to explore, there are still many places that have not been visited, before finally returning to the creator of life, Allah Ta'ala. But, heyyyy lots of sweet memories, no regrets. Or no big regrets. All love is yours!

Love and prayers,

Sena.

Yogyakarta, 31 May 2023

Keberhargaan Waktu


"She’s a 10 but she spends most of her time laying in bed doing nothing. Life lately."
Why?
Dua April lalu, seorang adek tingkat mengirim pesan padaku, "Teteh... Rekomendasi buku terbaru yang teteh baca dong.... Eh ralat, cara nulis refleksi gimana teh? Aku udah baca semua blog teteh tapi belum ada lagi yang terbaru."

Adek tingkat ku bertanya tentang buku terbaru sebab ia ingin membaca. Dia sudah selesai membaca tulisanku di blog dan bilang tak ada lagi tulisan baru yang bisa dibaca. Ia orang kesekian yang mengeluh, kenapa tidak rutin upload tulisan lagi? Dan sebetulnya ndak cuma di blog, di platform lain misal YouTube beberapa orang minta konten podcast terbaru. Tapi apa daya, hidup kerap membuat ku terlena. Saat ini aku sangat suka menghabiskan waktu setiap saat (meski kadang tidak produktif) dengan suamiku ketimbang menulis, barangkali besok atau tulat.

Menulis bagiku guna melancarkan pikiran. Entah mencatat kekecewaan, mengurai kebahagiaan atau mengambil pelajaran berharga dari perjalanan laku hidup manusia lain. Biasanya, jika hidup adem ayem, lancar jaya, tak banyak tulisan yang dapat kubagi. Berbalik, jika pikiran ruwet, hati kegores, muncul tulisan baru sebagai refleksi. Jelas hidupku tidak mungkin mulus-mulus saja, banyak kejadian yang ku notice tapi aku jarang menulis, sehingga aku berkesimpulan bahwa aku malas menulis. 😂

Sedangkan, tulisan terbaik itu ya tulisan yang selesai! Tunggu, emang kamu masih ingat caranya menulis? Hati-hati lho, kiamat kecil seorang penulis adalah saat ia bingung harus mulai meruntut ide dari mana? Parahnya adalah kamu lupa bagaimana caranya. Bukan soal tulisan rapi atau berantakan. Valuable atau doesn't make sense. Sing penting rampung wes!

Keberhargaan waktu
2023 sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, akan menjadi tahapan selanjutnya dari proses pendewasaan. Pentingnya memelihara harapan dan merangkul memori-memori yang baik atau buruk, yang indah atau memedihkan. Menyoal waktu, ada dua hal yang keterkaitan dengannya: being and time. Maknanya ialah keberadaan dan waktu. Sepenuhnya jiwa kita hadir dalam setiap waktu yang kita jalani.

Saat masih gadis ibu ku bilang begini, "Teteh... perkawinan itu gerbang kehidupan" (bagi mereka yang memutuskan untuk menikah). Kenapa begitu? Sebab jika kamu menikah dengan orang yang tepat maka hidup akan terasa amat cepat. Namun, sebaliknya jika salah pilih orang maka setiap harinya adalah musibah. Dan betul lah, belakangan ini tak terasa tetiba sudah lima bulan saja melewati masa-masa sebagai pasutri. Rasanya masih seperti 2018 silam, berkawan saat sesama menjadi pimpinan bidang keilmuan cabang IMM AR-fakhruddin Kota Yogyakarta. Konsep being and time bagiku setelah menikah tak lain ya suamiku.

Saya tidak sedang membual, saya bahagia dan bersyukur tiap kali Akmal mendaratkan ciumannya ke jidat sebelum tidur, memeluk dan berterima kasih untuk apa-apa yang setiap hari ia terima dariku sebagai istri. Ditengah pasutri lain yang sedang menjalani Long Distance Marriage, saya paham betul beratnya perjuangan mereka. Saya harap juga Akmal bersabar atas tanggung jawab baru yang ia pikul seberat-beratnya sebagai suami. Fiddunya wal akhirah. 

Diantara malam-malam ramadhan, hampir setengahnya kami begadang usai tarawih dengan nugas di Belandongan tercinta, pulang ke rumah jam 1 malam, tak ku turuti rasa kantuk langsung gaskeun masak ayam opor, sayur dan menu lainnya untuk santapan sahur (harus sudah selesai jam 3am). Sat set sat set gini mah dah bisa adu skill ama peserta Galeri Masterchef  RCTI nih, senggol dong!

Gimana kagak, tempaannya nyaris 3x sehari selama 5 bulan 😆 positifnya semakin tajam skill memasak ku, konsekuensinya semakin bertambah juga pekerjaan rumahku sebagai manusia. Selesai urusan diluar (publik) dan berhasil merawat keluarga di dalam (domestik) sebagai istri. 

Berhasil yang ku maksud adalah berhasil melakukan yang terbaik yang ku mau, menyediakan masakan sebagai salah satu  bahasa cinta ku untuk suami. Bukan dalam konteks patriarkis (bias gender bahwa harus melulu perempuan yang memasak.) Meskipun, unconscious bias bisa terjadi dimana saja, be the change you want to be. Normalisasikan bahwa peran tidak dibatasi gender tertentu. Intinya, support each other sesuai minat bakat masing-masing.  Kebetulannya, kami typical pasangan yang suka banget masakan rumahan dan lebih nyaman makan di rumah, meski sering juga makan di luar atau sesekali GoFood. Fleksibel.

Bagaimana puasa mu?
Ramadhan sebagai Syahrut Tarbiyah artinya puasa sebagai bulan pendidikan. Mendidik kita untuk semakin memelihara ikhlas, taat dan taqwa. Sifat Zuhud. Bersabar atas godaan dan bersyukur atas nikmat berbuka. Pertanyaan seperti, "Bagaimana puasa mu?" Jelas berbanding lurus dengan tindak-tanduk kita sebagai entitas hamba Allah yang berlomba mendapat Rahmat-Nya dengan beragam ibadah yang dilakukan.

Dalam kitab-kitab sufistiknya, Rumi menyebut puasa itu sebagai atash atau api. Maka sudahkah ia menjadi api yang membakar nafsu dan keinginan duniawi? Ia menyebut puasa juga sebagai jamuan rohani, maka sudahkah cukup asupan gizi yang dibutuhkan jiwa guna menajamkan spiritual? Rasa-rasanya masih jauh tercapai.

Sementara, ramadhan kiranya akan bergegas pergi kurang dari seminggu sudah hari raya. Puasa sebagai salah satu arkanu al islam al khamsah (unsur-unsur sakral dalam Islam), posisi ke tiga setelah dua kalimat syahadat dan sholat lima waktu. Apakah sejatinya kita bisa "menang" di hari yang Fitri nanti? Menang memaknai Dasein sebagai upaya merawat eksistensi (ibadah) dengan menikmati setiap momentumnya? Bukan rutinitas belaka. 

Dalam filsafat barat, Heidegger menyebutnya dengan “Kemewaktuan Dasein” (Dasein yang menyadari waktu dan keberadaannya). Tidak berlalu begitu saja, momentum kosong tanpa makna.

Sialnya, kebanyakan dari kita menjadi Das Man, artinya menjadi manusia yang terjebak dalam rutinitas keseharian yang banal. Ya gitu-gitu aja, disitu-disitu aja ruang hidupnya, tidak ada yang istimewa, tidak menikmati Ramadhan sebagai bulan pendidikan yang berarti - terlalu sibuk mengagendakan berbuka dengan apa, dimana, sama siapa, dan baju apa yang bagus dipake buat Lebaran.

Penghayatan soal waktu, bukan tafsirannya secara objektif seperti pagi, siang, sore, malam, atau pukul 1-24. Tapi, konstruksi subjektif yang berkaitan dengan kesadaran kita dalam bereksistensi. Misalnya, apakah nikmat ibadah mu bertambah ketika shalat tarawih di mesjid? Apakah tadarus mu lebih bermakna jika khatam 30 juz selama sebulan penuh? Yashhhh ini soal kemewaktuan. Bukan waktu, ruang atau tempat. Waktu yang benar-benar bermakna kita sadari dan rasakan. Memorable.

Waktu yang bertumpu pada suatu kesadaran yang saling berkelindan. Tidak sekadar sadar dimana kita beribadah, bersama siapa dan seberapa sering (kuantitas ibadah) kita namun kesadaran bahwa kualitas ibadah setiap waktunya itu sangat berharga. Hal tersebutlah yang Heidegger katakan sebagai "kesadaran eksistensial". Sebetulnya, dalam beberapa hal keselarasan Islam (peradaban timur) dan pemikiran barat itu kian terasa, kesadaran eksistensial barat itu muaranya adalah istiqomah (dasein=kualitas ibadah). Berbeda dengan istimrar (das men= kuantitas ibadah).

Sebagai halnya ada saat untuk mengucap syukur, memuliakan Tuhan, dan memanjatkan permohonan, tiap ritual keagamaan juga menyediakan waktu dan ruang untuk terus mengasah keihsanan (berbuat baik) dan ketaqwaan (menjaga diri).

Terakhir, may you cry tears of deep gratitude and love towards Him in the depths of the night, and may you see His bounties and His Mercy with every breath you take. May you be chosen to witness Laylatul Qadr, may your name be written as residents of the highest of Jannah and most of all, may Allah SWT accept all of your deeds, forgive all of your sins and be pleased with you!

With all my love and gratitude,
Sena.

Yogyakarta, 15 April 2023